Amerika Sedang Mewacanakan Seorang Calon Presiden Masa Depan. Mayor Tulsi Gabbard

Bagikan artikel ini

Amerika Serikat kerap bikin kejutan. Kali ini, seorang wanita berlatarbelakang perwira tentara cadangan (national guard), asal Hawaii yang berarti bukan dari ras kulit putih Anglo Saxon, dan perempuan pula, digadang-gadang bakal jadi calon presiden Amerika berikutnya. Inilah dia Mayor Tulsi Gabbard, dari negara bagian Hawaii. Saat ini, merupakan salah satu anggota Kongres mewakili partai Demokrat di Kongres.

Berbeda dengan Bill Clinton, Obama ataupun Trump, Tulsi merupakan veteran militer dari tentara cadangan yang pernah dapat bintang tanda jasa saat bertugas di Irak pada 2004 dan 2009.  Namun yang lebih menakjubkan lagi, meski berlatarbelakang tentara Tulsi menentang perang sebagai landasan diplomasi Amerika. Meskipun pada pada 2004 dan 2009 pernah dikirim sebagai tantara AS ke Irak. Bahkan pada 2009 sempat menjadi komandan pleton Polisi Militer AS.

Namun rekam jejaknya sebagai politisi dan anggota kongres partai demokrat tidak kalah spektakuler. Pada 2017 pernah memprakarsai  draf Undang-Undang yang cukup mengejutkan. Stop Arming the Terrorists Act! Hentikan bantuan senjata maupun bantuan-bantuan terselubung lainnya terhadap para teroris. Ini tentu saja menarik mengingat selama ini CIA maupun Pentagon diyakini sejak era Perang Dingin hingga sekarang kerap memberi bantuan dari balik layar terhadap milisi-milisi bersenjata seperti Free Syrian Army, Jabhal al-Nusra, Boko Haram, Al Qaeda maupun ISIS, untuk melakukan aksi-aksi destabilisasi di Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika Utara.

Sayangnya prakarsa Tulsi Gabbard dihentikan oleh para anggota kongres lainnya yang berada dalam kendali organ-organ pelobi zionis Israel. Sehingga Al-Qaeda maupun ISIS masih bisa berkeliaran bebas hingga sekarang.

Draf UU yang diajukan Tulsi Gabbard tersebut pada intinya melarang pemerintah federal AS untuk mempersenjatai secara terselubung kepada Al-Qaeda, Jabhat Fateh al Sham, the Islamic State of Iraq and the Levant, maupun perorangan dan kelompok yang berafiliasi dengan kedua organ tadi. Adapun yang dimaksud dengan bantuan terselubung itu mencakup bantuan senjata, pelatihan militer, berbagai informasi intelijen, maupun bantuan keuangan dalam segala bentuknya.

Sisi menarik dari usulan Tulsi bukan sekadar keberaniannya dalam mengajukan draf undang-undang yang cukup sensitif tersebut. Namun tersirat di balik prakarsa Tulsi Gabbard mengandung pesan sentral bahwa selama ini pemerintah AS memang telah melancarkan operasi intelijen membantu kelompok-kelompok misi bersenjata di beberapa negara baik Timur-Tengah, Asia Tengah, maupun Afrika Utara, untuk melancarkan aksi-aksi terorisme berbendera Islam.

 

Untuk lengkapnya silahkan Baca artikel yang ditulis Gordon Duff:  The War Against America’s Only Anti-War Candidate

 

Sekembalinya ke Amerika, pada 2006 sempat bekerja sebagai tenaga ahli dari Senator asal Hawai Daniel K Akaka, menangani beberapa isu strategis seperti energi, lingkungan hidup, dan keamanan dalam negeri. Juga nasib para veteran militer. Seraya pada saat yang sama masuk Akademi Militer Alabama. Dan lulus dengan ranking tertinggi.

Pada 2009 lulus dari fakultas bisnis administrasi di Pacific University. Maka sebagai perwira pada National Guard atau tantara cadangan, Tulsi dikirim kembali ke Irak pada 2009. Dan menjadi komandan pleton Polisi Militer Amerika. Tulsi juga pernah menjadi pelatih tantara cadangan Kuwait. Sejak itu Tulsi diberi kenaikan pangkat jadi mayor.

Pandanganya yang anti perang dan menekankan pentingnya perdamaian, membawanya ke daerah konflik di Suriah. Bahkan berhasil bertemu dengan Presiden Bashar al Assad untuk membahas upaya ke erah perdamaian dan stabilitas politik. Tentu saja ini merupakan sebuah keberanian yang langka di kalangan anggota kongres AS saat ini yang sebagian besar merupakan pembawa aspirasi kepentingan nasional Israel dan Zionis Yahudi.

Lebih menakjubkan lagi, Tulsi bahkan tertarik untuk menyelidi apa yang ada di balik serangan gas di provinsi Idlib, sehingga serangan itu seakan untuk memberi pembenaran bagi Presiden Trump untuk melancarkan serangan rudal secara illegal ke Suriah.

Nampaknya, dengan secara gencar menggulirkan wacana anti perang dan perdamaian, Tulsi sedang mematangkan dan memantapkan reputasi dirinya sebagai salah seorang pakar kebijakan luar negeri AS terbaik di Amerika dalam beberapa tahun ke depan.

Diolah kembali oleh Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute

Facebook Comments