Benarkah akan Datang Gelombang Perubahan Konstitusi dan Tatanan Politik? (Bagian 2)

Bagikan artikel ini

Telaah Ringan Filsafat, Geopolitik dan Geospiritual atas Fenomena Politik di Tanah Air

Geopolitik memberi sinyal, bahwa kehandalan, kecanggihan dan/atau kehebatan sebuah “sistem negara” dapat diukur apabila ia bersifat lentur, flexibel dan mampu bertahan dalam fluktuatif isu lingkungan strategis yang bergerak baik di internal terutama dari sisi eksternal. Banyak contoh kasus. Retorikanya, berapa kali orde lama dahulu berganti sistem konstitusi dan kabinet untuk bertahan terhadap isu lingkungan; atau, kenapa Uni Soviet bisa musnah ditelan bumi; berapa negara di Jalur Sutra menjadi porak poranda gegara isu-isu sektarian, atau isu Arab Spring, HAM, ataupun isu senjata pemusnah massal, dan seterusnya. Artinya, beberapa negara akhirnya hancur lebur bahkan musnah akibat sistem negaranya tidak mampu bertahan (atau menyesuaikan) dari dinamika geopolitik global pada masanya.

Dan lagi-lagi, geopolitik mengajarkan bahwa tidak ada perang agama, atau perang akibat isu-isu melainkan karena faktor geoekonomi. Sesungguhnya isu hanya pintu pembuka dari sebuah skenario yang hendak digelar oleh si pemilik hajatan. Retorikanya begini, akankah isu pelanggaran HAM di Libya menjadi genting bila Libya hanya penghasil kurma; mungkinkah akan muncul isu (hoax) Saddam menyimpan senjata pemusnah massal apabila Irak cuma produsen nasi kebuli? Dan masih banyak lagi retorika sebagai indikasi ketidaknyambungan antara isu dengan ujung isu berlabuh.

Tidak bisa dipungkiri, hampir semua dinamika geopolitik global bermuara pada geoekonomi. Urutannya seperti ini: Geopolitik-Geostrategi-Geoekonomi. Jangan dibolak-balik. Mungkin itu keniscayaan. Jadi, tebaran isu, peperangan fisik dan seterusnya sebenarnya hanya geostrategi belaka. Tidak lebih. Ya hakiki geostrategi adalah cara, modus dan jalan guna mencaplok geoekonomi di negara target.

Selanjutnya geoekonomi itu sendiri meliputi air (bersih), pangan dan energi. Dalam terminologi United Nations (PBB) disebut: “Water, food and energy security“. Ketika Deep stoat, sang pakar strategi Amerika Serikat (AS) memberikan kontribusi pemikiran agar follow the oil (ikuti aliran minyak) jika ingin memahami geopolitik, bukan berarti Stoat mengecilkan makna dari geoekonomi, tetapi minyak —pada masanya—merupakan salah satu komoditi unggulan yang mampu membeli semua, bisa mengubah dunia bahkan hingga sekarang. Kata Stoat, if you would understand world geopolitics today, follow the oil.

Dalam perkembangannya, geoekonomi kini bersifat multi-asumsi. Follow the rare earth, misalnya, ataupun follow the money, follow the market, follow the state policy, dan lain-lain. Tergantung teks dan konteks.

Mencermati laju geopolitik Cina, contohnya, silahkan follow the OBOR (One Belt One Road). Ikuti kemana program “OBOR”-nya Xi Jinping bergerak. Ini tergolong masuk follow the state policy. Dan melalui OBOR pula, akan terlihat varian dan turunan (modus geostrategi) yang menyanggahnya, mungkin investasi Turnkey Project Management (TPM), bisa jadi melalui geliat Huawei yang lintas benua, atau ekspansi Alipay, WeChat, dan e-money lainnya, atau bisa pembangunan infrastruktur yang dibiayai Cina atas nama OBOR dan seterusnya. Dan apabila menelusuri jejak geopolitik AS, silahkan cermati fluktuasi dollar, ikuti dimana sumber-sumber minyak dan kemana ia mengalir, serta urgensi kepentingan Yahudi/Israel di suatu negara tertentu.

Palestina semakin “mengecil” pada peta dunia, contohnya, selain faktor urgensi kepentingan Yahudi (Israel) di sana, juga karena ada potensi minyak di Tepi Barat dan Levantine Basin; Yaman diserbu koalisi militer pimpinan Saudi Arabia disebabkan Al Houti, faksi pemberontak di Yaman sudah merambah Teluk Aden, salah satu “teluk basah” (oil) yang selama ini dalam pantauan Armada Perang AS; atau tatkala Irak dikeroyok koalisi militer pimpinan AS berbekal isu (hoax) senjata pemusnah massal, juga karena Saddam berencana mengubah semua transaksi minyak dan cadangan devisa Irak dalam bentuk Euro (dan bukan US Dollar lagi), dan lain-lain.

Kembali ke geopolitik dan geoekonomi, poin intinya bahwa daya tahan sistem negara dapat dilihat dari pilar-pilar geoekonomi. Maka ketika sebuah negara sudah diterjang defisit APBN, defisit perdagangan, defisit pembayaran, dan seterusnya secara geopolitik itu tergolong rawan. Selain sistem negaranya sudah rapuh, juga sisi kedaulatannya ringkih karena sudah memiliki ketergantungan dengan negara lain.

Nah, sebagaimana unsur ketidakpercayaan publik (public distrust) di awal tulisan ini [Benarkah akan Datang Gelombang Perubahan Konstitusi dan Tatanan Politik? (Bagian 1)] terhadap sistem negara, maka kondisi ini dapat memicu munculnya perubahan, karena perubahan apapun niscaya dimulai dari faktor ketidakpercayaan. Entah pergeseran lanskap politik, atau perubahan konstitusi, dan lain-lain.

Secara geoekonomi, hari ini, republik tercinta ini tengah mengalami tiga defisit neraca nyaris berbarengan, antara lain defisit perdagangan, APBN dan defisit neraca pembayaran. Dari sisi geopolitik, kemungkinan hal ini akan menjadi faktor pemicu perubahan sistem negara karena sistem yang ada tidak mampu bertahan dari fluktuatif isu lingkungan strategis dan tekanan dinamika geopolitik global. Wait and see.

Merujuk judul catatan ringan dan sederhana ini, bagaimana geospriritual mencermati isu-isu pergeseran lanskap politik di Bumi Pertiwi serta perubahan konstitusi negara?

(Bersambung ke Bagian 3)

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments