SISI LAIN KONFLIK RUSIA – UKRAINA (2)

Bagikan artikel ini
Antara Perang Modern, Sanksi dan Negeri Autarki
Esensi (teori) perang modern yaitu barang siapa kalah canggih mesin perang dan peralatan tempur serta kalah dalam jumlah personel, maka identik dengan kalah perang. Jangan berharap menang. Akan tetapi, teori ini tidak mutlak. Tidak (bersifat) hitam putih. Di beberapa peristiwa atau isu malah berbanding terbalik.
Perang antara Rusia versus Georgia (2008), contohnya, merupakan implementasi perang modern pada satu sisi. Siapa kalah canggih peralatan perang dan kalah jumlah pasukan, identik kalah perang. Terbukti. Hanya perlu waktu dua minggu, Rusia berhasil menduduki Georgia. Ura, uraa, uraaaa!
Dan tampaknya, kemungkinan Ukraina akan bernasib sama dengan Georgia. Takhluk dalam hitungan minggu. Kenapa demikian, karena Amerika Serikat (AS) dan NATO tidak ikut campur tangan dalam konflik Rusia versus Ukraina, mengapa? Khawatir memicu perang dunia. Uraaaaaa!
Sementara di sisi lain, mundurnya AS dan NATO dari perang di Afghanistan setelah bertempur versus Taliban selama 20-an tahun (2001-2021) ialah bukti atas “patah”-nya teori perang modern di atas. Sekali lagi, memang tidak mutlak. Taliban yang bukan militer profesional —di Indonesia, sekelas pesantren— ternyata mampu memukul mundur AS dan NATO yang didukung oleh militer profesional dalam jumlah besar serta berbekal mesin dan peralatan perang canggih. Nah, itulah dua contoh praktik atas (teori) perang modern yang bersifat tidak mutlak.
Tak boleh dipungkiri, Rusia ialah Negeri Autarki. Negara yang mempunyai kedaulatan mutlak baik pemerintahan maupun ekonomi. Swasembada. Rusia hampir tak memiliki ketergantungan kepada negara lain. Jadi, manakala sanksi ekonomi dijatuhkan oleh AS, NATO dkk kepada Rusia, sanksi tersebut kurang begitu berpengaruh. Kami punya segalanya, kata Dubes Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva. Ia pun mempertanyakan, apakah ada negara yang dijatuhkan sanksi, kemudian mengubah kebijakannya? Jawabannya, tidak ada.
“Kami, Rusia, adalah negara besar. Memang sanksi akan menyusahkan kami, tetapi ingatlah bahwa Uni Soviet selama 70 tahun dijatuhkan sanksi dan kami memiliki power besar. Kami memproduksi segalanya,” ujar Lyudmila.
Itulah sisi lain konflik Rusia dan Ukraina yang kudu dicermati.
M Arief Pranoto, pengkaji geopolitik, Global Future Institute
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com