Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Skema dan Struktur Penjajahan Gaya BaruPenjajahan Gaya Baru Secara Non Militer

Rusman

Rusman·19 Oktober 2025·5 menit baca

Bagikan
Skema dan Struktur Penjajahan Gaya Baru Secara Non Militer
Ngobrol Geopolitik dengan Ichsanuddin Noorsy di TebbSix Coffee, JakSel
Mengawali catatan ini, ada pertanyaan menggelitik mesti dijawab, “Saat ini, secara kualitas maupun kuantitas — lebih banyak mana terjadi antara peperangan militer atau perang non militer (asymmetrical war)?”
Kalau kita bandingkan antara perang militer (konvensional) dengan perang non militer (asymmetrical war), maka jawabannya tergantung cara mendefinisikan ‘perang’ itu sendiri dan bagaimana mengukur (kualitas dan kuantitas).
Misalnya:
KUANTITAS (jumlah kejadian konflik)
Dalam dua dekade ini, perang non militer jauh lebih sering terjadi dibanding peperangan militer konvensional. Perang non militer mencakup terorisme, misalnya, atau trade war, cyber warfare, perang informasi, perang teknologi informsi, perang ekonomi (sanksi, embargo dan lain-lainl), perang proksi (menggunakan pihak ketiga, misal dukungan ke kelompok milisi, oposisi dan seterusnya). Atau bisa juga neocortex war (perang pemikiran), perang budaya (cultur war) dan lain-lain.
Uniknya perang non militer ini, terkadang sulit dikenali bentuknya. Bahkan pihak yang diserbu kerap tidak merasa kalau dirinya tengah diserang. Sebab dinilai ‘wajar-wajar saja’ sebagai efek globalisasi dan/atau dampak kemajuan teknologi.
Konflik seperti ini selain murah, lebih fleksibel, juga sulit dilacak secara langsung ke aktor negara. Sehingga lebih banyak digunakan terutama dituduhkan ke aktor non negara (non-state actor) atau ke negara yang tidak ingin konfrontasi secara langsung dengan pihak lawan.
Konflik Rusia Vs Barat, contohnya, kini lebih dominan berlangsung di medan siber, ekonomi, dan disinformasi; atau, konflik Cina Vs Taiwan, banyak terjadi dalam bentuk tekanan ekonomi, cyber attack, pengaruh diplomatik. Lihat bagaimana Amerika (AS) berupaya menundukkan Iran, juga lebih sering dalam bentuk proksi (di Irak, Suriah, Yaman) dan seterusnya.
Jadi, dari sisi kuantitas, perang non militer (asymmetrical) lebih sering terjadi dibanding perang militer alias konvensional.
Sedangkan dari aspek KUALITAS (skala dampak dan keterlibatan), perang militer kini jarang dijumpai karena dampaknya sangat besar. Ketika peperangan meletus, pasti menimbulkan kerusakan pada infrastruktur secara masif, besarnya korban baik jiwa maupun korban luka-luka. Perang militer juga mampu mengubah tatanan geopolitik global secara signifikan. Misalnya, invasi Rusia ke Ukraina (2022 – sekarang); konflik Israel – Hamas (2023 – sekarang); invasi AS ke Afghanistan (2001) dan ke Irak (2003) dan lain-lain. Peperangan militer di dunia saat ini, tak sampai sepuluh peristiwa.
Perlu dicatat, beberapa konflik militer sekarang tidak berdiri tunggal, tetapi bercampur dengan unsur perang non militer atau asimetris. Ini kerap disebut dengan istilah hybrid war seperti peperangan militer + siber; atau serangan udara + disinformasi; ataupun operasi tempur + sanksi ekonomi, propaganda, dan lain-lain. Ya, perang militer kini tidak berdiri tunggal.
Dari sisi kualitas, perang militer masih punya efek paling dahsyat, meski kerap terjadi bersamaan dengan bentuk-bentuk perang asimetris lainnya. Namun, secara kuantitas — perang non militer jauh lebih banyak bahkan hampir terjadi setiap hari tanpa mengenal waktu. Bahkan sering justru tanpa disadari pihak-pihak yang menjadi korban (diserang).
Dalam perspektif geopolitik, sebuah peperangan —apapun— duduknya hanya di agenda semata, sedang skema atau tujuan utamanya, tak lain adalah penguasaan (geo) ekonomi negara target. Entah demi emas, minyak, dan gas bumi, atau bahan mineral lainnya. Ini terlihat lebih jelas pada asymmetrical war, karena langsung menukik ke sasaran— daripada perang konvensional yang kerap dikemas dengan istilah demi kepentingan nasional, atau atas nama hegemoni, kedaulatan negara dan lainnya. Padahal tujuannya adalah geoekonomi.
Merujuk judul catatan ini, kita membahas kecenderungan peperangan non militer yang dijadikan modus penjajahan gaya baru di muka bumi.
Analisis dan mekanisme 7i ala Ichsanuddin Noorsy, misalnya, bisa dipakai untuk membedah struktur penjajahan gaya baru. Mekanisme 7i meliputi invasi, intervensi, infiltrasi, interferensi, indoktrinasi, intimidasi, instability/inflasi dan hasil akhirnya adalah impoverishment (pemiskinan). Hal ini bukan hanya teori, tetapi kerangka kerja analitis yang terbukti secara empiris dalam mendekonstruksi tata kelola global saat ini. Bukti-bukti membuktikan validitasnya
Contoh:
1. INVASI dan INTERVENSI
Data utang global US$ 150 triliun (BIS) dan syarat-syarat (conditionalities) yang dipaksakan IMF/Bank Dunia adalah alat invasi modal dan intervensi kebijakan yang paling nyata.
2. INFILTRASI
Penyusupan kader teknokratik yang diindoktrinasi ke dalam jabatan strategis di pemerintahan dan lembaga multilateral, serta infiltrasi pendanaan swasta (Gates Foundation, Open Society, dan lain-lain) ke dalam badan publik seperti WHO, yang mengalihkan agenda global.
3. INTERFERENSI dan INTIMIDASI
Ancaman untuk downgrade rating kredit, pelarian modal, dan sanksi finansial yang digunakan untuk menghukum negara yang tidak patuh.
4. INDOKTRINASI
Hegemoni ideologi TINA (There Is No Alternative) dan narasi “ilmiah” yang dibangun oleh teknokrat untuk melegitimasi sistem yang berjalan, menyembunyikan fakta bahwa ia dirancang untuk melayani segelintir kepentingan.
5. INSTABILITY dan INFLASI
Kebijakan yang didikte dari luar kerap memicu gejolak sosial dan ekonomi di negara penerima, yang kemudian digunakan lagi untuk justifying intervensi lebih lanjut.
6. IMPOVERISHMENT atau PEMISKINAN
Ini adalah outcome final. Ya. Pemiskinan sistematis terjadi ketika sumber daya negara dialirkan keluar untuk membayar utang, sementara akses rakyat terhadap layanan dasar dipangkas. Pemiskinan ini makin kokoh ketika para teknokratik yang merasa cerdas cendekian menggulirkan kebijakan finansialisasi. Efek gandanya adakah ketimpangan hidup yang sukar di atasi.
Inilah modus baru penjajahan gaya baru di era kini yang mulai terungkap sebagai sebuah sistem kolonial.
Dan ini pula peta kekuatan (power mapping) yang akurat melalui beberapa entitas, antara lain:
  • Kreditor Global (melalui BlackRock, Vanguard, dan lain-lain) dan Filantrokapitalis (melalui Gates Foundation, dan lain-lain) adalah aktor inti yang memiliki sumber daya;
  • Lembaga Multilateral (IMF, Bank Dunia, WHO, BIS) berfungsi sebagai “casing” atau otoritas yang dilegitimasi untuk menjalankan agenda tersebut;
  • Para Teknokrat yang terindoktrinasi adalah operator yang menjalankan sistem di lapangan seperti layaknya sales promotion girl (SPG)
Dengan demikian, narasi singkat ini menyimpulkan bahwa konflik global hari ini bukan lagi antara Negara Timur melawan Negara Barat, melainkan antara mayoritas umat manusia (rakyat di mana pun) melawan sebuah jaringan oligarki finansial-transnasional yang menggunakan negara dan lembaga multilateral sebagai perisai dan sarana untuk melanggengkan kekuasaan dan akumulasi kapital mereka.
Konflik ini mengkristal saat banyak penduduk di dunia tidak menyadari siapa penguasa Artificial Intelligence, ke mana teknologi ini mengarahkan masyarakat, dan bagaimana ujungnya karena teknologi ini terlibat ketat dengan tautologi secara komputing. Kita belum mendengar dan memahami bagaimana kaum cerdas cendekia mengantisipasi perang hibrida ini.
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaProyek Echelon 1947, Menyingkap Persekutuan Semu Amerika-Inggris Dengan Eropa Pasca Perang DinginSelanjutnyaKTT Penyelesaian Damai Gaza di Mesir Membuka Harapan Baru, Namun Komitmen AS dan Israel Masih Diragukan

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents