Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

Warisan Buya HamkaBuya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Rusman

Rusman·10 Maret 2024·2 menit baca

Bagikan
Warisan Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Beberapa minggu yang lalu kami membersihkan lemari buku dan memilih buku-buku yang akan disumbangkan ke perpustakaan di kampung kami,

Ada beberapa buku karangan Buya Hamka dan saya kembali membaca novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” ini

Dari hasil membaca dengan lebih teliti, saya bisa simpulkan bahwa buku ini mempunyai pesan yang sangat penting, apalagi Buya Hamka adalah tokoh ulama besar kita, maka pastinya beliau menyisipkan pesan yang bermanfaat,

Maka bisa saya lihat bahwa cinta Zainudin dan Hayati adalah bentuk cinta murni yang berasal dari Tuhan, yang tumbuh dalam hati yang bersih, sebagaimana cinta yang murni maka ia akan berhadapan dengan dua musuh bebuyutannya;

Yang pertama adalah Tradisi,

yaitu tradisi yang tidak berakar pada ajaran agama, maka tradisi ini hanya mengikuti nafsu dan ego saja, Zainudin dan Hayati adalah dua anak manusia yang harusnya dilindungi oleh hukum adat yang berjalan sesuai dengan agama, tapi justru mereka dipisahkan oleh tradisi yang entah diciptakan dari mana.

Seperti bid’ah yang merupakan inovasi, kita sampai hari ini sering dihadapkan dengan kebiasaan yang disebut sebagai “tradisi” yang kalau kita tidak mengikutinya maka kita akan dicemooh dan dijauhi oleh semua orang, sering kita dengar : “nanti gak enak sama orang” atau “apa kata orang kalau kita tidak melakukannya?”

Yang kedua adalah Kebaratan, Kebebasan dan Modernisasi.

Cinta Zainudin dan Hayati adalah cinta yang berdasarkan pada keimanan, dan lawannya adalah kebodohan yang dikemas dengan label “modern, maju, barat dan bebas”

Padahal label itu hanya untuk menutupi kebodohan dan keprimitifan ajaran modern yang berasal dari barat, mereka berkata pada Hayati : nanti kamu akan dikurung dirumah saja sampai berdebu, pikiranmu akan tertutup seperti kearab-araban, hidup seperti itu tidak akan bahagia dan tidak akan maju.

Ketika sudah terkena serangan pemikiran Barat itu maka justru yang didapati oleh Zainudin dan Hayati adalah kehancuran dan ketidakbahagiaan.

Saya pikir bahwa novel ini adalah masterpiece dari Buya Hamka, karena kehalusan tata bahasanya dan kisah cinta Zainudin dan Hayati yang dikemas indah seperti kisah cinta Romeo dan Juliet,

Tapi bukan Buya Hamka kalau tidak menyisipkan pesan penting yang masih relevan sampai hari ini,

Yaitu kesucian dan kemurnian hati yang tulus akan selalu berhadapan dengan musuh bebuyutannya yaitu tradisi dan liberalisme.

Inilah warisan dari Buya Hamka untuk kita, selain buku-bukunya dan Tafsir Al Azhar yang sangat indah dan dalam maknanya seluas samudra.

Akhirnya dari semua buku-buku kepunyaan Papa, semua koleksi Buya Hamka yang masih kami simpan di rumah.

Susan Devy, Peminat Sosial-Budaya

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKiai Imad dan Gus Rumail Sepakat Tidak Ada Kitab Nyatakan Ahmad bin Isa Hijarh Ke YamanSelanjutnyaProfesor DR A Sartono Kartodirdjo Membuka Pintu Bagi Masa Depan

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents