Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitik

Strategi Katak MacArthurStrategi Katak MacArthur: Jadikan Biak Batu Loncatan ke Filipina

Rusman

Rusman·9 Februari 2024·1 menit baca

Bagikan
Strategi Katak MacArthur: Jadikan Biak Batu Loncatan ke Filipina

Keputusan Presiden AS Frank Delano Roosevelt yang menarik dan luput dari kajian para pakar geopolitik internasional pada Perang Dunia II adalah: Dari Irian, Jenderal MacArthur harus mendarat di Filipina. Artinya, menjadikan Filipina sebagai destinasi, bukan sekadar dilewati. Menguasai irian, lalu ke Filipina, baru menuju Okinawa, Jepang.

Strategi Lompat katak MacArthur ini waktu itu sangat terkenal. Sehingga menjadikan Pulau Morotai di Maluku Utara, menjadi sasaran strategis panglima angkatan darat AS tersebut. MacArthur tiba di Morotai pada 15 September 1944.

Gagasan di balik strategi lompat katak MacArthur, serang pertahanan Jepang yang paling lemah. tanpa mengorbankan banyak jiwa dan waktu. Melalui siasat ini, MacArthur berhasil mengisolasi konsentrasi kekuatan tentara Jepang di Wewak dan Madang, Papua Nugini, yang waktu itu daerah jajahan Australia. Mengapa di kedua daerah itu? Jepang terpancing pada dis-informasi yang dilancarkan sekutu, bahwa tentara Amerika akan menguasai daerah Wewak dan Madang. Sehingga Jepang memusatkan kekuatan militernya di tempat itu.

Padahal, sasaran MacArthur adalah Irian, sebelah baratnya Papua Nugini, yang sekarang bernama Papua, yang waktu itu merupakan daerah jajahan Belanda. Yang kelak bergabung kepada Indonesia.

Pelajaran penting dari kisah ini: Yang mampu melihat secara jeli keunggulan lokasi geografis sebuah negara, dia lah yang akan ditakdirkan jadi pemenang perang. MacArthur lebih paham nilai strategis Irian atau Papua dibanding Jepang. Bahkan ketika tentara sekutu mendarat di Irian, Jepang sama sekali tidak mengerahkan kekuatan militernya secara penuh. Bahkan Jepang tidak mencegah pendaratan sekutu di Irian dengan kapal kapal besar.

Rupanya dalam cara pandang geopolitik Jepang terhadap Indonesia, Irian tidak dianggap penting oleh negara matahari terbit itu. Barulah setelah sekutu mendarat di Biak, Jepang baru ngeh bawah Biak merupakan batu loncatan ke Filipina. Setelah sadar Jepang baru mengerahkan pasukannya besar-besaran ke Biak, tapi sudah terlambat.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaJika Indonesia Ingin Bergabung Dalam BRICS, Harus Punya Specific TargetSelanjutnyaMembaca Perilaku Geopolitik Abad Ke-21 Melalui Clue Lokal

Lainnya di Geopolitik

Lihat semua
Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah
Analisis

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur TengahTimur Tengah

13 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents