Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Relasi Vatikan-Tel Aviv: Ketika Perang IsraelPerang Israel Membelah Barat dari Sisi Dalam

Rusman

Rusman·12 Mei 2026·4 menit baca

Bagikan
Relasi Vatikan-Tel Aviv: Ketika Perang Israel Membelah Barat dari Sisi Dalam

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Laporan The Independent berjudul: “Middle East wars increase the threat to British Jews” menjadi sinyal penting di dunia geopolitik bahwa perang di Timur Tengah sekarang tak lagi persoalan regional. MI5 —intelijen Inggris urusan dalam negeri— menyebut konflik era Trump – Netanyahu sebagai faktor yang meningkatkan ancaman terhadap komunitas Yahudi di Inggris. Narasi ini bukan opini media atau narasi aktivis, melainkan pembacaan resmi intelijen Inggris. Tapi narasi ini juga bertujuan menutupi kebijakan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang mendukung Israel menyerang Iran. Memang Keir Starmer dikritik Jeremy Corbyn. Bagi Corbyn, Starmer telah mengirim senjata ke Israel untuk kepentingan perang di Gaza. Corbyn memang tampil sebagai kritikus keras terhadap kebijakan Inggris luar negeri Inggris tentang Timur Tengah. Starmer sendiri dituding tidak adil. Terhadap Lord Mandelson yang namanya tercantum dalam dokumen Jeffrey Epstein, Starmer lamban mengambil Keputusan. Tapi terhadap Corbyn, Starmer cepat mengambil keputusan. Pada titik perbedaan sikap kritis di Inggris antara anti Zionisme dan anti Semitisme (Yahudi). Corbyn memosisikan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin Partai Buruh yang berani memutus hubungan dengan Mandelson karena masalah integritas, sementara Starmer dianggap gagal total dalam menilai karakter Mandelson. Jadi, bukan hanya AS yang mengidap kisruh modal sosial domestik. Inggris pun mempunyai masalah sama.

Lalu, apakah ini grand dramaturgi geopolitik, bahwa keputusan perang di Washington dan Tel Aviv, tetapi dampak sosial-politiknya memanaskan atmosfer politik domestik Washington dan London?

Pun MI5 menaikkan level ancaman teror menjadi “severe” alias rawan. Polisi meminta tambahan ratusan personel. Kawasan Yahudi seperti Golders Green diperketat pengamanannya. Artinya apa, perang di Timur Tengah telah mengimpor ketegangan di jantung Eropa.

Yang menarik, ancaman datang dari dua arah sekaligus. Pertama, ekstremisme Islamis akibat eskalasi perang. Kedua, ekstremisme kanan yang mengeksploitasi sentimen anti-Yahudi dan anti-imigran. Luar biasa. Satu perang, dua radikalisme. Dan komunitas Yahudi Eropa terjepit di tengah-tengahnya. Tesa Mark Leonard terbukti.

Namun dinamika paling menarik justru terlihat dalam hubungan Tel Aviv dan Vatikan. Kenapa? Sebuah hubungan yang bersifat antinomi: saling membutuhkan, tetapi juga saling menolak.

Tel Aviv berdiri di atas logika security state, bahwa keamanan dicapai melalui kekuatan militer dan eliminasi ancaman. Sebaliknya, Vatikan berbicara dengan bahasa moral universal, bahwa perlindungan sipil, rekonsiliasi, dan kemanusiaan. Tentu saja anti senjata nuklir. Di titik inilah Tel Aviv dan Vatikan berdiri dalam hubungan antinomi: saling terkait, tetapi juga saling menegasikan. Vatikan tidak goyah sedikitpun tentang kemanusiaan. Tapi Tel Aviv tidak peduli kendati disebut pelaku genosida dan penjahat kemanusiaan yang menyeret AS dalam kesulitan.

Tel Aviv percaya, keamanan lahir dari kekuatan. Vatikan yakin, perdamaian lahir dari kemanusiaan dan keadilan. Dan London kini mulai merasakan langsung akibat benturan dua cara pandang itu di jalan-jalannya sendiri. Israel melihat perang sebagai kebutuhan strategis di satu sisi, namun Vatikan melihat perang sebagai kegagalan moral pada sisi lain. Di situlah letak antinominya.

Secara diplomatik mereka tetap berhubungan, tetapi secara filosofis kerap bertabrakan. Contohnya, Tel Aviv berbicara survival negara, sedangkan Vatikan berbicara nurani kemanusiaan. Oleh karena itu, ketika perang semakin brutal, posisi Vatikan sering lebih dekat dengan kegelisahan publik Eropa dibanding elite politik Barat sendiri.

Dan semakin ke sini, retakan itu makin terlihat. Amerika tetap menopang perang; Israel fokus pada keamanan eksistensial; Eropa mulai menghitung biaya sosial dan politik; sedangkan Vatikan mempertanyakan legitimasi moralnya. Maka tudingan Trump kepada Pope Leo XIV justru membuahkan sikap dukungan kepada Vatikan. Lalu Inggris terperangkap jika merujuk pernyataan Raja Charles III di Kongres AS.

Jelas, pernyataan MI5 menjadi isyarat penting, manakala badan intelijen Inggris mulai mengaitkan ancaman domestik dengan keputusan perang sekutunya sendiri, itu pertanda bahwa solidaritas Barat tidak lagi utuh alias retak. Tesa ini mendukung kajian sebelumnya, yakni hegemoni Barat meluruh. Washington sedang berupaya memperlambat keluruhan itu. Sementara Eropa termasuk Inggris harus mencari nilai-nilai baru agar moralitas global mereka Kembali diterima dalam pergaulan internasional. Alasan ini yang membuat Brussel mengambil jarak dengan Washington. Ini perang hibrida.

Ya. Perang modern bukan lagi soal tank dan rudal semata. Ia adalah dramaturgi global: satu keputusan di Timur Tengah bisa menaikkan ancaman teror di London yang jaraknya ribuan kilometer. Tesa ini, saat lebih dalam melakukan analisis dampak berantai dari perilaku AS dan Israel memerangi Iran, sebenarnya dunia sedang memasuki Perang Dunia III tanpa bom atom dan nuklir. Jadi, cara AS melakukan kolonisasi terhadap Venezuela, cara City of London berperan sebagai pemilik terbesar surat utang Pemerintah AS, dan cara AS mengagresi siapapun yang dia kehendaki menunjukkan kekuatan adalah kebenaran. Itulah PD III.

Agaknya, Barat mulai sadar. Bahwa biaya mengikuti ritme politik kekuatan Washington dan Israel terlalu mahal. Maka perlahan tapi pasti, masing-masing negara menyelamatkan diri sendiri. Unipolar telah bergeser menjadi multipolar. Polarisasinya terdiri atas: keuangan, komoditas hajat hidup orang banyak, militer, teknologi komunikasi dan sistem yang “direkomendasikan”. Sampai pada titik ini PBB, Bank Dunia, IMF, WTO gagal mendapatkan sistem yang memberi keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan bersama. Semua ini terjadi karena keserakahan ekstrim dan kemunafikan ekstrim memang akan membusuk dari dalam. Perlahan tapi pasti, keutuhan keserakahan dan kemunafikan akan membelah. Mereka terpecah karena tidak ada lagi pijakan kokoh yang memberi hidayah. Jelas, ekonomi berbasis nilai tukar khayalan harus dicari penggantinya sehingga segelintir orang tidak lagi mendikte dunia atas kemauannya sendiri

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKombinasi BRICS dan CBDC Mengancam Dominasi Dolar ASSelanjutnyaOtorisasi Perang Miskin Mandat: Bingung Bagaimana Menghentikan

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents