Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitik

Hendrajit

Hendrajit·11 Februari 2023·4 menit baca

Bagikan

Pada 8 Februari 2023 ada yang tidak biasa di tengah rutinitas kehidupan masyarakat kota Langsa. Kedatangan Menteri Perhubungan RI Ir Budi Karya Sumadi ke Kuala Langsa untuk melihat proses pengerukan jalur masuk pelabuhan. Untuk itu sudah selayaknya apresiasi kita berikan kepada Anggota DPR-RI Fraksi Golkar H Ilham Pangestu.

Namun ketika saya menyimak berita tersebut, tiba-tiba saja muncul di benak beberapa ide dan pandangan terkait betapa strategisnya fungsi pelabuhan dan bandara dalam suatu daerah, melebihi pentingnya pelabuhan sekadar sebagai proyek pembangunan infrastruktur atau pelabuhan sebagai pintu masuk perdagangan antar-provinsi atau bahkan antar-negara.

 

Visi Geopolitik Sultan Iskandar Muda

 

Sebagai warga Aceh yang kebetulan juga berasal dari Langsa, saya amat terpesona pada kisah sukses Sultan Iskandar Muda yang bertahta sebagai Raja Aceh antara 1607-1636. Dalam masa berkuasa selama 29 tahun yang tentunya bukan masa yang singkat, mendorong saya mencari tahu apa keutamaan dan keistimewaan sang maharaja Aceh yang satu ini. \

Kebetulan sejak 2017 saya ikut bergabung dengan kawan-kawan senior saya pada sebuah Lembaga Kajian Strategis, Global Future Institute, yang fokus dan minat utamanya adalah mengenai geopolitik. Dan salah satu subyek kajian yang kemudian terbuka mata saya betapa Sultan Iskandar Muda merupakan salah satu subyek kajian utama untuk menggambarkan betapa di masa silam ada banyak raja-raja di bumi nusantara yang punya visi geopolitik untuk mengenali jatidiri dan potensi daerahnya.

Nah salah satunya adalah Sultan Iskandar Muda. Apa segi-segi penting yang perlu jadi pusat perhatian sekaligus sumber inspirasi bagi para calon elit politik Aceh baik yang berkiprah di daerah maupun pada tingkat nasional terkait visi geopolitik Sultan Iskandar Muda?

 

  1. Sultan Iskandar Muda berhasil menguasai seluruh negeri dan pelabuhan yang-sebelah Selat Malaka. Mengapa? Sebab Sultan Iskandar Muda sadar geopolitik bahwa Aceh merupakan pintu masuk ke Selat Malaka.

 

  1. Sultan Iskandar Muda memukul Johor, yang sekarang merupakan salah satu negara bagian Malaysia, dengan didasari ide untuk mencegah agar Aceh tidak akan ditunggangi oleh Portugis dan Belanda, yang kala itu, pada masa Sultan Iskandar Muda berkuasa, kedua negara Eropa Barat tersebut sedang gencar-gencarnya menguasai kawasan Asia Tenggara, untuk menguasai salah satu sumberdaya alam yan kaya, yaitu rempah-rempah.

 

  1. Memukul negeri-negeri di sebelah Timur Malaysia yang dipandang Iskandar Muda dapat mengganggu perdagangan Aceh dengan India, Turki, dan Mesir.

 

  1. Menyadari posisi geografis Aceh yang strategis, Sultan Iskandar Muda memutuskan untuk menguasai Pahang, yang sekarang juga merupakan salah satu negara bagian Malaysia, dan Patani, yang sekarang  merupakan bagian dari  Thailand Selatan yang berpenduduk Muslim.

 

  1. Yang lebih inspiratif lagi, dengan pertimbangan yang sangat geo-ekonomi sebagai salah satu aspek dari geopolitik, yaitu menaikkan harga pasar hasil bumi untuk ekspor. Caranya? Dengan memusatkan pelabuhan ke pelabuhan di Aceh. Sehingga dari segi pertahanan maupun perdagangan, Aceh mampu tetap berdaulat dan mandiri. Selain merica, kekayaan hasil bumi Aceh juga kaya kandungan kapur barus, minyak dan juga tambang timah.

 

Yang terbersit dalam benak pikiran saya, mengapa visi geopolitik Sultan Iskandar Muda yang berpandangan jauh ke depan tidak menginspirasi para elit politik dan pimpinan daerah di Aceh? Sebab ketika dalam waktu beberapa tahun terakhir ini pembangunan infrastruktur di Aceh sangat menitikberatkan pembangunan pelabuhan, sangat disayangkan jika hanya berfokus pada aspek pembangunan infrastruktur dan pembangunan fisik tanpa mengaitkan pembanunan infrastruktur dengan konektivitas geografis.

Lantas, apakah gagasan Sultan Iskandar Muda yang berkiprah pada abad ke-18 masih tetap relevan? Menurut saya masih relevan. Mengapa?

Kalau kita jeli mencermati, Sultan Iskandar Muda sangat memahami konektivitas geografis Aceh dengan daerah-daerah lainnya baik konekvitas geografis rute kelautan maupun darat. Sehingga Sultan Iskandar Muda pada masa jayanya berhasil membangun suatu jalinan seluruh daerah pesisir sebagian besar Sumatra hingga Bengkulu, dan juga membangun suatu jalinan dengan hamper semua wilayah yang sekarang masuk kedaulatan Malaysia seperti: Kedah, Perlak, Pahang dan Trengganu.

Alhasil pada era Sultan Iskandar Muda bertahta, Aceh mampu berdiri sederajat dalam berhubungan dengan Portugis, Belanda dan Inggris.

Maka itu, setelah menyimak kajian-kajian para senior saya seperti Pak Hendrajit dan Pak M. Arief Pranoto di Global Future Institute terkait visi geopolitik Sultan Iskandar Muda mengenai Aceh, saya merasa perlu memberi beberapa saran untuk para calon anggota DPR dan DPRD maupun para elit politik Aceh pada umumnya.

Mari kita pikirkkan dan gagas bersama untuk membangun Pelabuhan Sabang Sesuai mempertimbangkan Nilai Lokasi Geografis Aceh. Sehingga seperti visi mantan Presiden RI BJ Habibie, Pelabuhan Sabang Bisa menjadi pelabuhan alternatif selain Singapura, sebagai rute transit perdagangan.

Desil Viana (Echie), Wakil Direktur Divisi Pengembangan Program Khusus, Global Future Institute, dan Pegiat sosial-budaya.  

 

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaPara Elit Politik Aceh Perlu Mengaktualisasikan Kembali Visi Geopolitik Sultan Iskandar MudaSelanjutnyaMenghancurkan Negara dari Desa, Melemahkan NKRI dari MPR

Lainnya di Geopolitik

Lihat semua
Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah
Analisis

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur TengahTimur Tengah

13 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents