Waspadai Pembangunan Infrastruktur Bersama, Quad dan Indo-Pasifik Sebagai Satu Rangkaian Terintegrasi Bendung Cina

Bagikan artikel ini

Indonesia boleh saja khawatir dengan skema One Belt One Road (OBOR) Cina. Namun upaya empat negara (AS, Australia, Jepang dan Cina) untuk membangun Infrastruktur Regional Bersama menyaingi OBOR Cina, kiranya perlu juga diwaspadai potensinya untuk melakukan ekspansi ekonomi dan perdagangan di Asia Pasifik. Seraya meningkatkan kekuatam politik dan militernya melalui persekutuan Quad.

 

Hemdrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

 

 

Persekutuan empat negara yang kemudian disebut Quad yang melibatkan AS, Australia, Jepang dan India, dalam jangka pendek ini agaknya ditujukan sepenuhnya untuk membendung pengaruh Cina di Asia Pasifik. Utamanya di sektor maritim.

 

Dalam pertemuan para pejabat senior keempat negara tersebut pada akhir 2017 lalu, sepakat membentuk Dialog Keamanan Empat Negara atau Quad. Namun yang menarik seturut dengan terbentuknya persekutuan empat negara tersebut adalah upaya bersama untuk membangun infrastruktur dalam rangka meningkatkan perdagangan global. Ini menarik, sebab berarti keempat negara blok Barat tersebut mengakui semakin meningkatnya pengaruh ekonomi dan perdagangan Cina.

 

Selain itu, terkait Kebijakan Jalur Sutra Maritim yang dicanangkan Presiden Cina Xi Jinping yang kemudian menjelma menjadi One Belt One Road atau OBOR, keempat negara blok Barat itu memandang kebijakan maritim Cina yang diarahkan ke Asia Pasifik ini merupakan ancaman. Maka, gagasan untuk membangun infrastruktur dalam rangka meningkatkan perdagangan global, sejatinya merupakan Kontra Skema terhadap Skema Obor pihak Cina.

 

Ternyata hal ini bukan sekadar wacana atau omong kosong. Februari 2018 lalu Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop  menyatakan bahwa pra pejabat senior Australia, Amerika Serikat, Jepang dan India tengah membahas pembangunan Infrastruktur Regional bersama. Dan secara terang-terangan menggambarkan skema Pembangunan Infrastruktur Regional Bersama itu sebagai alternatif dari proyek OBOR Cina.

 

Meskipun seorang pejabat senior pemerintahan AS mengakui bahwa gagasan ini masih belum matang, namun adanya rencana untuk menindaklanjuti pembahasan skema ini antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Australia Melcolm Tumbul, mengindikasikan betapa penting dan strategisnya skema Pembangunan Infrastruktur Regional Bersama ini sebagai tandingan dari OBOR Cina.

Meskipun Persekutuan Quad mengistilahkan skema ini sebagai alternatif, namun sesungguhnya ini merupakan tandingan dan ditujukan untuk menyaingi proyek OBOR Cina.

 

Seperti dilansir oleh kantor berita Reuters pada Februari lalu, seorang pejabat senior AS mengeritik skema OBOR sebagai proyek yang tidak ekonomis. “Cina bisa saja membangun pelabuhan, namun belum ekonomis. Kami bisa membuatnya lebih ekonomis dengan membangun jalan dan rel yang terhubung dengan pelabuhan itu, demikian menurut pejabat senior AS kepada Reuters ketika itu.

 

Menghadapi tren global ini, maka bagi Indonesia dan ASEAN harus memandang persekutuan Quad dan skema Pembangunan Infrastruktur Regional Bersama sebagai satu kesatuan untuk menandingi semakin kuatnya pengaruh Cina di Asia Pasifik.

 

Maka itu, Indonesia dan ASEAN harus siap mengantisipasi manuver politik dan diplomatik persekutuan Quad dalam KTT ASEAN dan KTT Asia Timur November tahun ini. Sebab Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan AS sudah mengisyaratkan bahwa AS, Jepang, India dan Australia akan mengadakan pembicaraan di Manila, yang bersamaan momentumnya dengan KTT ASEAN dan Asia Timur.

 

Bagi Indonesia dan ASEAN, konsepsi dan skema Pembangunan Infrastruktur Regional Bersama dan konsepsi Indo Pasifik nampaknya juga harus dibaca sebagai satu rangkaian yang terintegrasi. Untuk membendung pengaruh Cina khususnya dalam bidang pembangunan maritim.

 

Dalam istilah negara-negara yang tergabung dalam Quad, mereka berupaya membangun visi bersama meningkatkan kemakmuran dan keamanan di wilayah Indo-Pasifik, seraya secara bersama-sama memastikan kawasan Indo-Pasifik tetap bebas dan terbuka. Jelas ini merupakan skema perdagangan bebas khas AS dan Uni Eropa.

 

Adapun terkait dengan persekutuan Quad, keempat negara sepakat untuk memperkuat kerjasama di bidang keamanan dan sebagai alternatf koordinasi pembayaran infrastruktur regional yang ditawarkan Cina. Dengan begitu jadi jelas, bahwa konsepsi Indo-Pasifik, Quad, dan Infrastruktur Regional Bersama, merupakan satu rangkaian terintegrasi dan tak terpisahkan satu sama lain.

 

Selain daripada itu, skenario Jepang dalam keikutsertaannya dalam persekutuan Quad dan Skema Indo-Pasifik juga perlu perhatian khusus para stakeholders kebijakan luar negeri RI.  Meskipun Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Saga mengatakan bahwa skema Infrastuktur Regional Bersama bukan dimaksudkan untuk menyaingi Cina, namun pada sisi lain Jepang mengisyaratkan ekspansi ekonomi yang tak kalah berbahaya bagi Indonesia dan ASEAN ke depan.

 

Yaitu rencana Jepang untuk menggunakan Official Development Assistance (ODA) untuk mempromosikan Free and Open Indo-Pacific Strategy.

Ini tentu saja mengkawatirkan dalam jangka panjang. Bukan sekadar soal strategi membendung Cina, namun konsepsi Indo-Pasifik pada perkembangannya bisa mengkondisikan pergantian peta Asia Pasifik yang lebih menguntungkan persekutuan Blok Barat yang dimotori oleh Quad.

 

Maka dari itu, skema Infrastruktur Regional Bersama maupun skema Jepang dalam kerangka Free and Open Indo-Pacific Strategy, tidak boleh dipandang hanya sebagai mekanisme kerjasama ekonomi saja. Namun harus dipelajari dan diverifikasi dampak buruknya bagi geopolitik Indonesia dan ASEAN pada umumnya.

 

 

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com