Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Seminar Regional KaribiaKaribia Memberantas Kolonialisme dan Imperialisme AS, Inggris dan Prancis

Hendrajit

Hendrajit·3 Juni 2026·4 menit baca

Bagikan
Seminar Regional Karibia Memberantas Kolonialisme dan Imperialisme AS, Inggris dan Prancis

Menggelar seminar regional membahas dekolonisasi Karibia, bukan saja penting dan tepat, melainkan juga sangat strategis. Sangatlah tepat kiranya jika Seminar Regional Dekolonisasi Karibia dikaitkan dalam satu tarikan napas dengan Konferensi Trikontinental, pertemuan bersejarah negara-negara berkembang yang diprakarsasi Presiden Kuba Fidel Castro di Havana, Kuba, pada 3-15 Januari 1966.

Ada sebuah hajatan menarik dan unik yang tengah berlangsung di Managua, ibukota sekaligtus kota terbesar di Nikaragua, antara akhir Mei hingga pertengahan Juni 2026 mendatang. Komite Khusus Dekolonisasi akan menyelenggarakan Seminar Regional Karibia akan menggelar seminar regional  dengan mengangkat tema terkait Pelaksanaan Deklarasi tentang Pemberian Kemerdekaan kepada Negara dan Rakyat Kolonial (juga dikenal sebagai Komite Khusus 24 atau sebagai “C-24”).

Menarik ini, karena seminar tersebut diselenggarakan dalam Kerangka Dekade Internasional Keempat untuk Pemberantasan Kolonialisme (2021-2030). Apakah hal itu berarti tahun ini merupakan fase berakhirnyta kolonialisme dan imperialisme di seluruh dunia?

Dalam catatan Komite Khusus Dekolonisasi saat ini masih ada tujuh belas wilayah yang masih belum mempunyai belum berdaulat di bawah yuridiksi Komite Khusus seperti: Samoa Amerika, Anguilla, Bermuda, Kepulauan Virgin Britania Raya, Kepulauan Cayman, Kepulauan Falkland (Malvinas)*, Polinesia Prancis, Gibraltar, Guam, Montserrat, Kaledonia Baru, Pitcairn, Saint Helena, Tokelau, Kepulauan Turks dan Caicos, Kepulauan Virgin Amerika Serikat, dan Sahara Barat.

The Chair speaks during the opening session of the 2026 Regional Seminar of the Special Committee on Decolonization.

Adapun yang dimaksu dengan negara-negara pengelola atau pengemban daerah mandate (penguasa daerah protektorat atau bisa juga disebut negara penjajah) adalah:  Prancis, Selandia Baru, Britania Raya/Inggris, dan Amerika Serikat.

Untuk mencermati kesimpulan dan rekomendasi sebagai hasil substantifnya, baru akan kita ketahui bersama pada 15 hinggaq 26 Juni 2026 mendatang. Yang mana hasil seminar berupa kesimpulan dan rekomendasitersebut akan disampaikan Komite Khusus Dekolonisasi kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Duta Besar Menissa Rambally dari Saint Lucia, Ketua Komite Khusus, akan memimpin Seminar tersebut. Oh ya, Saint Lucia itu dimana ya? Saint Lucia atau Santa Lusia adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di kawasan Karibia bagian timur, berbatasan langsung dengan Samudra Atlantik di sebelah timur dan Laut Karibia.

Lantas, negara-negara mana saja atau delegasi dari mana saja yang diundang sebagai peserta? eserta seminar yang diundang meliputi delegasi Komite Khusus yang terdiri dari Biro dan anggota kelompok regional, Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Negara-negara pengelola, serta perwakilan dari Wilayah, masyarakat sipil, dan organisasi non-pemerintah, serta para ahli.

Wah, ternyata cukup beragam ya. Tidak sekadar perwakilan dari pemerintah melainkankan juga dari organisasi-organisasi non-pemerintah (NGO dan panel para ahli.

Ke-28 anggota Komite Khusus tersebut adalah Antigua dan Barbuda(terletak di Karibia Timur-Hindia Barat), Bolivia, Chili, Cina, Kongo, Pantai Gading, Kuba, Dominika, Ethiopia, Fiji, Grenada, India, india, Iran, Irak, Mali, Nikaragua, Papua Nugini, Federasi Rusia, Saint Kitts dan Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent dan Grenadines, Sierra Leone, Suriah, Timor-Leste, Tunisia, Republik Persatuan Tanzania, dan Venezuela.

Segi menarik dari apa yang disebut negara pengelola atau negara penjajah dari 17 wilayah yang belum berdaulat tersebut tadi (Prancis, Selandia Baru, Britania Raya/Inggris, dan Amerika Serikat) saya kira cukup menarik ya. Meningat dalam konstelasi dan dinamika global yang berlangsung saat ini, Amerika Serikat dan Inggris masih dipandang sebagai negara besar yang masih menerapkan Skema Neokolonialisme terhadap negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Timur-Tengah, dan Amerika Latin.

Participants are seated around a table at the 2026 Regional Seminar of the Special Committee on Decolonization.

Di sinilah konteks pentingnya Seminar Regional Karibia yang diprakarsai oleh Komite Khusus Dekolonisasi. Hingga kini, Inggris dan Argentina masih terlibat pertikaian terkait soal wilayah Malvinas atau Kepulauan Falkland.

Adapun terkait beberapa negara kepulaian di Karibia Timur, termasuk yang melatari ketegangan antara Amerika Serikat, Inggris dan Prancis dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Amerika Tengah.

Berdasarkan telaah terhadap 17 wilayah yang masih belum berdaulat di bawah yuridiksi Komite Dekolonisasi, tampak jelas bahwa kolonialisme dan imperialisme Barat terhadap kawasan-kawasan non-Eropa belum berakhir.

Antigua dan Bermuda pernah dijajah Inggris sejak 1632, dan baru memperoleh kemerdekaan pada 1981.  Pulau Saint Lucia (Santa Lusia) di Karibia dijajah dan diperebutkan oleh dua negara Eropa utama, yaitu Inggris dan Prancis. Inggris kemudian mengambil-alih kendali penuh pada 1814 dan memperoleh kemerdekaannya pada 22 Februari 1979.

Salah satu dari 17 wilayah yang belum merdeka dan banyak disorot sebagai basis pangkalan militer Amerika Serikat di Pasifik adalah, Guam. Belum banyak yang tahu bahwa Guam memiliki sejarah penjajahan yang panjang oleh tiga negara besar:

  1. Spanyol (1668–1898): Menjadi bangsa Eropa pertama yang menguasai dan menjajah pulau ini setelah dieksplorasi oleh Ferdinand Magellan.
  2. Amerika Serikat (1899–1941): Diambil alih oleh AS dari Spanyol melalui Perjanjian Paris pada akhir Perang Spanyol-Amerika.
  3. Jepang (1941–1944): Direbut dan diduduki secara brutal oleh kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II, sebelum akhirnya dibebaskan dan dikuasai kembali oleh Amerika Serikat.

Hingga kini, Guam berstatus sebagai wilayah teritori tak berbadan hukum milik Amerika Serikat.

Maka itu, menggelar seminar regional membahas dekolonisasi Karibia, bukan saja penting dan tepat, melainkan juga sangat strategis. Dengan itu, sangatlah tepat kiranya jika Seminar Regional Dekolonisasi Karibia dikaitkan dalam satu tarikan napas dengan Konferensi Trikontinental, pertemuan bersejarah negara-negara berkembang yang diprakarsasi Presiden Kuba Fidel Castro di Havana, Kuba, pada 3-15 Januari 1966. Yang mana dalam pertemuan bersejarah tersebut dihadiri. Dihadiri oleh lebih dari 500 delegasi dari 80 negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, konferensi ini bertujuan untuk memperkuat solidaritas anti-kolonial, mengutuk imperialisme, dan merumuskan strategi bersama melawan kapitalisme, oleh sebab adanya kapitalisme itulah yang membidani lahirnya kolonialisme dan imperialisme.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaIsrael, Bangsa Parasit di Muka Bumi? (Bagian-1)SelanjutnyaNon Blok dalam Pusaran AS-China-Rusia-Iran

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents