Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Yang Membuat dan Yang Dicatat

Hendrajit

Hendrajit·31 Oktober 2025·4 menit baca

Bagikan
Yang Membuat dan Yang Dicatat

Dunia politik Amerika Serikat mempunyai kisah unik yang sering diulang-ulang. Seorang muda berbakat dan memiliki kepemimpinan potensial, berhasil meraih kedudukan anggota Kongres. Atau menjadi senator negara bagian. Kemudian menanjak menjadi senator nasional. Setelah cukup lama, menjadi eksekutif dalam jabatan gubernur negara bagiannya.

Pola lokal, nasional, kemudian kembali ke daerah, mematangkan kepribadiannya. Hingga akhirnya ia dipandang potensial menjadi presiden. Tapi nasib menghendaki lain. Setelah begitu terkenal melalui berbagai jabatan, ia hilang. Tidak ada yang tahu di mana ia. Tidak tahunya ia menjadi wakil presiden – setelah kalah bersaing dengan orang-orang lain yang juga sama-sama potensial.

Cerita di atas menunjukkan kecilnya arti kedudukan wakil presiden – setidak-tidaknya di masa lampau. Garner, di bawah Presiden Roosevelt, adalah contoh sempurna untuk ‘orang hilang’ itu. Sudah menumbuhkan ambisi pribadi yang luar biasa, akhirnya harus menerima nasib menjadi pimpinan sidang di Senat belaka, ditambah kerja membuka upacara dan meresmikan proyek-proyek seluruh negeri. Tidak diajak mengambil keputusan dalam masalah menentukan.

Presiden lebih percaya kepada para pembantunya sendiri. Sering para presiden mengambil seorang lawan sebagai calon wakil presiden untuk kepentingan politiknya sendiri: keseimbangan geografis (Kennedy dari sudut timur laut negeri, Johnson dari barat daya), agama ataupun etnis (Carter Anglo-Sakson mulus, Mondale dari etnis Skandinavia).

Hosni Mubarak

Sudah untung kalau kematian presiden menampilkan para wakil menjadi presiden. Seperti Truman yang menggantikan Roosevelt yang mati jantung, dan Johnson yang menggantikan Kennedy yang tertembak. Atau juga menjadi presiden atas tenaga sendiri setelah berakhirnya masa jabatan ‘kelas dua’, seperti Richard Nixon (wakil presiden untuk Eisenhower 1953-1961, kemudian presiden terpilih 1969-1975).

Kekeasalan mereka umumnya berkisar pada tidak efektifnya jabatan setinggi itu – di hadapan kekuasaan tunggal sang presiden di bidang eksekutif. Itu hanya mungkin terobati kalau memang jelas ia dipersiapkan untuk mengganti presiden nantinya. Seperti Hosni Mubarak sewaktu Sadat masih hidup. Tujuh tahun ‘magang’, dalam jabatan kedua, tetapi jelas dalam pola pemagangan yang tidak membuat putus asa pelakunya.

Politikus yang merasa berhak memimpin negara memang sering jengkel harus berbagi kekuasaan dengan orang lain. Ia merasa tidak membuat sejarah. Dalam pandangan politisi seperti ini, sejarah hanya dibuat oleh mereka yang menduduki tempat pertama. Selain itu, semuanya hanya termasuk catatan sejarah. Apalagi kalau presiden sebagai pemegang kedudukan pertama tidak memberi kesempatan sama sekali untuk berperan kepada wakilnya, seperti Wakil Presiden Nance Garner di atas.

Tidak seperti para presiden belakangan ini, yang seakan sengaja memberi hak kepada wakil presiden mereka untuk turut memutuskan kebijaksanaan pemerintah di tingkat nasional. Johnson yang di’santuni’ begitu baik oleh Kennedy (walaupn masih juga tidak puas), Mondale yang dihargai Carter (tidak pernah terdengar keluhannya), dan Bush yang “dimanjakan” Reagan (asal tahu diri, tidak melawan para pembantu terdekatnya, Baker dan Meese).

Begitu halusnya perbedaan antara pembuat sejarah dan yang menjadi catatan sejarah saja. Hosni Mubarak tidak tahu apa-apa tentang perundingan perdamaian dengan Israel. Ia tidak pernah ke Israel sekali pun. Seolah kenyataan ini membedakan Mubarak yang menjadi catatan sejarah dari Sadat sang pembuat sejarah. Wakil presiden yang tadinya kalah dalam persaingan kepresidenan dari lawan politiknya, dicatat oleh sejarah sebagai ‘orang yang juga menjadi calon’ (the alson ran) – tokoh pelengkap belaka di balik keperkasaan pihak yang menang.

Akan lebih besar kejengkelannya, jika sebelum menjadi wakil presiden ia sendiri telah membuat sejarah. Umpamakan sajalah Bung Tomo almarhum menjadi wakil presiden. Ia, yang begitu berapi-api membakar semangat arek Suroboyo, dan dengan demikian membuat sejarah dengan cara dan dalam lingkupnya sendiri, sudah tentu akan merasa konyol dalam peranan orang kedua tanpa wewenang yang jelas. Tidak heranlah jika kemudian si bung yang satu ini merasa sudah puas dengan peran kesejarahannya yang begitu pendek di tahun 1945 itu – lalu tidak mengejar peranan lain. Salah-salah bisa frustasi.

Dari sudut pandangan ini, memang menarik mengikuti perkembangan di Mesir sepeninggal Anwar Sadat. Mampukah Mubarak menjadi pembuat sejarah yang setara dengan Sadat dan Nasser, setelah tujuh tahun hanya berfungsi sebagai catatan belaka? Sadat lebih lama lagi: enam belas tahun – itu pun yang sering jadi ejekan orang.

Baru setelah sang ‘juragan’ Nasser, ia memperoleh kesempatan. Peranan itu dilakukannya dengan tidak tanggung-tanggung – akhirnya harus ditebusnya dengan jiwanya sendiri. Mampu tidaknya Mubarak bergerak dari catatan sejarah menjadi pembuat sejarah, hanya sejarah yang akan menjawabnya. Padahal, di kawasan begitu bergolak di negara tua Mesir itu, hanya pembuat sejarah yang dapat lama memerintah.

Oleh: Abdurrahman Wahid

Sumber:  TEMPO, No. 35, Thn. XI,31 Oktober 1981

 

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaSuasana TerbukaSelanjutnyaRatu Belanda

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents