Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Pengerahan Sistem Rudal Jarak MenengahRudal Jarak Menengah AS di Filipina Menciptakan Instabilitas di Asia Tenggara

Hendrajit

Hendrajit·24 Desember 2024·4 menit baca

Bagikan
Pengerahan Sistem Rudal Jarak Menengah AS di Filipina Menciptakan Instabilitas di Asia Tenggara

Seperti halnya ketika menempatkan sistem pertahanan anti-rudal di Korea Selatan (terminal hight altitude aerial defence, THAAD), penempatan rudal jarak menengah di negara  yang dipandang oleh Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu, sepertinya juga menjadi prioritas utama Pentagon.  Hal itu nampak jelas ketika baru-baru ini Angkatan Darat AS mengerahkan Sistem Rudal Jarak Menengah di Filipina Utara.

Bisa dipastikan bahwa kebijakan pertanhanan AS untuk pengerahan sistem rudal jarak menengah tersebut harus dibaca dalam kerangka Aliansi Indo-Pasifik untuk menghadapi angkatan bersenjata Cina. Termasuk dalam mengantisipasi kemungkinan pemerintah Cina melancarkan manuver militer ke Taiwan.

Baca:

US says missile deployment in PH ‘incredibly important’

Selain dari itu, Filipina dan Cina pun beberapa waktu lalu terlibat dalam pertikaian wilayah perbatasan di wilayah Laut Cina Selatan yang belakangan ini sangat dinamis namun  berpotensi tidak stabil. Ketegangan AS versus Cina semakin memanas ketika Cina khawatir dengan pengerahan sistem rudal Typhon oleh Angkatan Darat  pada April 2024 lalu di Filipina Utara. Rudal Typhon yang merupakan senjata berbasis darat itu, mampu menembakkan Rudal Standard-6 dan Rudal Serang Darat Tomahawk, sebagai bagian dari latihan tempur gabungan antara tentara AS dengan tentara Filipina.

Foto: REUTERS/Brian Snyder

Orientasi kebijakan Kementerian Pertahanan AS untuk meningkatkan kehadiran militernya secara lebih agresif di kawasan Asia-Pasifik nampaknya semakin nyata sejak 2017 lalu, ketika Presiden Donald Trump mencanangkan apa yang disebut the Indo-Pacific Strategy. Bahkan pada era pemerintahan Presiden Joe Biden orientasi kebijakan pertahanan AS yang bersifat agresif dan ekspansif sama  sekali tidak berubah. Bahkan semakin meningkat.

Apalagi pada Desember 2022 lalu, Asisten menteri pertahananAS Ely Ratner mengatakan bahwa pada tahun 2023 postur angkatan bersenjata yang ditempatkan di negara-negara yang berada dalam kawasan Indo-Pasifik akan mengalami perubahan pada skela yang semakin membesar (the most transformative year in US force in the Indo-Pacific region).

Bukan itu saja. pada Januari 2023 lalu peningkatan postur pertahanan angkatan bersenjata AS yang semakin agresif ditandai dengan kehadiran resimen Korps Marinir AS di Jepang, sebagai bagian integral dari persekutuan AS dan Jepang untuk memodernisasikan angkatan bersenjatanya pada skala yang semakin meningkat.

Kerjasama strategis AS-Filipina semakin meningkat skalanya ketika kedua negara sepakat menandatangani the Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA). Yang mana berdasarkan kesepakatan antara menteri pertahanan AS Lloyd Austin dan mitranya menteri pertahanan Filipina Carlito Galvez Jr, Filipina telah memberikan akses kepada tentara AS untuk menguasai empat lokasi strategis yang akan diproyeksikan sebagai pangkalan militer bagi AS.

Keberadaan empat pangkalan militer AS berdasarkan skema EDCA tersebut akan digunakan oleh kedua negara membangun fasilitas-fasilitas militer terkait penyediaan sarana-sarana perhubungan untuk menunjang operasi-operasi militer yang dilakukan. Selain pada saat yang sama juga untuk memodernisasikan angkatan bersenjata Filipina dalam jangka Panjang.

Dengan kata lain, berbasis di Filipina inilah AS menghidupkan kembali persekutuan militer lama antara AS-Filipina semasa Perang Dingin. Memang tembok Berlin runtuh pada 1989, pakta pertahanan kedua negara tersebut kehilangan alasan strategisnya untuk tetap dipertahankan. Pada 1991 senat AS menolak perpanjangan pangkalan AS di Filipina yang keberadaannya sudah berlangsung sejak 1947. Alhasil, tentara AS terpaksa meninggalkan kedua pangkalan militernya di Filipina, yaitu Subic dan Clark.

(Baca juga sebagai pembading: Merobek Jalur Sutra, Menerkam Asia Tenggara, jurnal The Global Review Quarterly terbitan Januari 2013)

Namun AS sepertinya menemukan kembali momentumnya untuk menguasai pangkalan militernya di Filipina, ketika pada 2012 lalu pemerintah Cina mengambil-alih Scarborough Shoal yang berada di wilayah Laut Cina Selatan. Dengan alasan inilah, Washington emanfaatkan kekhawatiran terhadap ancaman Cina sebagai momentum menghidupkan kembali persekutuan militer AS-Filipina seperti di era Perang Dingin. Dengan dalih adanya ancaman yang semakin berbahaya dari Cina.

Dalam konteks inilah, kita menaruh kekhawatiran terhadap keputusan Gedung Putih dan Pentagon untuk mengerahkan Angkatan Darat AS mengerahkan Sistem Rudal Jarak Menengah-nya di Filipina Utara. Mengingat kenyataan bahwa Filipina merupakan negara tetangga dekat Indonesia yang berada di kawasan Asia Tenggara, dikhawatirkan akan menciptakan instabilitas politik dan keamanan di Asia Tenggara, dan Asia Pasifik pada umumnya.

Apalagi ini bukan pertama kali bagi AS dalam mengerahkan sistem pertahanan anti-rudal seperti THAAD di Korea Selatan, Timur Tengah, dan bahkan pada 2019 lalu di Israel, ketika ketegangan politik antara Israel dan Iran semakin memanas, dan berpotensi menjadi konflik militer secara terbuka.

Dalam mengoperasikan THAAD di Israel, AS mengerahkan kira-kira 100 batalion tempur ke Israel. Hal itu cukup mengejutkan karena selama jarang sekali  AS mengerahkan pasukan tempurnya di wilayah kedaulatan Israel, meskipun Israel sejak awal berdirinya merupakan sekutu strategis AS dan Inggris.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaPersekongkolan Beberapa Senator Kongres AS Dengan Koalisi Lobi Anti-Suriah Memboikot Bantuan Kemanusiaan Untuk Percepat Kejatuhan Bashar al-AssadSelanjutnyaMewaspadai Ancaman Frontier Di Perbatasan

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents