Kapitalisme Global Harus Digebuk Dengan Sepenuh Hati

Bagikan artikel ini

M Arief Pranoto, Pemerhati Masalah Internasional dari Global Future Institute (GFI)

Tanggapan atas Artikel Setyo Budiantoro yang berjudul “Mewaspadai Kapitalisme Global”:Neo-Liberalisme adalah kemasan terbaru kapitalisme. Bila merujuk asumsi Taqiyuddin An Nabhani, maka ujungnya ialah penjajahan sebagai methode baku karena yang berubah selama ini cuma cara dan sarananya. Saya kira, kapitalisme global yang kini cenderung bangkrut tidak hanya diwaspadai saja tetapi harus “digebuk” dengan sepenuh hati!

Bagaimana caranya? Banyak. Untuk Indonesia mutlak harus kembali pada soko guru perekonomian yakni koperasi yang kini telah menjadi sejarah masa lalu bagi bangsa ini. Kapitalisme itu perlu dilawan dengan “armada semut” –meminjam istilah Pak Mohammad Khusnan—yaitu dengan membuat marak ribuan koperasi di seluruh negeri, sehingga mereka tidak akan mempunyai PASAR. Tak akan punya bahan baku. Lihat Koperasi di Hungaria, disana kapitalisme tak berkutik akhirnya justru bermitra dan sejajar.

Kedua, menurut Miranti Serad harus memaksimalkan potensi “industri Indigeneous” dalam pembangunan ekonomi Indonesia. “Industri Indigenous” perannya penting, pemerintah perlu mendesain ulang kebijakan industrialisasi yang integral, dan harus mendukung berkembangnya industri indigenous menjadi “industri yang berkelas dunia”. Mengenai koperasi, kalau dipikir-pikir, Israel tidak lebih besar dari Jawa Barat — sistem koperasinya berjalan dengan baik, model “Kibutz”, menjadikan 1 desa mandiri, dari micro to mega-corporation. Kenapa koperasi kita tidak bisa seperti itu? Seharusnya mampu.

Sedang menurut Kazi Mahmood, Pemimpin Redaksi World Future Online, Malaysia, satu cara yang ampuh untuk lepas dari jeratan kapitalisme adalah dengan menerapkan kebijakan nasionalisasi yang pada saat yang sama didukung oleh sistem anti monopoli yang cukup solid.  Berbagai negara yang menerapkan kebijakan anti kapitalis kemudian dianggap sebagai negara berhaluan sosialis.

Namun yang hendak saya tegaskan di sini adalah, betapa sebagian besar negara-negara bangsa gagal untuk membendung gerak laju kapitalisme akibat watak dasar sistem kapitalisme yang selalu berhasil menciptakan masyarakat yang korup baik di kalangan pemerintahan/rejim maupun para penegak hukum pada khususnya.

Saya meyakini, dan saya kira juga anda semua, bahwa komitmen menerapkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam, khususnya di negara-negara berpenduduk muslim, dapat mengerem pertumbuhan kapitalisme. Sebagaimana yang saya tulis dalam buku saya berjudul: The Islamic Inc, penerapan Sistem Ekonomi Islam yang Sejati, akan berhasil membendung kapitalisme.

Karena di dalam prinsip-prinsip Islam di dalamnya melekat sebuah sistem ekonomi yang bertumpu pada kehendak bebas dan sekaligus komitmen mendukung kebijakan-kebijakan yang berbasis kesejahteraan bagi komunitas bisnis dan bagi rakyat banyak pada umumnya. Beberapa gagasan saya terkait isu ini bisa anda dalami lebih lanjut di http://wfol.tv/.

Facebook Comments