Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

RA KartiniRA Kartini: Sosoknya Diperingati Tapi Sejarah Intelektualnya Dikubur Hidup-Hidup

Rusman

Rusman·21 April 2025·2 menit baca

Bagikan
RA Kartini: Sosoknya Diperingati Tapi Sejarah Intelektualnya Dikubur Hidup-Hidup
Kebaya memang melekat sebagai atribut Raden Ajeng Kartini yang menggambarkan dirinya sebagai putri Jawa maupun sebagai salah satu putri Bupati Jepara. Namun di setiap momen peringatan Kartini, surar menyurat Kartini dengan para sahabat pena-nya di luat negeri sebagai fakta sejarah yang berhasil terdokumentasi, malah seakan terlewat atau sengaja dilewatkan begitu saja, sebagai bahan pembelajaran. Seharusnya peringatan Hari Kartini sebagai momen pelestarian busana nasional cukup sebagai portal untuk masuk menyelami alam pemikiran dan dunia batin Kartini lebih mendalam. Di sinilah surat surat Kartini dalam usia belum lagi 20 tahun, merupakan lensa yang pas untuk memasuki peralihan dari akhir abad 19 ke awal abad 20. Ajaibnya adalah, benih benih kesadaran untuk menyingkap watak asli kolonialisme mampu tergambar secara tepat lewat penggalan kalimat dalam salah satu suratnya: “Ada yang bilang ayah saya adalah penguasa. Padahal ada yang lebih berkuasa lagi di belakangnya“ Kalaupun secara intelektual Kartini masih sedang mencari bentuk, namun secara intuitif Kartini masih usia milenial Gen Z pada zamannya, ternyata sudah mampu mendeteksi adanya sebuah sistem rumit yang menggerakkan pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Meski belum tahu persis apa tatanan dsn desainnya. Inilah yang sengaja atau tidak, terlewat atau dilewatkan oleh para penanggung jawab pendidikan kita di tingkat dasar dan menengah. Alhasil, momen Peringatan Kartini setiap 21 April sekadar Fashion Show Kebaya. Padahal kalau kita jeli, surat menyurat Kartini adalah tabuhan bedug atau lonceng menandainya dimulainya fase masyarakat tulisan atau literate society di pelbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda. Bahwa mesin cetak karya cipta Gutenberg ternyata merupakan benih tumbuhnya penerbitan buku-buku yang menggugah kesadaran nasional di negara negara jajahan di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah. Kartini bisa diibaratkan hanya seseorang yang terdorong menanam kebaikan meski hanya sebiji dzarrah. Lewat tulisan atau literasi. Mengikuti hasrat dan minat utamanya pada sejarah, sosial dan budaya. Bahkan juga filsafat. Namun justru di aspek inilah Kartini diperingati sosoknya namun sejarah intelektualnya dikubur hidup-hidup. Berikut beberapa pemikiran bernas Kartini: “Kalau ada kepentingan besar, kepentingan kecil harus diabaikan”.
(RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang) “Dari perempuanlah manusia itu pertama-tama menerima pendidikan. Di pangkuan perempuanlah seseorang mulai belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata”. (RA Kartini. Habis Gelap Terbitlah Terang) “Tiada barang mustahil di dunia ini! Dan sesuatu barang yang hari ini kita teriak-teriakkan mustahil sama sekali, besok merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal!” (RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang) “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” (RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang) “Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung”. (RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang) Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Wartawan
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaApakah Anda Tahu Pemerintah sedang Menggodok Penulisan Kembali Sejarah Indonesia?SelanjutnyaMemahami Realisme Radikal Tolstoy

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents