Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Saatnya Indonesia dan BRICS Memprakarsai Sistem KeuanganSistem Keuangan Global Alternatif yang Lebih Setara dan Multipolar

Hendrajit

Hendrajit·4 Desember 2025·3 menit baca

Bagikan
Saatnya Indonesia dan BRICS Memprakarsai Sistem Keuangan Global Alternatif yang Lebih Setara dan Multipolar

Prakarsa Uni Eropa yang didukung oleh Jerman untuk membekukan aset kekayaan Rusia dalam rangka membantu kebutuhan militer Ukraina yang sedang berperang menghadapi Rusia, merupakan manuver politik internasional yang pada perkembangannya bisa merusak reputasi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Bahkan, bisa merusak sistem keuangan global.

Dalam situasi perekonomian dan keuangan di Eropa yang sedang mengalami krisis seperti sekarang, prakarsa Uni Eropa untuk merampas dan membekukan aset-aset Rusia, pada perkembangannya berpotensi merusak lembaga-lembaga keuangan Eropa itu sendiri, yang serta merta dengan itu, juga akan mengundang kekhawatiran para investor untuk berinvestasi di Eropa yang saat ini sedang dilanda krisis finansial yang cukup serius dewasa ini.

Terinspirasi oleh berita tersebut, mulai terpikir bagaimana jika  Indonesia yang saat ini sudah bergabung ke dalam blok ekonomi-perdagangan alternatif, BRICS, mulai memprakarsai terbentuknya Sistem Perdagangan dan Finansial Global yang tidak lagi harus bergantung pada dominasi dan hegemoni Sistem Finansial Global yang dirancang oleh AS dan beberapa negara Eropa Barat sejak berakhirnya Perang Dunia II. Sehingga Indonesia dan negara-negara anggota BRICS, mampu menciptakan Sistem Finansial Global Alternatif yang lebih setara. Dengan begitu, Indonesia dan para anggota BRICS dapat lebih mandiri dan independen dari orbit pengaruh AS dan Uni Eropa.

Dengan demikian Indonesia dan negara-negara berkembang yang secara spesifik tergabung dalam BRICS maupun aspirasi negara-negara berkembang yang tergabung dalam Global South pada umumnya, akan mampu melepaskan diri dari jerat ketergantungan global untuk menggunakan mata uang dolar AS atau mata uang Euro. Apalagi semangat dari terbentuknya BRICS tidak hanya bertujuan untuk sekadar menandingi hegemoni global AS dan Uni Eropa. Lebih daripada itu, BRICS bertujuan untuk menciptakan aliansi berskala global lintas-kawasan berdasarkan perspektif kepentingan dan aspirasi negara-negara berkembang yang umumnya berhaluan nasionalisme anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

Intinya, Indonesia dan negara-negara berkembang yang menyadari betul BRICS dibentuk bukan saja untuk menghilangkan dominasi AS dan Barat, maka gagasan strategis untuk menciptakan Sistem Finansial Alternatif. Saat ini BRICS memang sudah berhasil mendirikan lembaga keuangan alternatif seperti New Development Bank. Namun itu saja belum cukup. Ide untuk membuat mata uang bersama BRICS seperti Euro dalam Uni Eropa, meskipun masih sangat jauh untuk diwujudkan, namun kiranya perlu terus dikaji dan dieksplorasi berbagai kemungkinan keberhasilannya di masa mendatang.

Terbentuknya Sistem Ekonomi Internasional Britton Woods sejak berakhirnya Prang Dunia II, dolar AS telah ditetapkan sebagai mata uang dalam perdagangan internasional,  cadangan devisa, serta transaksi keuangan global.

Sehingga melalui dominasi mata uang dolar AS yang ditetapkan melalui pertemuan Britton Woods pada 1944, sejatinya merupakan fondasi awal terbentuknya skema Neokolonialisme alias Skema Penjajahan Gaya Baru untuk menggantikan Skema Kolonialisme Klasik yang mana penjajahan terhadap negara terjajah dilakukan melalui kehadiran negara penjajah secara fisik.

Pertemuan yang diperluas dari KTT BRICS di Kazan bulan lalu (Stanislav Krasilnikov, brics-russia2024.ru)

Di sinilah, keputusan Pertemuan Britton Woods pada 1944 kemudian menjadi dasar terbentuknya Tata Ekonomi Internasional Baru yang diawali dengan penetapan dolar AS sebagai mata uang dalam perdagangan internasional,   cadangan devisa, serta transaksi keuangan global.

Melalui Skema Penjajahan Gaya Baru yang fondasinya dibangun dalam pertemuan Britton Woods menjelang berakhirnya Perang Dunia II, penetapan dolar AS sebagai mata uang dalam perdagangan internasional,  cadangan devisa, serta transaksi keuangan global, AS dan negara-negara sekutunya yang tergabung dalam Uni Eropa berada dalam posisi strategis untuk mengendalikan dan mengontrol Sistem Finansial Global.

Betapa tidak. Melalui dolar AS,  Amerika mampu mencetak uang dalam jumlah besar namun tanpa membawa dampak langsung terhadap nilai tukar. Alhasil, AS dan sekutu-sekutunya dari Eropa Barat praktis dalam posisi untuk mendominasi dan mempengaruhi konstelasi politik internasional dan Sistem Keuangan Global. Sebab dominasi dolar AS, berarti Amerika menciptakan ketergantungan negara-negara lain, terutama negara-negara berkembang, terhadap kebijakan moneter dan fiskal AS.

Di sinilah pentingnya prakarsa negara-negara yang tergabung dalam BRICS, termasuk Indonesia, untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih multipolar dan setara, bukannya sistem keuangan global ala Sistem Britton Woods yang bersifat hegemonik dan unipolar (kutub tunggal).

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaUni Eropa Angkat Isu Kapal Tanker Siluman: Untuk Merusak Peran Strategis Cina-Rusia Sebagai Penyeimbang di Asia PasifikSelanjutnyaNarasi Investasi: Modus Penjajahan Gaya Baru Berwajah Halus

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents