Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

Praktik Radikal dalam Jurnalisme KonstruktifJurnalisme Konstruktif

Rusman

Rusman·21 Juli 2025·2 menit baca

Bagikan
Praktik Radikal dalam Jurnalisme Konstruktif

“System 1 bekerja otomatis. Tapi System 2 perlu diundang.” — Lisa Urlbauer, Head of Journalism, Bonn Institute

Kita hidup dalam ekosistem media yang cepat, penuh tekanan, dan sangat responsif terhadap algoritma. Di tengah banjir notifikasi dan klik, ruang untuk bertanya perlahan menghilang. Redaksi sibuk mengejar waktu, dan pertanyaan yang seharusnya menjadi landasan etika dan intelektual jurnalisme, hanya menjadi formalitas. Tapi apa jadinya jika kita menjadikan bertanya sebagai praktik radikal?

Dalam workshop yang digelar oleh Bonn Institute di DW Global Media Forum 2025, dua fasilitator utamanya, Ellen Heinrichs dan Lisa Urlbauer, menantang para jurnalis untuk menghidupkan kembali seni bertanya. Bukan sekadar bertanya kepada narasumber, tapi juga kepada diri sendiri dan satu sama lain di ruang redaksi.

Pertanyaan yang Mengaktifkan System 2

Dalam psikologi kognitif, otak manusia bekerja dalam dua sistem:

System 1: cepat, otomatis, impulsif
System 2: lambat, reflektif, analitis

Dalam jurnalisme, System 1 sangat aktif: saat mengejar tenggat, saat memilih kutipan, saat mengemas judul. Tapi System 2? Ia tertinggal, kecuali kita sengaja mengundangnya.

Lisa mengatakan, “Jurnalisme yang membangun tidak akan lahir dari reflek semata. Ia perlu jeda, perlu pertanyaan, perlu niat untuk berpikir ulang.”

Lima Pertanyaan Kritis Sebelum Menyusun Narasi

1. Apa bukti yang menantang sudut pandang saya?

Jangan hanya mencari apa yang menguatkan cerita. Tantang kerangka berpikir Anda sendiri. Bias konfirmasi terlalu licin untuk disadari jika tidak dicari secara sengaja.

2. Siapa yang belum saya dengar suaranya?

Dalam setiap konflik, selalu ada pihak yang dibungkam atau tidak terlihat. Pertanyaan ini menggeser fokus dari yang dominan ke yang tersembunyi.

3. Bagaimana jika asumsi saya keliru?

Asumsi adalah fondasi narasi. Menggoyangnya mungkin mengguncang cerita, tapi juga membuka ruang untuk cerita yang lebih utuh.

4. Apa interpretasi yang paling empatik terhadap tindakan atau keyakinan pihak lain?

Ini bukan tentang membenarkan, tapi memahami. Dalam dunia yang terpolarisasi, empati bukan kelembekan—ia adalah alat dekonstruksi.

5. Apakah cerita ini memperkuat atau melemahkan dialog dalam masyarakat?

Jurnalisme konstruktif tidak hanya menginformasikan, tapi juga menghubungkan. Pertanyaan ini mengembalikan jurnalis pada peran sosialnya.

Dari Ruang Redaksi ke Ruang Refleksi

Ellen Heinrichs menegaskan pentingnya menjadikan pertanyaan-pertanyaan ini bagian dari ritual redaksional. Bukan hanya untuk jurnalis individu, tetapi untuk tim secara kolektif.

“Jika Anda memimpin redaksi, luangkan waktu untuk bertanya. Tinjau ulang cerita yang Anda pilih. Siapa yang disorot, siapa yang dihilangkan? Adakah sudut yang terlalu sempit? Adakah framing yang terlalu kaku?”

Bertanya Bukan Tanda Lemah

Dalam dunia media yang kian kompetitif, jurnalisme sering dipaksa untuk tampil percaya diri, tegas, dan cepat. Namun, kekuatan sejati justru lahir dari keberanian untuk meragukan, menggali, dan menunda penilaian.

Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, jurnalisme tidak lagi sekadar mencerminkan dunia, tapi juga membentuknya ulang, lebih adil, lebih empatik, dan lebih manusiawi.

Ismail Fahmi

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaIslamophobia dan Muslim di EropaSelanjutnyaKomodifikasi Sastra

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents