Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Raja Menegur Presiden: Gengsi MonarkiGengsi Monarki pada Demokrasi

Rusman

Rusman·4 Mei 2026·6 menit baca

Bagikan
Raja Menegur Presiden: Gengsi Monarki pada Demokrasi

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Di ruang paling simbolik dalam demokrasi modern —Kongres Amerika Serikat (AS)— seorang raja berdiri dan berbicara tentang batas kekuasaan. Di ruang itu, sebagai bagian dari kiblat demokrasi liberal di dunia, gengsi monarki tampil penuh percaya diri. Sengatan halus monarki tapi menghujam jantung demokrasi. Dan ini bukan ironi lazim, melainkan sindiran sejarah yang tajam. Raja Charles III dari Britania Raya – tiba di AS tidak membawa kontroversi atau retorika. Ia justru membawakan sesuatu yang lebih hakiki: bahwa kekuasaan, setinggi apa pun, harus tunduk pada batas! Kekuasaan harus memiliki basis moral walau menjadi begundal sekular.

Di tengah dinamika Perang Teluk 2026, di situlah letak kegelisahan para adidaya Barat melihat perilaku geopolitik Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump. Kegelisahan meningkat karena Iran tak tertundukkan dan ekonomi global penuh ketidakpastian. Tanpa kata-kata menuding, Charles III menyampaikan pesan terselubung, AS dengan demokrasi di bawah Trump telah menjadi penyebab bencana bagi harkat dan martabat Barat.

Maka Charles mengutip Magna Charta, yang nyaris menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa Hukum Tata Negara dan Ilmu Politik. Saat merujuk Magna Carta — dokumen lebih dari 800 tahun lalu yang memaksa raja tunduk pada hukum— ia tidak sedang bernostalgia. Charles sedang mengirim pesan lintas zaman, bahkan monarki absolut pun telah belajar untuk dibatasi. Retorikanya menggelitik, “Hay para penguasa! Apakah republik modern masih ingat pelajaran itu?” Jika menggunakan Penjelasan UUD 1945, Kekuasaan Eksekutif itu tidak tak terbatas. Dan tirani hidup adalah setiap materi ada batasnya. Setiap yang bernapas, ada ajalnya.

Reaksi di ruang sidang (Kongres AS) memberi petunjuk. Demokrat berdiri cepat, hampir refleks. Tepuk tangan meriah. Republikan menyusul dengan jeda yang terasa lebih panjang dari sekadar etika protokoler. Di era normal, ini mungkin detail kecil. Namun, dalam atmosfer politik yang dibentuk Trump, jeda itu berbicara banyak. Ia mencerminkan pergeseran perilaku: dari konsensus tentang pembatasan kekuasaan, menuju perdebatan apakah batas itu masih relevan. Tapi jeda itu juga membutktikan, kebenaran tentang pembatasan kekuasaan, moralitas dalam kekuasaan, dan eksistensi ketiadaan menjalar ke kalbu kaum Republikan. Bisikan kebenaran memang selalu ada. Soalnya adalah apakah apakah manusia membutakan mata dan menulikan telinga hatinya.

Charles memang tidak menyebut nama. Itu tidak perlu. Dalam politik, terkadang hal yang paling keras justru yang tidak diucapkan. Artinya, Charles sedang bicara sistem dan menghormati aktor yang sedang menjalankan sistem. Sistem dan aktor negara ini menentukan apakah perjalanan kehidupan manusia menuju kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan. Atau sebaliknya. Sistem yang baik dan benar akan rusak ditangan aktor negara yang culas, serakah, angkuh, dan menikmati khayalan kehidupan. Sebaliknya, aktor yang baik dan benar, membutuhkan sistem yang menuntut tegaknya azas pemerintahan yang baik dan benar (fairness, responsibility, accountability, transparent) sebagai amanah yang diemban oleh aktor. Gengsi monarki pada Charles III seakan berkata, United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, kami memang menyetujui negara Israel berdiri sebagai pelaksanaan perjanjian Balfour. Tapi tetap menjujung tinggi rujukan nilai agama dan moral dalam kekuasaan. Dan karena itu, kekuasaan selalu ada batasnya. Ini karena Inggris sebagai penjajah mencapai puncaknya hingga Perang Dunia I. Setelah itu, imperium Inggris beralih ke AS.

Pidato Charles makin menajam ketika mengurai lapisan ironi kekuasaan yang sulit diabaikan. AS lahir dari penolakan terhadap kekuasaan raja. Revolusi mereka ialah tentang kebebasan dari monarki, tentang pemerintahan dari/oleh/untuk rakyat. Namun kini, di tengah polarisasi dan erosi kepercayaan terhadap institusi, justru seorang raja Inggris yang mengingatkan mereka tentang prinsip dasar demokrasi. Sebagaimana uraian sebelumnya, Inggris menyadari sejarah, bahwa kekuasaan ada batasnya dan segala sesuatu ada giliran serta jatuh temponya tidak mampu dihindari. Hal itu merupakan cermin tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Dalam isu agama, misalnya, Charles kembali mengambil jalur yang kontras dengan arus utama politik AS kontemporer. Ia berbicara tentang iman sebagai sumber etika dan empati, bukan alat mobilisasi politik tanpa ia memberi contoh kasus per kasus. Ya. Di negara —di mana agama sering dijadikan garis pemisah elektoral (sekularis), pendekatan ini terasa hampir radikal— bukan karena baru, tetapi karena sudah lama ditinggalkan. Merujuk kajian Interconnectivity War karya MacLeonard, Inggris tidak bisa menghindar bahwa negara telah masuk dalam peperangan itu. Dan ini soal keadilan dan kemanusiaan yang tunduk pada hukum universal.

Di panggung geopolitik, Charles menegaskan kembali pentingnya NATO dan dukungan terhadap Ukraina, ia tidak hanya berbicara sebagai simbol negara, tetapi sebagai penjaga konsensus lama Barat: bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama. Penegasan ini disampaikan karena Washington berpesan tersirat, bahwa perang Ukraina adalah perang Eropa menghadapi Rusia. Uni Eropa selama ini, kata Trump banyak menikmati posisi AS sebagai penentu NATO. Menariknya, dua hari setelah pernyataan tentang NATO, Trump memutuskan menarik 5000 pasukannya dari Jerman. Kanselir Jerman Friedrich Merz mengeritik keras strategi AS. Ia menyampaikan, dalam negosiasi AS dengan Iran, AS telah dipermalukan. Trump merespon, Merz telah melakukan pekerjaan buruk dan Jerman tidak tahu apa yang disampaikan. Ini yang pernah kami sampaikan pada artikel sebelumnya, NATO meretak. Itu disebabkan Trump mau mengambil Kanada dan Greenland. Sikap Trump menyinggung harkat martabat pemimpin Eropa. Bahkan Kanada menegaskan untuk melepas diri dari kerjasama pertahanan dengan AS. Sementara Merz menyampaikan Uni Eropa patut memperhitungkan kekuatannya sendiri tanpa AS.

Pernyataan Charles tentang konsensus lama Barat terasa menyengat di saat sebagian politisi AS mulai memandang aliansi sebagai beban. Selain pesan ini terdengar seperti sindiran, ia juga mengingatkan bahwa isolasionisme bukan tanpa harga. Bahkan harganya mahal sekali. Mencla-mencle sikap Trump pada Putin, misalnya, bahkan membuat Uni Eropa mengalami krisis pangan dan energi.

Pidato Charles ini, pada akhirnya, bukan soal Inggris. Bukan pula soal Charles sebagai individu. Tak pula tentang Amerika, Trump dan lainnya. Tetapi, pidato ini perihal nasib Barat ke depan — tentang bagaimana para adidaya Barat itu melihat diri sendiri di abad ke-21. Menyikapi geliat dunia yang tengah bertranformasi. Charles ingin mengatakan kolaborasi monarki dari Inggris Raya dan demokrasi dari AS telah melahirkan imperium Barat selama satu abad. Dan dominasi ini meluruh disebabkan AS banyak salah langkah. Hal ini terjadi AS menyatakan war on terror pada era GW Bush. Padahal yang sesunggunya adalah war on Islam, 2001.

Justru setelah kebijakan ini terbit, kalangan kritis di AS menyebutkan, Bush memantik bangkitnya perlawanan dari musuh-musuh potensial Barat. Sadar akan hal ini, Washington membangun dan memperkuat sejumlah pangkalan militer di Kawasan Teluk. Di Kawasan Asia, Washington membangun kerjasama erat dengan Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Filipina, dan Singapura. Setelah membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN dan AS malah membuat US-ASEAN Business dan ASEAN Defense Ministers Meeting Plus Hal ini dilakukan untuk menahan laju penguatan pengaruh China di ASEAN. AS melihat, BRICS dengan kepemimpinan China makin kokoh menyingkirkan AS. Ini terbukti dengan menurunnya penggunaan dolar yang kini tinggal 56,77 persen dan menghindar berbagai negara dalam penggunaan SWIFT Code. Bahkan sejumlah negara menarik cadangan emas yang tersimpan di AS.

Washington sadar, legitimasi kekuasaan globalnya meluruh. Tapi, apakah Barat masih percaya pada sistem yang membatasi kekuasaan? Apakah Amerika masih memandang pluralisme sebagai kekuatan, bukan ancaman? Ataupun, apakah dunia bersedia dipimpin oleh AS, atau bagaimana jika kehendak menarik diri dari jeratan Washington menguat?

Seorang raja tidak bisa menjawab pertanyaan itu untuk mereka. Tapi hari itu di Capitol Hill, ia memastikan satu hal: pertanyaan tersebut tidak bisa lagi dihindari dan harus dijawab oleh masing-masing rezim kekuasaan. Bahwa setiap kekuasaan niscaya memiliki batas. Selain kekuasaan itu bergilir serta dipergilirkan —tunduk pada batas— juga jangan dikira kekuasaan itu sumber dari kebenaran. Dalam negara modern, justru sebaliknya: kebenaranlah yang membatasi kekuasaan! Siklus kekuasaan, di mana pun kawasannya, kapanpun waktunya, dan dalam kesempatan apapun tidak bisa terlepas dari kekuasaan yang rujukannya ialah pembelajaran untuk lebih memanusiakan manusia, bersikap baik, berpijak pada kebenaran, memiliki keberanian menegakkan yang hak dan melawan kedzaliman, dan bertanggung jawab dalam lingkup moral, intelektual dan sosial. Tanpa itu, kekuasaan adalah beban yang menyiksa walau terasa sebagai sesuatu yang terhormat mulia. Kuasa yang miskin moral dan intelektual adalah begundal yang hanyut dalam kebodohan dan watak bebal.

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMotif Utama Israel: Mengubah Tatanan dan Kepemimpinan Nasional Republik Islam Iran 1979SelanjutnyaFasisme dan Rasialisme Pemerintahan Presiden Trump Dalam Memperlakukan Para Imigran Asing di Amerika Serikat

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents