Para Pelaku Bisnis dan Pemangku Kepentingan Kebijakan Luar Negeri RI: Saatnya Bangun Kemitraan Bisnis Baru Lewat Yalta International Economic Forum (YIEF)

Bagikan artikel ini

Ada banyak forum kerjasama ekonomi berskala multilateral. Namun yang namanya The Yalta International Economic Forum (YIEF) belum banyak orang tahu. Untuk itu marilah kita telisik sekilas apa itu YIEF. YIEF merupakan perhelatan bisnis yang diselenggarakan setiap tahun yang diadakan di Krimea (Crimea). Sebagai salah satu forum ekonomi bertaraf internasional yang diprakarsai oleh Pemerintah Rusia, YIEF dipandang sebagai forum ekonomi terbesar keempat setelah the Petersburg International Economi Forum, the Eastern Economic Forum, dan the Sochi Investment Forum.

Adapun YIEF itu sendiri sebagai forum pertemuan bisnis tahunan, diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Krimea dan Yayasan YIEF, yang didukung oleh kantor Kepresidenan Republik Federasi Rusia.

Menariknya. Krimea bergabung ke dalam wilayah kedaulatan Rusia berdasarkan referendum 17 Maret 2014, yang mana 96,8 persen rakyat Krimea mendukung penggabungan kembali wilayah tersebut dengan Rusia. Sehingga pada 21 Maret 2014 Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dokumen resmi menjadi sebuah undang-undang, sehingga sejak saat itu Krimea resmi menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Rusia.

Namun demikian, hingga kini reunifikasi dengan Rusia memang masih kontroversial yang mengundang pro dan kontra. Apalagi AS dan sekutu-sekutunya dari Blok Barat, melancarkan beberapa aksi destabilisasi di Krimea dengan menggunakan isu demokrasi dan hak-hak asasi manusia.

Misalnya saja, AS dan blok Barat melancarkan propaganda  terhadap kalangan komunitas Islam seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI) bahwa aparat militer Rusia telah melakukan penindasan terhadap bangsa Tatar yang mayoritas penduduknya bergama Islam. Padahal kalau merujuk pada beberapa kajian terkait kehidupan warga Muslim Tatar di Krimea, justru kehidupannya lebih baik dalam naungan pemerintah Rusia.

Namun tidak semua kalangan komunitas internasional berpandangan negatif dan tendensius seperti AS dan blok Eropa Barat. Buktinya. Pada April 2016 lalu, seorang anggota Dewan Eropa, Gerard Stoud, membuat sebuah laporan berdasarkan hasil kunjungan ke Crimea, terkait tugasnya untuk memantau adanya pelanggaran HAM di Crimea.

Dari hasil laporannya, ternyata tidak ada pelanggaran HAM, dan tidak ada penindasan terhadap warga Muslim di Crimea. Bahkan justru sebaliknya, pemerintah Rusia sangat mendukung semua kegiatan dan kehidupan warga Muslim di Crimea. Kehidupan warga Muslim dan warga Crimea yang punya kedekatan dengan Rusia, berjalan dan berlangsung secara harmonis.

Laporan Gerard Stoud diperkuat oleh Terry  Mazianym Ketua Delegasi Parlemen Perancis yang berkunjung ke Crimea, dan laporannya pada 29 Juli 2016 juga menegaskan tidak adanya pelanggaran HAM di Crimea.
Dengan demikian, manuver diplomatik AS dan blok Barat untuk menggalang dukungan negara-negara berpenduduk Muslim yang tergabung dalam OKI, sudah barang tentu sangat tidak beralasan, dan sarat dengan motivasi politis.

Indonesia Perlu Pertimbangkan Yalta International Economic Forum Untuk Membangun Kemitraan Bisnis

Meskipun Indonesia hingga kini belum mengakui Krimea sebagai wilayah kedaulatan Rusia, namun tak bisa dipungkiri hubungan bilateral Indonesia-Rusia saat ini sangat erat atas dasar saling menguntungkan dan saling menguatkan. Sehingga forum YIEF bagi Indonesia tetap penting untuk dipertimbangkan sebagai alternatif forum ekonomi bertaraf internasional untuk membuka peluang-peluang bisnis dan ekonomi ke depan. Meskipun untuk saat ini masih harus dilakukan melalui jalur People to People dengan Krimea. Namun fakta bahwa hubungan G to G antara Ri dan Rusia saat ini cukup erat dan produktif, tentunya kerangka hubungan baik RI-Rusia diharapkan bisa menginspirasi kerjasama-kerjasama strategis kedua negara melalui forum YIEF.

YIEF sendiri kalau merujuk pada beberapa keterangan yang tersedia, sepertinya memang cukup menjanjikan. Dalam pertemuan tahunjan YIEF pada April 2017 lalu misalnya, pertemuan tersebut cukup sukses dengan dihadiri sekitar 1500 undangan. Yang mana mencakup 150 peserta internasional dari sekitar 40 negara. Untuk sebuah perhelatan yang baru diadakan pada 2015 lalu, forum ekonomi berskala internasional itu tentunya dipandang cukup berhasil dari segi prospek membangun kerjasama bisnis dengan mitra-mitra Krimea dan Rusia dari luar negeri.

Baca:  YALTA INTERNATIONAL ECONOMIC FORUM

Menurut informasi dari Kementerian Pembangunan Ekonomi Republik Krimea dalam keterangannya pada 2017 lalu, kesepakatan melalui memorandum untuk proyek diperkirakan bernilai sekitar 53 miliar ruber Rusia.

Para pelaku bisnis Indonesia yang sedang mencari kemitraan baru di bidang ekonomi dan bisnis, sudah saatnya untuk menaruh perhatian pada YIEF sebagai prospek kerjasama bisnis dengan Krimea dan Rusia. Baik kesepakatan melalui bentuk Perjanjian, Kontrak, maupun Nota Kesepahaman.

9

Selain itu, YIEF setiap forum pertemuan yang diselenggarakan tiap tahunnya, juga menjadi tempat forum diskusi membahas isu-isu sosial-ekonomi, bertumpu pada sebuah agenda strategis: Berbagai Tantangan di Era Modern Menghadapi Perekonomian Dunia.

Setiap tahunnya forum YIEF ini dihadiri berbagai kalangan strategis seperti para pejabat tinggi pemerintah Rusia, para pakar kaliber internasional, dan para pelaku bisnis yang punya pengaruh internasional dari Rusia maupun negara-negara lainnya.

4

Serangkaian dialog yang bertumpu pada tema sentral untuk menyesuaikan dan mengantisipasi masalah-masalah ekonomi internasional, geopolitik, maupun lingkungan sosial-budaya kini dan mendatang, kiranya sangat tepat untuk jadi bahan pertimbangan para pelaku bisnis di Indonesia, maupun para pemangku kebijakan luar negeri Ri pada umumnya.

CRIMEA: 40 FOREIGN DELEGATIONS TO PARTICIPATE IN YALTA INTERNATIONAL ECONOMIC FORUM

Jikalau saat ini Indonesia belum mengakui reunifikasi Krimea ke dalam Republik Federasi Rusia berdasarkan referendum 17 Maret 2014, namun YIEF kiranya tetap penting dan strategis sebagai landasan untuk membangun kerjasama People to People antara Para Pelaku Bisnis-Ekonomi Indonesia dengan Krimea dan Rusia.

Momentum tersebut terbuka lebar-lebar pada 18-20 April 2019 mendatang, ketika YIEF untuk kali kesekian menggelar pertemuan tahunan di Krimea.  Bagi kalangan yang punya jiwa enterprenurship, kiranya sangat menghayati betul ungkapan: Memperluas pertemenan dan kemitraan baru, membuka peluang baru dan berbagai kemungkinan baru. Bukankah hal itu yang lebih penting daripada sekadar keuntungan bisnis dan ekonomi itu sendiri?

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments