Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Sebuah PesanSebuah Pesan Dari Gen Z (Bagian II)

Hendrajit

Hendrajit·15 Desember 2025·6 menit baca

Bagikan
Sebuah Pesan Dari Gen Z (Bagian II)

Berikut adalah script aslinya:

Mentari terdiam. Tidak mau menatap Awan. Sementara Awan terus mencoba untuk berada dalam pandangan mata Mentari. Mentari terus mengelak. (Imajinasikan juga suara verbal Mentari adalah suara verbal khas Temen Tuli-tambahan penulis)

AWAN (BSI + Verbal) : Mentari lihat aku…MENTARI (BSI + VERBAL) : Apa? Kamu mau kasih alasan apa?

AWAN (BSI + VERBAL) : Aku gak tau, bener-bener gak tau soal promo itu.

MENTARI (BSI + VERBAL) : Aneh kamu ya, ini kerjaan kantor kamu! Masa kamu ga tau? Oke missal beberan kamu gak tau, sekarang gimana? Aku ga sudi promosi konser papaku kayak gini?

AWAN (BSI + VERBAL) : ( BAHASA ISYARATNYA MULAI BERANTAKAN)

Paham. Tapi bener-bener gak tau, dan karena memang itu juga….itu….(PANIK/TERBATA-BATA)

MENTARI (BSI + VERBAL) : Apa? Apa? Jangan-jangan memang dari awal ini tujuan kamu? Sok tulus, ngerayu, sebenernya buat manfaatin ku dan temen-temen aku kayak gini? Gak usah mikiran aku dan temen-temen deh. Pikirin mama kamu!

AWAN ; (MAU BERISYARAT TAPI TERHALANG EMOSI,

AKHIRNYA HANYA BICARA SECARA VERBAL). Gak usah bawa-bawa mama aku! Aku tulus kok! Dan jujur, dikantor tuh aku tetep bawahan.

Mentari…soal promosi itu diluar wewenang aku! Dan aku…Aku..

MENTARI (BSI + VEBAL) : Kamu ngomong apa sih? Aku ga denger. (EXIT)

(AWAN TERDIAM. HENDAK MENYUSUL TAPI PONSELNYA BERDERING)

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'PT. PT.MUSIKAPROFITABILITA PT MUSIKA PROFITABILITA UNTUNG UNTUNCJATAPROTAAT JAYA INTERGALAKTIKA JADI PENGHASIL'

Credit Foto: Rebecca Karta dan Ratih Fitri(Catatan penulis; untuk memecah suasana, atau sebaliknya-membantu menaikkan emosi adegan, ponsel Awan selalu berdering tepat waktu. Dengan mengeluarkan nada dering: Gemu Fa Mi Re jedag jedug alis remix)

Selanjutnya, adegan visual kemarahan Mentari dan Awan yang kebingungan diselesaikan dengan apik oleh sutradara. Dibantu oleh warna pencahayaan berbeda dengan intensitas yang pas, area panggung terbelah menjadi dua bagian terpisah.

Disudut kiri dalam panggung, adalah area Mentari yang sedang marah yang sedang ditenangkan oleh mamanya. Sementara Awan yang gelisah-bingung, juga sedang di tentramkan hatinya oleh mamanya-Teman Tuli berada disudut kanan depan area panggung.

Adegan semakin dramatis, ketika suasana dilapisi dengan musik ilustrasi yang apik. Dibantu oleh ketikan kalimat yang muncul di screen ketika Teman Tuli berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Chapter ini, mengharukan, siapapun yang menyaksikanpast i akan larut dalam perasaan liris, yang mampu membuat mata kita yang berkaca.

Dilanjut dengan ritme pertunjukan yang semakin naik, dan akhirnya memuncak bersamaan munculnya tarian koreogarfi full team teman-teman tuli Menteri. Seirama dengan gerak tarian yang mengekpresikan kekecewaan dan kemarahan disertai ekspresi verbal khas teman-teman tuli. Air mata yang semula masih bisa saya tahan, tak terasa menetes.

Mungkin gambar menari

Credit Foto: Rebecca Karta dan Ratih Fitri (Untuk mengecek perasaan saya ini, selepas pertunjukan, sayapun menanyakan kepada Ratna Riantiarno dan Sari Madjid, khawatir apa yang saya alami hanya pengalaman bersifat personal)

Saya ; Gimana Mba?

RR : Mengharukan!.

Sari Madjid : Sangat mengharukan!.

(Dengan kedua matanya yang masih merah, tanda telah dilewati air mata)

Saya belajar teater sejak usia kritis, usia selepas pendidikan sekolah menengah atas. Selama enam tahun. Tanpa jeda, dengan disiplin latihan ketat. Terlibat dalam pentas regular-setiap tahun dua kali pentas memainkan naskah panjang dan tidak pernah absen. Di selanya terlibat pentas-pentas untuk “ngamen”. Metode pembelajaran observasi lapangan, penelitian pustaka, menonton pertunjukan group teater lain termasuk group pentas dari manca negara, lalu menonton film kwalitas oscar ataupun film-film independen merupakan pelajaran wajib. Diskusi bedah naskah dengan nara sumber ahli yang didatangkan, juga diskusi evaluasi setelah selesai pertunjukan, semua saya ikuti dengan perasaan antusias dan tanpa beban.

Tetapi, sepanjang perjalanan proses kreatif itu, saya belum pernah menyaksikan atau mengalami peristiwa kesenian seperti ketika saya menonton pentas sandiwara musical Jemari malam itu. Belum pernah saya menonton pentas teater sampai menitikan airmata.

Ditambah memperhatikan bagaimana lakon pentas itu dipersiapkan: dari urusan tiketing, pemilihan konten sampai kepada pencapaian artistiknya dalam akting. Diusianya, menurut saya, adalah kerja amazing . Dan lebih Amazingnya lagi, semua adegan yang mempertemukan dialog verbal dan bahasa isyarat bisa berjalan mulus, bisa dinikmati keindahannya, tanpa penonton harus bersusah payah mengikuti sekaligus mencerna pesan yang disampaikan. Pekerjaan ini tidak mudah, sulit.

Ditambah informasi yang saya dapatkan setelah pentas selesai, yang ternyata Komunitas Fantasi Tuli ini juga belum punya basecamp alias tempat latihan tetap. Latihannya masih menumpang di salah satu sudut sebuah restoran di jalan Barito Jakarta Selatan, atau diteras di komplek Taman Ismail Marzuki. Bagaimana cara mereka berkomunikasi, kompromi, dan bagaimana mereka menemukan fokusnya?

Pertanyaan pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita masuk pada kenyataan, karena karya yang telah mereka usung: ternyata langsung bisa masuk dan diterima dihati para penonton? Kalaupun toh saya harus menuliskan ktitik sebagai perimbangan penulisan, yang bisa saya sampaikan dan ini hanya sebatas usulan adalah; lakon pentas sandiwara musikal Jemari ini, akan lebih pas dipentaskan pada panggung proscenium. Panggung berbingkai yang memisahkan antara dunia panggung dan penonton. Karakter utama panggung ini mempunyai ruang yang aman, untuk menyembunyikan set dekor yang komplek di sisi kanan kiri panggung. Juga persiapan para pemain ketika menyiapkan adegan selanjutnya tidak terlihat oleh penonton.

Oleh pencapain ini, karenanya, ketika pertunjukan usai, ketika tidak sengaja saya bertemu dengan salah satu produser pertunjukannya, saya langsung titipkan pesan agar lakon yang telah mereka pentaskan nantinya diikut sertakan dalam forum kebudayaan lebih luas, supaya bisa berdialog dan bergabung dengan kebudayaan internasional. Sudah waktunya otoritas bangsa ini-yang berkaitan dengan lini kebudayaan-juga lini kehidupan lainnya mendasarkan fairness sebagai landasan dalam mengambil keputusan.

Sebelum akhirnya menjadi terlambat dan runtuh semuanya. Sebelum generasi ini saling berkomunikasi, berhimpun, berkonsilidasi sampai salah satu dari mereka ini berkata: “Lets Go!” Meminta pertanggung jawaban. Sebagai penutup tulisan ini, kepada mereka, saya hanya ingin berpesan ; teruslah berkarya anak-anakku, karena karyamu langsung bisa masuk dan diterima dihati. Saya yakin kamu mampu menindaklanjuti.

Mungkin gambar teks yang menyatakan '는 1 Jumare FANTASI 心服 服'

Credit Foto: Rebecca Karta dan Ratih Fitri(Malam itu, dalam perjalanan menuju stasiun kereta, saya masih ingat, kepala saya terus terngiang satu kata yang muncul dalam salah satu adegan ; ‘Eksploitasi” serta ekspresinya dipanggungnya).

Membawa pada deret pertanyaan; “Bagaimana kalau yang dieksploitasi itu kelompok yang lebih besar lagi? Bagaimana kalau yang dieksploitasi itu alam, hutan beserta penghuninya? Bukankah alam akan kehilangan keseimbangannya? Bencana ekologis?

Yang akibat dan dukanya dirasakan seluruh penjuru negeri? Masihkah tuan-tuan mencoba mengingkarinya?

Bogor, 11 Desember 2025.

Catatan nama para pemain dan pekerja artistik dan non artistik.

Mentari; Hanna Aretha. Mentari kecil: Elsani Nayira Shaim. Awan; Jonah Gabiel Matulessy.

Produser/Agus Kartasuwira; Robertus Darren.

Gusti/Penyanyi: Nino Prabowo.

Mama Mentari: Adela Hermawan. Mama Awan; Hasna Mufidah. Ayah Alan: Ricendy Januardo. Dina: Elisabeth Viona. Cika: Vidi Vebriani. Dio: Muhammad Farkhan.

Baskara/Pedagang minum: Yudistira Aulia Hazet.

Bulan: Farida Artha Hutahaen. Langit: Rimba Damenna Manik. Gema: Muhammad Arsa Alamsyah.

Bara: Dan Hyuk.

Alan: Muhammad Naufal Athallah.

Musisi/Pencipta lalu: Nino Prabowo, Egi Virgiawan, Idgitaf, Barsena Bestandhi.

Rearansemen: Stanley Sefanya.

Stage Crew: Muhammad Hafizan, Gitareja M, M. Lempang, Muhammad Ibnu Syeikh, C. Khairil Fathurrahman Alizar, Dae Anggraeni, Oktafanya Aurora Pradita, Kheren Imanuela, Nadiva Marsha Caesarania. L.O. Cast & Artist: Nindita Ariani Tanaya, Zannyda,

Andina Utami Putri.

Tim Tiketing: Shakira, Alvina Handayani, Aulia Erika, Nooraysha.

Fotografer/Videografer: Ratih Ftr, Rebecca Karta.

Usher: Novia, Siska Rachmawati, Gita Nasution, Alifiah

Rizqiyani, Dini Azzahra, Tasya Maura.

Manager Sponsorship: Haikal Ilmi Akbar. Manager Media Sosial: Damera Zeta, Koordinator Tiketing: Siti Sahana Aqesya.

Kepala Rekan Media: Patricia S. Wea.

Kepala Rekan Komunitas; Vera Yulia. Koordinator Usher: Yohana Dandan. Juru Bahasa Isyarat: Setya Pramana, M. Idkram, Putri Disa, Primaridiana Pradiptasari, Ni Ketut Desi Ariani, Siti Sahana Aqesya,

AdamFirdyansyah, Subtitle: Satya Pramana, Primaridiana Pradiptasari, Ni Ketut Desi Ariani.

Penata Rias: Stefanus Aji. Asisten: Yuyu Matthew. Penata Kostum: Ursula S. Gayatri. Asisten: Binazir Zahra Ramdhani.

Dresser: Aprilia Ragil, Anjani Mutiara, Arraya, W.S.

Stage Manager: Refky Fadillah.

Asisten: Putri Disa, Muhammad Idkram. Penata Artistik: Adri Pradipta. Asisten: Meliza Darmalin.

Penata Cahaya: Fajar Okto, Asisten: Amin Raafi. Penata multimedia: Tito, Asisten: Agung Wahyudi.

Komposer Musik/Lirik

Original: Geddi Jaddi Membummi & Dilasarah. Penata Vokal: Windy Liem. Lirik Lagu Original: Palka Kojansow’.

Koreografer Dhea Seto, Co, Koreografer: Satya Pramana.

Bedah Lirik Isyarat Lagu: Hasna

Mufidah & Satya Pramana.

Sutradara Tuli: Hasna Mufidah.

Sutradara Dengar Palka Kojansow.

Naskah:

Pascal Meliala & Palka Kojansow. Produser: Pascal Meliala, Affav Siregar, Arvan Fadhlurrahman.

Co-Produser: Dhea Seto.

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaKetahuilah: Kearifan Lokal dan Masyarakat Adat Adalah DNA dan Benteng Pertahanan BangsaSelanjutnyaSuasana Terbuka

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents