Toleransi dalam Islam

Bagikan artikel ini

Ghuzilla Humeid-Network Associate Global Future Institute (GFI)

Saya miris sekali, kian hari kian parah saja melihat sebagian ulah antar ummat Islam saling benturan satu dengan lainnya dan begitu juga penganut agama dan kepercayaan lainnya.

Sebenarnya kalau kita kembali kepada ajaran Al Qur’an maka disana sangat jelas sekali ada larangan mengolok-olok atau mengejek orang atau kaum yang sedang (lagi) beribadah.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (Q.S. Al An ‘Aam : 108)

Ayat tersebut membuktikan betapa luhurnya ajaran Islam lewat kitab sucinya Al-Qur’an.

Inilah benih-benih ajaran toleransi yang diajarkan oleh ummat Islam.

“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka” (Q.S. Al An ‘Aam : 108).

Penggalan ayat dibatas ini mengisyaratkan, jika muslim tanpa pengetahuan dan wawasan yang luas maka akan cenderung merasa benarnya sendiri, ingin disebut paling hebat sendiri.

Inilah titik awal Rand Corporation, LSM Departemen Pertahanan AS mengacak-acak kaum muslim melalui istilah bikinan mereka, yakni Islam modern, Sekuler, Fundamental dan Tradisional.

Dan kita-pun dibuatnya larut saling adu domba , dibentur-benturkan, saling cemo’oh hingga saling bunuh.
Apakah ini yang dinamakan generasi Rakhmatan Lil Aalamiin sebagai ujud wakil-Nya di dunia ini?
Tidakkah ini kita sadari semua?

Kata cak Lontong: Coba, Mikir…”

Demikianlah dan terima kasih.

Facebook Comments