Indonesia Digempur dari Empat Penjuru

Bagikan artikel ini

Telaah Kecil atas Perilaku Geostrategi Asing di Indonesia

Geopolitik mengendus, ada beberapa agenda asing tengah beroperasi secara senyap namun dengan intensitas masive, sistematis serta terstruktur —karena hampir tidak disadari oleh sebagian anak bangsa— untuk melemahkan NKRI dari sisi internal. Dan canggihnya, agenda asing dimaksud menumpang pada dua isu lingkungan strategis yang bersifat global baik isu geopolitical shift (pergeseran geopolitik) dari Atlantik ke Asia Pasifik atau membonceng di isu bergantinya power concept, yaitu dari power militer di depan berubah menjadi power ekonomi di depan dalam kredo geopolitik para adidaya. Itulah dua isu aktual di abad ke-21 meski sesungguhnya masih merupakan isu-isu dasar dan mentah dari setiap isu yang kelak timbul di permukaan.

Singkatnya, bahwa melalui kedua isu tersebut, layar skenario kedepan sebenarnya sudah bisa dibaca bahwa di Asia Pasifik pada abad ke 21 ini, bakal ada perlombaan power ekonomi oleh para adiddaya daripada persaingan militer. Pun skenario ini, jangan lantas ditanggapi bahwa tidak perlunya kekuatan militer atau tak akan ada serangam militer. Bukan begitu logikanya. Si vis pacem bara bellum. Siapa ingin damai bersiaplah untuk perang. Taksiran dan tafsiran kondisi atas isu perubahan power concept tadi, artinya adalah bahwa bidang ekonomi akan mendominasi modus (geostrategi) para adidaya dalam perebutan hegemoni di pasar global.

Hari ini dan kedepan, pendekatan nirmiliter (ekonomi) niscaya lebih menonjol daripada pendekatan kekuatan (militer). Munculnya trade war merupakan konsekuensi atas isu perubahan power concept di atas. Nah terkait judul di atas, pertanyaan selidik pun muncul, “Apa saja agenda senyap asing tersebut?”

Sebelum jauh melangkah, kita sepakati saja untuk diksi “agenda senyap asing” diubah frasanya menjadi “alat penyerbu” guna menyelaraskan narasi dengan judul.

Geopolitik mencermati, bahwa yang diserbu selama ini hanyalah sasaran antara belaka, bukan (sasaran) tujuan pokok. Bahwa tujuan pokok atau target utama kolonialisme tetaplah lestari sepanjang masa yakni penguasaan geoekonomi negara yang ditarget. Bila diksi geoekonomi dalam penjajahan purba artinya rempah-rempah, sedangkan geoekonomi di era kini maknanya ialah pangan, emas, minyak, gas bumi dan/atau jenis mineral lainnya, kendati United Nations atau PBB lebih menekankan kepada water, food and energy (air bersih, pangan dan energi).

Sedangkan “alat penyerbu” yang akan dibahas, sejatinya hanya bagian kecil dari geostrategi senyap asing dalam rangka mengacak-acak sebuah negara (target) koloni, termasuk Indonesia.

Tak boleh disangkal, bahwa alat penyerbu yang tengah digunakan oleh asing, selain berdaya rusak tinggi dalam penghancuran semangat dan iman perjuangan, mampu melemahkan daya juang bangsa terhadap kolonialisme di negaranya, ia juga mampu mengaburkan perhatian publik agar skenario penjajahan yang tengah dijalankan secara asimetris (nirmiliter) tidak dipahami oleh bangsa terjajah. Seolah tidak terjadi apa-apa, seakan-akan semua asyik-asyik saja.

Sedangkan alat penyerbu dimaksud antara lain meliputi media massa, narkoba, korupsi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Untuk LSM, khususnya bagi LSM yang memiliki afiliasi ke asing patut diwaspadai. Adanya kucuran dana di satu sisi, dan prinsip no free lunch di sisi lain. Ya kendati tak sedikit LSM yang masih merah putih, nasionalisme, dan cinta tanah air. Itulah beberapa alat penyerbu kaum penjajah dari sisi hilir bahkan kerap menjadi metode atau “pintu masuk” kaum kolonial untuk membuat kegaduhan secara senyap di negeri ini.

Sekali lagi, hal-hal di atas cuma metode kolonialisme di sisi hilir semata. Sedang pintu masuk kolonialisme di hulu tidak dibahas dalam catatan ini, kecuali sedikit untuk menyambungkan narasi.

Dan menyaksikan praktik selama ini, hampir semua pintu masuk sepertinya terbuka lebar, berjalan mulus, dan lancar karena selain faktor euporia demokrasi tak kunjung reda, kemajuan teknologi informasi dan teknologi (IT), juga yang utama akibat merebaknya virus di publik apa yang disebut dengan istilah stockholm syndrome. Inti stockholm syndrome ialah: “Virus politik yang merebak pada suatu bangsa dimana menjadikan sikap mental bangsa terjajah justru jatuh cinta kepada kaum kolonial yang menghisap geoekonomi negerinya.”

Kembali ke alat penyerbu. Soal media massa contohnya, jangan heran bila banyak media massa tidak jujur (tak netral) mengabarkan fakta dan informasi. Selalu ada edit berita, counter dan framing media apabila terkait kepentingan “tuan”-nya. Bahkan ada semacam silent operation, selain guna mengecilkan peristiwa besar juga mengalihkan persoalan hulu bangsa menjadi isu-isu receh di hilir persoalan bangsa.

Pun demikian dengan maraknya narkoba dan korupsi di Indonesia. Inilah modus pelemahan bangsa. Narkoba adalah sarana termurah untuk merusak bangsa secara mental, sedang korupsi sarana merusak moral tetapi justru melalui sistem negara itu sendiri. Ya korupsi di Indonesia memang diciptakan oleh sistem itu sendiri yang justru melekat dalam konstitusi negara. Menempel di sistem politik Indonesia terutama dengan berlakunya multi partai, one man one vote, dan lain-lain.

Tidak heran jika beberapa LSM terutama yang berafiliasi keluar terkesan memperjuangkan KENARA (Kepentingan Negara Asing) bukan meneriakkan KENARI (Kepentingan Nasional RI). Retorikanya, “Apakah kita sadar?”

Secara naratif sebenarnya bangsa ini sadar. Hanya kesadaran itu bertingkat-tingkat, terutama bagi person dan/atau entitas yang tercemar stockholm syndrome. Berdasarkan cermatan, mereka —kaum pengidap stockholm syndrome— terbagi tiga tingkatan, antara lain meliputi:

Pertama: “Faktor Kedunguan Berkala”. Dungu disini bukan bermakna bodoh, bukannya tidak cerdas, atau bukannya tak pintar dan sebagainya. Tetapi lebih kepada ketidakpahaman terhadap situasi dan kondisi yang tengah berlangsung. Mereka cuma paham narasi apa yang terjadi, tetapi tidak mengetahui mengapa ia terjadi. Hanya melihat yang tersurat tetapi tak mendalami hal tersirat di bawah permukaan;

Kedua: “Faktor Opportunis”. Kelompok ini sudah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi namun mereka diam dan larut atas suasana yang berlangsung sebab diuntungkan oleh situasi tersebut. Cari selamat sendiri. Inilah kaum safety player. Entah karena selalu dapat proyek, atau dapat jabatan, mungkin, atau ada “japrem” mengalir, dan lain-lain;

Ketiga: “Faktor Mindset.” Ini yang paling berbahaya. Kenapa? Karena kelompok ini sebenarnya sadar bahkan menyadari dirinya sebagai proxy agents (perpanjangan tangan) dari KENARA di negerinya sendiri. Banyak istilah untuk menamai kelompok ini, seperti komprador misalnya, atau pelacur intelektual, pengkhianat bangsa, dan lain-lain.

Jika dilakukan mapping, kalangan akar rumput berada di tingkat pertama (kedunguan berkala) meski tidak sedikit dari mereka yang secara sosial tergolong kelas menengah bahkan kelas atas secara finansial. Kelompok ini larut akan situasi akibat ketidakpahaman apa yang sesungguhnya terjadi. Kalau di media sosial, mereka tergolong buzzer, kelompok hore, atau mem-“buzzer“-kan diri kendati tidak semuanya berperilaku seperti itu.

Sedang kelas menengah, mayoritas ada di faktor kedua. Mereka berada di zona nyaman (comfort zone). Istilah guyonnya ‘pe we’ (posisi wenak). Mereka enggan beranjak dari kenyamanan-kenyamanan yang direguknya dalam kondisi tersebut. Itulah kaum opportunis.

Sedangkan faktor mindset biasanya ada di tataran elit. Jumlahnya tidak banyak tetapi selain pengaruhnya dan daya rusaknya cukup tinggi serta besar, kelompok ini juga mampu mengambil keputusan terkait hal-hal strategis. Secara geopolitik, kelompok ini adalah bagian dari skema kolonialisme yang hendak ditancapkan di Bumi Pertiwi.

Tulisan ini merupakan analisa secara garis besar, bukannya text book. Jadi masih dapat dikembangkan lagi secara lebih dalam dan luas. Dan analisa kegelisahan ini berbasis geopolitik atas beroperasinya geostrategi asing. Memang belum merupakan kebenaran, apalagi hendak mencari pembenaran. Tak ada maksud menggurui siapapun terutama pihak-pihak yang berkompeten. Sangat terbuka untuk kritik dan saran, karena menyadari bahwa kebenaran apapun sifatnya nisbi, relatif dan ia bergerak sesuai tuntutan zaman guna mendekati kebenaran-Nya melalui tawaf, gerak yang berlawan dengan arah jarum jam.

Terima kasih

M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments