Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

“Pemberontakan WagnerWagner” (Bagian 1)

Rusman

Rusman·28 Juni 2023·4 menit baca

Bagikan
“Pemberontakan Wagner” (Bagian 1)
Catatan Kecil Geopolitik
Siapapun orang, kelompok, golongan dan/atau bangsa, terutama kaum nasionalis —nasionalisme itu ‘baju’ semua bangsa— tatkala melihat ataupun mendengar pemberontakan Wagner Group, sebuah Private Military Company (PMC) alias tentara bayaran asal Rusia, niscaya nelangsa lagi gregeten. Betapa di tengah gemuruh peperangan hibrida (hybrid warfare) antara Rusia versus Barat lewat Ukraina sebagai medan tempur (proxy war)-nya, kelakuan PMC Wagner yang disewa Rusia terkait ‘operasi militer khusus’-nya Putin di Ukraina itu ibarat menikam dari sisi belakang. “Menggunting dalam lipatan.” Itulah narasi yang tampak di permukaan.
Betapa di luar dugaan serta menabrak kelaziman selama ini. Apapun dalih dan modus, atau entah isu yang melatari peristiwa tersebut, dunia tidak mau tahu. Pengkhianat! Ucap Putin dalam satu pidatonya. Padahal, Wagner Group merupakan paramiliter andalan Moskow dalam mendukung operasi militer khusus di Ukraina, terutama ketika mengusir pasukan Ukraina di wilayah Cremea, Donbass dan lain-lain.
Muncul stigma, selain Wagner melanggar komitmen, mencederai profesionalisme selaku tentara swasta (bayaran), dan tindakan Wagner mengepung Rostov (24/6), markas militer Rusia, bahkan sempat long march ke Moskow, namun gagal, merupakan bentuk pengkhianatan kepada bangsa dan negara Rusia.
Mengapa demikian?
Ketika kontrak telah diteken antara PMC Wagner – Dephan Rusia, secara hakiki Wagner sudah menjadi ‘bagian elemen’ dari Kepentingan Nasional Rusia, sebagaimana ia dulu disewa oleh Syria (2014), Libya (2016), dan disewa Mali guna memerangi kelompok separatis. Ini terlepas para anggota Wagner direkrut dari beragam latar belakang/dari berbagai negara.
Katakanlah, pengkhianatan Wagner, PMC yang didirikan oleh Yevgeny Prigozhin, kriminal kelas teri dan eks penjual hotdog. Itu sepintas masa lalu Prigozhin. Berbasis data dan jejak digital, bahwa faktor ‘jasa’ Putin, ia mampu bertransformasi dari penjual hotdog menjadi ‘panglima’ (pimpinan PMC Wagner). Maka sungguh tidak masuk akal bila Prigozhin ‘menikam’ mentor sekaligus tuan yang telah membesarkan dari keterpurukan masa lalu. Selain ujud dari pengkhianatan, juga durhaka. Tetapi, forget it. Kita tak membahas personal. Namun, menelaah sedikit peristiwa tersebut dari perspektif geopolitik guna melihat apa yang sesungguhnya terjadi, bukan hanya apa yang terjadi (di atas permukaan).
Dari sisi pandang geopolitik, sikap dan pemberontakan PMC Wagner sudah memasuki apa yang disebut frontier serta (dimensi) keamanan negara dan bangsa.
Ya, frontier merupakan batas imajiner dari dua negara. Poin intinya, karena adanya pengaruh asing dari seberang batas (boundary), akhirnya melemahkan pengaruh pusat terhadap daerah/wilayah; sedangkan keamanan negara dan bangsa merupakan peristiwa yang telah mengganggu keamanan serta membahayakan kedaulatan negara. Nah, dua teori/dimensi geopolitik di atas akan digunakan sebagai pisau bedah mengulas pemberontakan Wagner.
Putin bukanlah ahli tempur di medan perang terbuka. Ia memang tidak seperti Napoleon Bonaparte, misalnya, atau tak sama dengan Panglima Besar Sudirman, ataupun Jenderal Besar Nasution, ahli perang gerilya, dan lain-lain. Putin itu intellegent minded, mantan KGB di era Soviet tempo doeloe. Julukan paling pas terhadapnya adalah jago geopolitik. Perbandingannya, mungkin lebih mirip ke Adolf Hitler, atau Halford Mackinder, hanya berbeda pakem (filosofi) geopolitik. Kalau keduanya (Hitler dan Mackinder) cenderung mengamalkan geopolitik ofensif melalui ‘teori pembenar’, sedangkan Putin terlihat soft. geopolitik defensif. Lebih condong pengamalan teori ‘berdikari’-nya Bung Karno.
Munculnya pemberontakan Wagner, tidak langsung disikapi secara militer oleh Putin. Namun, ia memainkan strategi geopolitik dimana unsur hard power dan smart power ada di dalamnya. Dalam geopolitik, apa yang dilakukan Wagner telah merusak 2 (dua) dimensi Geopolitik Rusia seperti diulas sekilas di atas, yakni 1) keamanan negara dan bangsa, dan 2) frontier. Memang belum merambah ke dimensi inti (living space atau lebensraum) dalam geopolitik, tetapi dua dimensi tersebut cukup rawan bila dibiarkan berlarut, sebab akan menebal, melebar serta meluas, dan gilirannya dapat mengguncang kedaulatan negara. Mirip Sipadan dan Ligitan. Pembiaran adanya frontier oleh pusat, gilirannya menebal, meluas dan akhirnya dua pulau tersebut pun lepas dari NKRI.
Kalau dari dimensi keamanan negara dan bangsa, sudah jelas, tindakan Wagner mengganggu stabilitas keamanan dan kedaulatan Rusia. Sehingga beberapa kedutaan asing di Rusia termasuk Indonesia, telah mengeluarkan himbauan kepada warganya untuk tidak keluar rumah jika tak ada keperluan mendesak. Nah, pada dimensi frontier —melemahnya pengaruh pusat di wilayah akibat pengarus asing— ini yang kudu segera ditangani secara seksama, bahkan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Langkah cerdas Putin mengisolasi PMC Wagner ke Belarus, negeri tetangga pro Rusia, cukup efektif dan jitu. Kenapa? Sebab, apabila Wagner diberi ruang di Rusia, ataupun dibiarkan berkeliaran di Doneth dan Dombass —wilayah Ukraina yang telah masuk Rusia— maka frontier tersebut bisa menebal, melebar, lalu meluas. Rawan.
Jadi, langkah Putin mengisolasi PMC Wagner ke Belarus merupakan langkah smart lagi akurat. Selain menghindari pertumpahan darah di internal, juga menghindari meluasnya frontier pada teritori Rusia. Akhirnya, tindakan Wagner boleh disebut dengan istilah ‘pemberontakan yang gagal’, karena baru pada tahap mengepung Rostov, dan sempat long march ke Moskow tetapi ‘ada kekuatan’ yang mampu membelokkan manuvernya ke negeri tetangga (Belarus). Belum ada darah yang tumpah di jalanan.
Sudah jamak di dunia militer dan budayanya, bahwa hirarki, disiplin, loyalitas, dan jiwa korsa dikerjakan secara ketat lagi keras bahkan dianggap ‘nafas’ sehari-hari. The way thing are done around here. Apa yang dilakukan tak jauh dari itu-itu juga.
Pertanyaannya ialah, jika merujuk budaya militer di atas, apakah pemberontakan Wagner memang realitas pengkhianatan, atau bentuk kedurhakaan Prigozhin terhadap Putin? Atau, jangan-jangan justru false flag operation alias operasi bendera palsu mengingat kecerdasan Putin dalam mengamalkan pemahaman geopolitik?
Bersambung ke bagian 2
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

Sebelumnya“Pemberontakan Wagner” (Bagian2/Habis)SelanjutnyaAksi Spionase AS dan Barat di Bidang Cyber Lebih Canggih Daripada Cina dan Rusia

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents