Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitik

Serangan Ke Iran, Aksi Destabilisasi Terhadap Asia TengahAsia Tengah dan Kaukasus Selatan?

Hendrajit

Hendrajit·7 Maret 2026·4 menit baca

Bagikan
Serangan Ke Iran, Aksi Destabilisasi Terhadap Asia Tengah dan Kaukasus Selatan?
Masih soal Lintasan Laut Kaspia. Azerbaijan yang termasuk Kaukasus Selatan. Seperti kekhawatiran semula, dalam serangan AS-Israel ke Iran, Pada tanggal 5 Maret, dua serangan pesawat tak berawak dilakukan terhadap eksklave Nakhchivan milik Azerbaijan. Pesawat tak berawak pertama menghantam gedung terminal Bandara Internasional Nakhchivan, sekitar enam mil di seberang perbatasan dari Iran.
Ini saja sudah dengan sendirinya menciptakan kekacauan dan kecamuk di Lintasan Laut Kaspia. Dalam prakarsa perdamaian antara Armenia dan Azerbaijan terungkap bahwa koridor kereta api dan jalan raya yang direncanakan melalui Armenia selatan, akan menghubungkan Azerbaijan ke Nakhchivan dan selanjutnya ke pasar Eropa melalui Turki. Otomatis gara-gara serangan AS tersebut, rencana strategis Azerbaijan jadi sangat terganggu.
Koridor ini mewakili mata rantai penting yang selama ini diabaikan nilai strategisnya secara geopolitik, padahal dalam jaringan lintas kawasan dalam lingkup yang lebih luas, koridor itu dapat berfungsi menghubungkan kawasan Asia Tengah ke kawasan Eropa sambil melewati Rusia dan Iran. Efek susulan dari serangan AS-Israel ke Iran ini praktis mengacaukan rencana strategis Azerbaijan-Armenia. Yang jadi teka-teki di sini, skema kerja sama Azerbaijan-Armenia itu justru disupervisi oleh Presiden Donald Trump. Apakah Trump membelai dengan tangan kanan lalu memukul lewat tangan kirinya?
Yang jelas, penargetan wilayah Nakhchivan menimbulkan ancaman keamanan regional terhadap inisiatif konektivitas geografis yang saat ini sedang berkembang, dan dengan demikian menggarisbawahi pertaruhan geopolitik seputar koridor transportasi baru di seluruh Kaukasus Selatan, menjadi sangat penting dan mendesak saat ini menurut pertimbangan keamanan nasional.
Masuk akal begitu menghantam gedung terminal Bandara Internasional Nakhchivan, sekitar enam mil di seberang perbatasan dari Iran, Presiden Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menggelar pertemuan Dewan Keamanan. Berarti, serangan AS-Israel ke Iran, sudah menyentuh isu politik dan keamanan, bukan sekadar soal pertahanan-militer.
Pemerintah Iran sendiri melalui Wakil Meneri Luar Negeri Kazem Gharibabadi membantah keterlibatan Iran dalam serangan pesawat tak berawak tersebut. Dalam sebuah wawancara , Gharibabadi mengatakan, “Kebijakan Iran hanya menyerang pangkalan militer musuh-musuhnya,” khususnya pangkalan yang telah digunakan untuk menyerang Iran.
Kemudian, Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi juga mengeluarkan pernyataan yang membantah keterlibatan Teheran dalam serangan tersebut, dan malah menyalahkan Israel.
Bantahan yang disampaikan Seyyed Abbas Araghchi atas keterlibatan Iran dalam serangan dan menuding Israel, kita jadi ingat berita sebelumnya dengan tertangkap basahnya seorang agen Mossad di Qatar. Apakah serangan ke eksklave Nakhchivan milik Azerbaijan juga merupakan False Flag Operation alias Operasi Bendera Palus yang seakan-akan serangan Iran padahal ulah Israel? Entahlah.
Yang jelas, konstelasi global di Kaukasus Selatan dan pastinya juga Asia Tengah, dalam keadaan yang tidak stabil. Sekadar informasi, pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) yang membentang dari Azerbaijan melalui Georgia ke Turki berisiko diserang dan menyeret wilayah lain ke dalam konflik. BTC saat ini mengangkut sekitar 30 persen pasokan minyak Israel.
Azerbaijan yang dulunya bergabung dengan Rusia dalam Uni Soviet, pada 1991 memisahkan dari Rusia dan mendirikan negara-bangsa sendiri seperti juga Georgia, Ukraina, dan negara-negara Asia Tengah. Menariknya, Azerbaijan penduduknya beragama Islam bahkan tradisi keagamaannya banyak sesuai dengan Islam Iran.
Namun saat ini, Israel dan Azerbaijan menjalin kerja sama ekonomi dan perdagangan yang cukup intens. Selain itu Israel juga telah menjadi mitra utama dan pemasok senjata bagi Azerbaijan, seraya memberikan Baku ruang strategis untuk menavigasi hubungannya dengan Israel.
Lagi-lagi pertanyaan strategisnya, apakah ini justru tujuan utama serangan AS-Iran pada Sabtu 28 Februari lalu? Sepertinya motif terselubung AS mulai terungkap secara tidak langsung melalui gagasan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turkmenistan Rashid Meredov.
Berbicara di Forum Jalur Sutra Tbilisi ke-5 pada 22 Oktober 2025 lalu, Rashid Meredov menegaskan Turkmenistan berkomitmen untuk menghidupkan kembali konsep “Jalur Sutra” untuk transit gas dari Asia Tengah ke Eropa. Rencana yang digulirkan Menteri Luar Negeri Meredov itu sebagai respons balasan terhadap tekanan Iran agar Turkmenistan menghentikan impor gas dari Irak.
Namun tekanan yang pastinya bernuansa ancaman dari Washington, ternyata malah mengilhami Turkemenistan menghidupkan kembali minat lama negara yang juga termasuk salah satu dari negara pesisir di Lintasan Laut Kaspia itu, untuk membangun jalur pipa trans-Kaspia yang memungkinkan gas Turkmenistan mengalir ke Eropa.
Perkembangan ini pastinya mengundang kekhawatiran Amerika. Betapa tidak. Jika pembangunan pipa gas lintas Laut Kaspia jadi kenyataan, para investor akan lebih cenderung mempertimbangkan pembiayaan untuk konstruksi, serta perluasan kapasitas yang diperlukan dari jalur yang ada melalui Azerbaijan, Georgia, dan Turki ke Eropa. Gas juga berpotensi dapat ditransit melalui pipa yang dibangun di sepanjang koridor darat Armenia-Azerbaijan.
Rupanya, Donald Trump yang sejatinya merupakan pebisnis, melihat skema mandiri dari pipa gas lintas Laut Kaspia jadi kenyataan, lebih suka menguasai langsun alih-alih berbagi melalui kemitraan bisnis dengan berinvestasi selaiknya seorang pebisnis. The Winner Takes All. Begitu rupanya yang ada di benak pikirannya.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaMetafisika dan Jungkirbaliknya Skenario Amerika-Israel di Timur TengahSelanjutnyaLintasan Laut Kaspia, Sasaran Geopolitik Lumpuhkan Cina di Daerah Jantung Eropa-Asia?

Lainnya di Geopolitik

Lihat semua
Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah
Analisis

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur TengahTimur Tengah

13 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents