Prabowo Harus Belajar Dari Iran Bermain Di Antara Dua Karang

Bagikan artikel ini

Iran membalas Israel dengan serangan militer masif langsung dari teritorialnya. Serangan Iran mendapat kecaman dari negara-negara blok Barat seperti AS, Inggris, Prancis, plus Korea Selatan dan Jepang. Sementara blok Timur seperti Rusia, Cina, Korea Utara, Brazil, Afrika Selatan, dan Venezuela membenarkan alasan Iran. Ini menarik melihat bagaimana blok-blok ekonomi (EU-OECD-G7) versus BRICS mulai melibatkan diri secara terbuka dalam dukung-mendukung konflik bersenjata.

Yang cukup menarik adalah bagaimana Iran menempatkan diri . Sejak revolusi Iran lebih dari 4 dekade lalu maka ini adalah aksi pertama Teheran menyerang ke dalam wilayah dan sasaran militer Israel langsung dari Iran. Sebelumnya mereka sekadar menggunakan janji ancaman atau serangan melalui pihak ketiga (proxy) kepada target-target Israel. Baik Cina dan Rusia biasanya mengambil langkah sama atau netral seperti blok AS, Inggris, dan Prancis dalam Konsil Keamanan PBB. 

Apa yang dilakukan Iran adalah membuat sebuah aturan permainan baru atau ROE (Rule of Engagement) baik kepada kawan dan juga lawan mereka. Bahwa mereka mempunyai kemampuan melakukan penggentaran kepada lawan. Tidak ada yang dapat memprediksi bila besok Iran menggunakan hulu ledak yang lebih destruktif dengan sasaran acak non militer yang dapat membuat kawasan terbakar bila konflik terbuka terjadi. Blokade laut Yaman di Laut Merah sudah sangat merepotkan, bagaimana bila Iran menutup lalu lintas Teluk Persia.

Meskipun begitu orang Iran adalah bangsa pedagang, mereka orang yang rasional dan bisa diajak berdiplomasi. Ketika para bazariah dan ulama melakukan revolusi 1978 dengan mendukung Khomeini menggulingkan Syah Iran namun mereka tetap menjaga persatuan dengan kelompok pasdarannya (elit militer pendukung Syah). Artinya orang Iran adalah orang yang pandai berhitung untung rugi dan tahu kapan mendorong kapan menarik.

Mereka faham kapan memainkan kepentingan nasionalnya.

Capres Prabowo mesti pandai belajar dari Iran bagaimana membawa Indonesia di antara dua karang.

Konflik dan perubahan struktur ekonomi politik dunia sedang berpindah dari barat ke timur. Ini tentu tidak disukai mereka yang akan kehilangan peran hegemoniknya.

Andi Hakim, pemerhati Sosial-Politik, alumni ITB dan Lee Kuan Yew School of  Public Policy

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com