Modernisasi Militer Korea Utara Isyaratkan Siap Perang Lawan AS

Bagikan artikel ini

Salah satu negara yang gencar mengembangkan teknologi nuklir dan menjadi kekhawatiran bagi AS dan sekutu Eropa Baratnya tidak lain adalah Korea Utara. Memang, sikap Korea Utara tersebut setidaknya membuat presiden AS Donald Trump marah besar dan menyatakan siap untuk perang melawan Korea Utara. Sepertinya, “perang” antara AS dan Korea Utara semakin masuk akal dan mengingatkan kita pada invasi AS di Irak pada tahun 2003 silam dimana AS menuduh adanya kepemilikan senjata nuklir oleh Iraq, meski pada akhirnya semua tuduhan itu tidak pernah terbukti.

Strategi Keamanan Nasional Trump mengatakan Korea Utara dapat menggunakan senjata nuklir melawan AS. AS juga mengklaim bahwa pihaknya menargetkan senjata kimia dan biologi Korut yang belakangan ini dipertontonkannya kepada dunia melalui serangkaian uji coba rudalnya.

Apakah tuduhan ini benar adanya atau omong kosong belaka. Namun apapun tuduhannya, harus diakui kedua belah pihak terus meningkatkan ketegangan, hingga mungkin mengarah ke titik yang tidak bisa ditarik kembali.

Baru-baru ini misalnya, Korea Utara berhasil melakukan uji coba senjata taktis ultramoderen yang merupakan bagian dari upaya modernisasi pertahanan negara itu oleh pemimpinnya Kim Jong Un.

“Ini merupakan semacam upaya reformasi militer Korea Utara,” kata Choi Kang, wakil Presiden The Asan Institute for Policy Studies di Seoul, Korea Selatan, seperti dilansir Channel News Asia, Minggu (18/11/2018).

Menurut pengamat, uji coba senjata berteknologi canggih ini merupakan inisiatif pemimpin Korea Utara, Kim Joung Un, untuk menaikkan standar militer konvensional negara itu dengan 1,3 juta tentara ke level senjata berteknologi tinggi.

Uji coba tersebut sejatinya memberikan pesan kepada dunia bahwa Korea Utara menjadi satu diantara negara berkekuatan nuklir terbesar di dunia. Hal ini sekaligus memberikan pesan bahwa negara komunis tersebut tidak bisa diremehkan oleh negara manapun di dunia, termasuk AS dan sekutu-sekutunya.

Peran senjata berteknologi canggih, yang disebut sebagai tembok bajak ini bisa menggantikan peran senjata nuklir, yang akan dilucuti sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan AS. Seperti dilansir Reuters, Kim Jong Un dan Presiden AS, Donald Trump, dikabarkan bakal bertemu untuk kedua kalinya pada 2019 untuk melanjutkan pembicaraan perlucutan senjata nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

Kehadiran Kim Jong Un menyaksikan langsung uji coba senjata canggih itu merupakan kedatangannya pertama kali. Ini bisa menimbulkan komplikasi terhadap upaya damai yang terus dilakukan Seoul dan Washington.

Saat ini, Korea Utara diketahui memiliki sistem peluncur multi-roket canggih dengan jumlah 5.500 unit. Negara ini juga memiliki 4.300 tank, 2.500 kendaraan lapis baja, 810 pesawat jet tempur, 430 kapal tempur, dan 70 kapal selam.

Lembaga The Centre for Strategic and International Studies menyebut Korea Utara juga diam-diam telah membangun 13 titik peluncuran rudal di bawah tanah, yang selama ini disembunyikan. Korea Utara juga telah melakukan modernisasi teknologi pabrik amunisi untuk menggantikan senjata dan teknologi lama sejak berkuasa 2011.

“Industri pertahanan harus mengembangkan dan memanufaktur senjata strategis yang kuat dan peralatan hardware militer sesuai kebutuhan internal kita, mengandalkan produksi dalam negeri, dan memodernisasi pabrik untuk memproduksi produk berteknologi canggih,” kata Kim Jong Un dalam pidato 2018, yang menyebut negara itu mengutamakan doktrin yang bernama “Juche” yang bisa kita artikan sebagai Kemandirian atau berdikari kalau dalam konsepsi Presiden Pertama RI Sukarno.

“Juche” merupakan ideologi kemandirian Korea Utara, yang merupakan gabungan dari Marxisme dan nasionalisme kuat, yang diajarkan pendiri negara itu, Kim Il-sung, kakek pemimpin Korea Utara sekarang.

Kim Il-sung mengajarkan kepada rakyatnya untuk menancapkan dalam alam sadar mereka akan pentingnya ultranasionalisme dan self-reliance atau kemandirian. Dengan demikian, maka wajar ketika hampir seluruh penduduk Korea Utara begitu yang loyal pada negara dan pemimpin mereka. Loyalitas ini sampai tercermin pada dimasukkannya hari lahir Kim Il Sung dan Kim Jong Il sebagai hari libur nasional.

Dari kredo Juche inilah, Korut mengembangkan teknologi nuklirnya sendiri dan bahkan mampu memberikan ancaman serius, terutama kepada Amerika Serikat menyusul serangkaian uji coba peluru kendali antar benua oleh Pyongyang belum lama ini, yang dapat terbang hingga sekitar 10.000 kilometer dan diperkirakan mampu menjangkau beberapa bagian dari daratan utama AS.

Bukan itu saja. Bahkan, sebelumnya Korea Utara juga berhasil mendapat kemajuan dalam pengembangan bom hidrogen yang akan dimuat dalam ICBM, demikian menurut laporan KCNA, kantor berita resmi Korea Utara.

“Bom-H, yang kekuatan peledaknya dapat disesuaikan dari puluhan hingga ratusan kilo ton, merupakan senjata termonuklir bersifat multifungsi dengan kekuatan perusak yang hebat, meskipun diledakkan bahkan di tempat yang tinggi untuk serangan EMP (Electromagnetic Pulse) super kuat guna menyerang sesuai dengan sasaran strategis,” kata KCNA.

“Semua komponen bom H merupakan buatan dalam negeri dan semua prosesnya… dilakukan atas dasar Juche, sehingga memungkinkan negara untuk menghasilkan senjata nuklir yang kuat sebanyak yang diinginkan,” kata KCNA mengutip pernyataan Jong-un.

Filosofi Juche inilah yang mengilhami bagaimana Korea Utara mampu berdiri sendiri meski dimusuhi, terutama oleh AS dan sekutu-sekutunya meski ia kerap menerima sangsi terutama oleh Dewan Keamanan PBB. Namun, justru karena tekanan yang didapatkannya dari luar Korea Utara seolah mendapatkan amunisi enegri untuk berbenah terutama dalam melakukan modernisasi teknologi terutama dalam industri pertahanan dan penegmbangan senjata setrategis.

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments