Juan Guaido Ternyata Bukan Kartu Truf Tapi “Kartu Mati”Buat Washington

Bagikan artikel ini

Amerika Serikat gagal mainkan kartu trufnya, Juan Guaido, untuk melengserkan Presiden Venezuela Nikolas Maduro. Pasalnya, Guaido ternyata tidak punya charisma kepemimpinan untuk memobilisasi massa berskala luas sebagaimana diharapkan Washington. Bahkan Juan Guaido pun tidak punya daya tarik dari mayoritas para pendukung kubu oposisi. Praktis Guaido kartu mati untuk dimainkan Washington menggoyang Maduro.

Bahkan lebih parahnya lagi, ketika Guaido kali pertama ditampilkan sebagai simpul kekuatan alternatif untuk menggoyang pemerintahan Maduro, angkatan bersenjata Venezuela tetap bergeming, dan sepenuhnya mendukung pemerintahan Maduro.

Adapun opsi campurtangan militer ke Venezuela, nampaknya juga mustahil diambil Washington, mengingat Rusia secara terang-terangan telah memperlihatkan kehadiran militernya di Venezuela. Begitupula halnya Cina, yang nampaknya sudah mendapat banyak konsesi dalam kerjasama ekonomi dengan pemerintahan Maduro. Baik Rusia maupun Cina sama-sama menanam investasi besar-besaran di Venezuela, khususnya dalam industri hidrokarbon.

Bila merujuk pada artikel yang ditulis oleh Peter Koenig, bertajuk:  Venezuela – Still on the Brink? Quiet Before the Storm

Nampaknya yang paling bersikeras untuk melengserkan Maduro memang kelompok-kelompok liberal yang berpusat pada sebuah think thank di Washington, the Center for Strategic and International Studies. Namun demikian, sebagaimana dinyatakan oleh Duta Besar Venezuela di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Samuel Moncada, nampaknya Presiden AS Donald Trump sedang mempersiapkan sebuah perang melawan seluruh anggota PBB.

 

 

 

Betapa tidak. Sejak upaya kudeta AS dengan menampilkan Guaido sebagai bonekanya, setidaknya 60 negara termasuk Rusia, Cina, Pakistan, India dan Iran, mendukung pemerintahan Maduro atas dasar pertimbangan bahwa Washington telah melanggar Piagam PBB. Dan menuding AS telah bertindak seakan-akan berada di atas hukum.

Bahkan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, mengecam adanya persiapan aksi militer yang digalang oleh AS, Kolombia dan Brazil. Serta memperingatkan dunia internasional bahwa merupakan bencana besar bagi kemanusiaan jika AS dan negara-negara anteknya di Amerika Latin, campurtangan dalam urusan dalam negeri Venezuela.

Mexico yang selama ini dikenal sebagai negara sekutu AS di Amerika Latin, juga menentang aksi ugal-ugalan Washington memainkan Guaido untuk menggoyang Maduro. Presiden Mexico Andrés Manuel López Obrador secara terang-terangan menentang campurtangan AS di Venezuela. Namun Manuel Lopez mengatakan siap menjadi mediator perundingan antara Presiden Maduro dan kelompok Oposisi. Suatu dialog yang sebenarnya sudah disampaikan Maduro sendiri beberapa kali kesempatan.

Tapi ya itu tadi. Garis kebijakan strategis Gedung Putih memang tetap menginginkan lengsernya Maduro. Sehingga tidak ada perundingan dan tawar-menawar.

Di tengah kebuntuan politik ini, Penasehat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, mengembangkan isu baru yang sehingga melebar lingkupnya. Yaitu bahwa Venezuela, Nicaragua dan Kuba, sedang berusaha menyebarluaskan paham sosialisme di kawasan Amerika Latin. Jadi selain mempertaruhkan pengaruh AS dalam bidang minyak di Amerika Latin. AS nampaknya juga mulai menebar isu ideologi untuk membangun peta konflik baru di Amerika Latin. Menyusulnya gagalnya percobaan kudeta setelah terbukti bahwa Guaido bukan kartu truf, tapi malah kartu mati buat Washington.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments