Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Terjebak Perdebatan Kaum SofisKaum Sofis

Rusman

Rusman·15 Juni 2025·3 menit baca

Bagikan
Terjebak Perdebatan Kaum Sofis
Kontemplasi di Era Babat Alas
Dinamika politik hari-hari ini, sepertinya tidak ada lagi ruang untuk isu pengalihan dan/atau pengalihan isu melainkan becik ketitik olo ketoro (perbuatan baik akan terlihat pada waktunya, begitu pula perbuatan buruk akan terlihat pada waktunya). Hampir semua ‘bau busuk’ tercium, lalu segala sesuatu kang olo (hal buruk) baik isu masa lalu apalagi di era kini bermunculan satu per/satu. Metungul. Itu bukan kebetulan, tapi telah menjadi ketetapan zaman. Dalam khazanah Ghoibul Ghuyyub rancangan para sufi — tahap ini dinamai Babat Alas (2025 – 2029). Wayah e resik-resik alias karmapala. Siapa menebar bakal menuai.
Sekali lagi, tidak ada lagi pengalihan isu. Hampir semua isu jalin-berjalin justru saling melengkapi antara satu dan lainnya terutama isu kebusukan rezim (sistem dan aturan) di era reformasi tatkala UUD 1945 karya the Founding Fathers diamandemen —diganti— (1999 – 2002) oleh kaum reformis gadungan. Itulah ‘kudeta konstitusi’. Salah satu tokoh penting negeri ini menyebut isu penggantian UUD 1945 empat kali itu sebagai Silent Revolution alias Revolusi Senyap. Inilah prolog dalam kontemplasi kecil ini.
Maraknya korupsi misalnya, dari perspektif hulu — itu bukan sekadar bobroknya mental, hancurnya moral atau karena tipisnya iman para penyelenggara negara, bukan! Di beberapa diskusi intelektual menyatakan bahwa penyebab marak korupsi lebih mengerucut kepada dominannya sistem politik yang cenderung korup. Atau faktor high cost politics; ataupun berkembangnya dinasti politik; liberalisasi konstitusi dan lain-lain. Sekali lagi, hampir semua isu negatif di era reformasi ini lebih didominasi karena sistem politik, selain faktor moral dan iman di atas.
Memang. Usai UUD diamandemen, selain konstitusi berubah individualis, liberal dan kapitalistik, juga sangat dominannya partai politik dalam praktik tata negara, kedaulatan rakyat menghilang dan yang paling memprihatinkan bahwa sistem yang kini dianut (UUD 2002) telah meninggalkan Pancasila sebagai norma hukum tertinggi.
Jadi, janganlah kegaduhan di publik dalam rangka merespon dinamika politik hulu dikecilkan dengan olok-olok bahwa ini kelompok kalah pilpres belum move on, atau ini ulah kelompok pembenci, dan lain-lain. Gilirannya kita menjadi tak netral. Kurang objektif. Tidak jujur kepada diri sendiri. Lupakah kita dengan kebenaran yang kerap dikhianati? Atau, banyak fakta dikaburkan, atraksi manipulasi data, rekayasa isu, orkestrasi kebohongan dan kebodohan secara berkala?
Dalam kondisi seperti ini, kekuasaan yang terus menerus memutarbalikkan fakta dan kebenaran niscaya akan memunculkan ketidakpercayaan publik (public distrust), kemudian timbul penolakan serta perlawanan rakyat. Kebenaran memang akan mencari jalannya sendiri. Sebab, ia (kebenaran) hanya dapat disalahkan tetapi tak bisa dikalahkan. Itu sunatullah.
Perlawanan publik terhadap ketidakbenaran tidak berarti selalu angkat senjata. Bukan! Kredo di atas sudah menggelincir menjadi masa lalu. Justru perlawanan kerap hadir dalam ‘diam’. Pengungkapan fakta, misalnya, atau menolak ikut arus, atau menjaga integritas disaat semua nyaris menjual moral dan menggadai prinsip. Istilahnya: “Menukar petunjuk dengan kesesatan.” Retorika sederhananya begini, bagaimana dikatakan benar sedang langkahmu tidak sesuai petunjuk?
Nah, sesuai judul kini membahas sekilas perihal kaum Sofis. Ya. Kaum Sofis adalah sekelompok filsuf profesional Yunani Kuno di abad ke-5 dan ke-4 SM. Mereka terkenal karena mengajarkan berbagai mata pelajaran, termasuk retorika dan dinilai sebagai guru-guru terampil dalam berpidato dan berargumentasi. Kendati tidak membentuk mazhab filosofis yang kohesif, mereka memiliki pandangan relativis tentang kebenaran dan etika.
Kaum Sofis berpendapat bahwa kebenaran dan nilai-nilai moral adalah relatif, bukan absolut, dan bahwa apa yang dianggap benar atau baik tergantung pada sudut pandang individu atau kelompok.
Singkat kata, kaum Sofis merupakan guru-guru yang mengkhususkan diri dalam retorika serta mengajarkan relativisme yang memiliki dampak signifikan pada pemikiran Yunani Kuno, meskipun menuai kritik.
Menurut Hegel (1995 – 1840), kaum Sofis adalah kaum subjektivis yang reaksi skeptisnya terhadap dogmatisme objektif kaum pra-Socrates disintesiskan dalam karya Plato dan Aristoteles.
Tampaknya, dinamika politik pasca Pilpres 2024 kemarin, mengarah pada pola dan modus perdebatan kaum Sofis. Unik. Masing-masing kelompok melihat sesuatu menurut ukurannya. Tidak ada kebenaran absolut melainkan relatif. Nisbi. Kebenaran bergerak sesuai tuntutan (masing-masing), misalnya, apabila kelompok sini menyatakan angka 6 (enam), maka kelompok sebelah sana menyebutnya angka 9 (sembilan). Karepe dewe. Bingung. Bener e dewe-dewe. Topik apa saja selalu berhadap-hadapan dan dihadapkan menurut cara pandang masing-masing.
Entah sampai kapan.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaAntara Polemik Aceh – Medan dan Konflik Israel versus IranSelanjutnyaAS Berencana Menghidupkan Kembali Program Militerisasi Ruang Angkasa ala Strategic Defence Initiative (SDI)

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents