Mencermati Kesamaan Karakter Kolonialisme antara Pola Simetris dan Asimetris

Bagikan artikel ini

M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)

Sepertinya ada perubahan pola invasi dan kolonialisme di abad XXI. Artinya jika era-era sebelumnya lebih mengkedepankan hard power atau simetris (penggunaan militer), maka pola dan model penjajahan abad kini kuat disinyalir berganti smart power, atau gerakan massa, atau kalangan akademis sering menyebut asimetris (non militer). Dalam catatan ini, istilah-istilah tersebut akan digunakan bergantian karena memang maknanya tidak berbeda.

Tak bisa tidak. Inilah kharakter serta ‘tema penjajahan’ gaya baru, meski ‘skema permanen’-nya tetap lestari sepanjang zaman yakni pendudukan (penguasaan) ekonomi, terutama pencaplokan sumberdaya alam (SDA) di suatu wilayah/negara target. Keniscayaan perubahan karakteristik penjajahan tersebut bukanlah tanpa sebab atau bersifat tiba-tiba, tetapi semata-mata karena jejak pengalaman masa-masa sebelumnya.

Secara empiris perubahan model kolonialisme tadi, selain karena high cost-nya penerapan hard power dibanding smart power, juga kemungkinan besar merujuk atas kegagalan Amerika Serikat (AS), NATO dan International Security Assistance Force (ISAF) dalam invasi militer di Afghanistan (2001) dan Irak (2003) dianggap sebagai “biang keladi” perubahan dimaksud. Betapa militer profesional dengan mesin perang modern lagi canggih berasal dari 40-an negara jago perang tetapi tidak bisa menundukkan Taliban yang sekelas separatis atau dianggap kelompok radikal. Apa nyatanya.

Perang tidak seimbang antara pasukan AS dan sekutu melawan Taliban telah memakan waktu 10-an tahun namun hasilnya justru mencengangkan dunia, karena pihak Barat tidak mampu memetik hasil sesuai harapan —kalau tidak boleh dikatakan kalah perang— bahkan kebangkrutan ekonomi menganga didepan mata, terutama bagi negara-negara yang terlibat sharing saham trilunan US dollar pada perang tersebut. Hal ini yang jarang bahkan tidak pernah diungkap oleh media mainstream yang rata-rata memang dimiliki serta dalam kendali Barat. Apa boleh buat. Edit dan kontra berita memang bagian dari metode kolonialisme di muka bumi.

Barangkali Arab Spring yang menerjang Jalur Sutra kemarin merupakan bukti perubahan kolonialisme dari hard power menuju smart power memang riil adanya. Ya, perubahan pola simetris menjadi asimetris, dari gerakan militer berganti non militer, atau gerakan massa, atau infiltrasi pada aspek-aspek lain.

Pertanyaan apakah hal ini juga diilhami sukses Revolusi Warna di Eropa Timur dekade 2000-an lalu, memang belum ada jawaban pasti. Namun fakta-fakta dan data menguak bahwa Revolusi Warna dibawah komando Otpor, sedangkan Arab Springatau ‘Musim Semi Arab’ dikendalikan oleh Central Applied Non Violence Action and Strategic (CANVAS), dimana kedua organ tadi merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) anak organisasi dari National Endowment for Democarcy (NED), LSM-nya Pentagon yang mendapat kucuran dana dari Kongres AS. Apalagi simbol gerakan keduanya pun terlihat sama, yakni kepalan tinju atau tangan mengepal dengan menggunakan slogan-slogan singkat yang merupakan “ruh” gerakan!

Namun sesuai judul, artikel tak ilmiah ini bukannya hendak mengupas aktor-aktor asimetris yang bermain baik di Eropa Timur, Jalur Sutra (Timur Tengah, Asia Tengah dan Afrika Utara) maupun di wilayah lainnya, oleh karena telah banyak diulas para peneliti dari Global Future Institute (GFI) di www.theglobal-review.com, Jakarta dan Central Research for Globalization (CRG) di www.globalresearch.ca , Montreal, Kanada.

Ulasan di atas hanya sekedar prolog menuju topik bahasan yakni kesamaan karakter hard power dan smart power, antara simetris dengan asimetris. Inilah uraian sederhananya.

Bombardier, Kavaleri dan Infanteri

Kecuali perang kota atau perang gerilya, pola manuver militer modern dimanapun pasca intelijen memberi input awal (prakiraan) tentang mapping sasaran atau target operasi, lazimnya diawali bombardir via pesawat-pesawat tempur dalam rangka mengacau dan melumpuhkan wilayah target. Inilah tahap permulaan.

Setelah daerah sasaran kacau-balau, porak-poranda, atau melemah akibat gempuran pesawat tempur maka pasukan kavaleri mengambil alih gerakan guna mempertebal serangan secara detail, terutama pada titik-titik dimana serangan bombardier belum bisa melemahkan atau masih berdaya. Ini tahapan kedua.

Sedangkan tahap terakhir ialah masuknya infanteri untuk pendudukan wilayah. Dalam sebuah pertempuran, manakala pasukan infanteri masuk ke daerah operasi, itu merupakan indikasi bahwa tahap akhir dari inti serangan sudah digelar meski tidak menutup kemungkinan peran angkatan udara dan kavaleri masih diperlukan. Itulah pola umum simetris secara garis besar oleh militer dimana pun, terutama ketika AS dan sekutu kemarin mengeroyok Irak, Afghanistan, Libya dan lain-lain.

Hasil diskusi Tim Kecil di GFI (17/1/2013) dengan merujuk beberapa literatur dan artikel sejarah, diperoleh pointers bahwa tahapan penting bahkan boleh dianggap sebagai karakter yang sering berulang dalam kolonialisme ialah: (1) pengaburan sejarah leluhur bagi negara yang  dijajah; (2) penghancuran bangunan fisik agar generasi yang baru tidak dapat menyaksikan bukti kejayaan nenek moyang di masa lalu, sehingga tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah; (3) terputus atau diputus hubungan dengan nenek moyangnya melalui penciptaan stigma dan opini bahwa leluhurnya bodoh, primitif, tidak beradab dan lain-lain; dan (4) dibuat sejarah baru versi penjajah.

Kasus pendudukan militer Paman Sam dan sekutu di Irak merupakan contoh aktual. Pasca Saddam Hussein digantung (2007), hampir semua situs-situs kuno, pusat pustaka, sejarah dan kebudayaannya dihancurkan oleh tentara koalisi pimpinan AS. Dengan demikian para generasi penerus yang lahir era 2000-an tak akan bisa melihat bukti-bukti kejayaan ‘Negeri 1001 Malam’ yang melegenda. Hampir semua peninggalan sejarah dimusnahkan!

Demikian pula negara dan wilayah-wilayah lain yang menjadi obyek jajahan. Bangsa Indian di Amerika dulu, selain diusir dari tanah leluhur, dirampas hasil buminya juga distigma sebagai kaum yang suka berperang, haus darah, tidak beradab dan lain-lain. Maka ketika dahulu (sekarang masih) menonton film cowboy tanpa sadar bertepuk tangan girang ketika kaum Indian dikejar-kejar dan ditembaki oleh kaum imigran (cowboy), maka tidak boleh dielak bahwa saat itu mindset kita sebenarnya telah ‘tersihir’ serta larut dalam stigma yang diciptakan oleh Barat.

Pertanyaannya, bagaimana ‘nasib’ bangsa Indonesia yang sekian abad dijajah oleh Belanda? Retorika ini tidak usah dijawab agar tulisan ini dilanjutkan.

Isue, Tema dan Skema

Selanjutnya bila dianalogikan antara pola-pola simetris dengan model asimetris ternyata ada kesamaan karakter. Misalnya bombardir di awal serangan, dalam gaya asimetris identik dengan tebaran isue oleh kaum kolonial. Semacam bombardier tetapi melalui rumor dan isue. Contoh dalam Arab Spring kemarin, negeri target semacam Tunisia, Yaman, Mesir dan lain-lain diterpa dulu oleh berbagai isue seperti korupsi, kemiskinan, pemimpin tirani dan lainnya secara gencar via media, sehingga dalam benak rakyatnya hanya ada sebuah opini: “rakyat menjadi miskin akibat bercokol rezim tirani dan koruptif”. Inilah penciptaan opini.

Tahap berikut dalam manuver simetris pasca bombardir ialah masuknya kavaleri. Manuver tank-tank kavaleri sebagai penebalan serangan secara detail, dalam analog asimetris dimaknai sebagai TEMA. Dalam praktek, Arab Spring atau ‘Musim Semi Arab’ itu hanya “tema gerakan” via kekuatan massa setelah opini terbentuk melalui isue-isue yang digencarkan via media, jejaring sosial, dan lain-lain.

Makanya “Save KPK” yang sempat marak di republik ini saya nilai sebagai TEMA gerakan karena indikasinya sama. Misalnya isu yang ditebar soal korupsi (bukankah korupsi di Indonesia itu diciptakan melalui sistem?), isue pemimpin atau institusi tirani, sangat berperannya media dan jejaring sosial, dll. Adapun pemrakarsa atau aktor gerakan massa antara Arab Spring di Jalur Sutra dengan Save KPK ternyata sama, yakni LSM yang menginduk kepada lembaga donatur internasional dan nge-link ke LSM asing. Secara tersirat, sejatinya ‘pasukan kavaleri’ model asimetris ala KPK telah mendarat di Bumi Pertiwi. Namun syukurlah tema Save KPK gagal melaju ke tahap berikutnya. Entah kenapa. Karena ketiadaan dana, atau keburu ketahuan?

Maka timbul pendapat, bahwa warna dan dinamika politik di republik ini terlihat glamour namun tidak memiliki arti apa-apa, sebab hanya berkisar di tataran isu, tema, isu lagi, tema lagi, kembali ke isu, lalu ke tema lagi. Hanya berputar-putar di hilir persoalan!

Tahap terakhir dalam simetris ialah masuknya pasukan infanteri ke wilayah target. Pada gerakan asimetris, manuver infanteri ini disebut SKEMA gerakan. Inilah inti stategi peperangan yaitu pendudukan (ekonomi) serta pencaplokan SDA di wilayah target. Apapun kolonialisme di muka bumi, tema boleh saja bervariasi (dibuat konflik intrastateinterstate, separatis, gerakan massa, dan lain-lain) namun skema penjajahan tidak akan berubah.

Membaca Skema Kolonialisme di Mali

Mali misalnya, negara kecil di Afrika Barat tidak bakalan diserbu oleh Prancis, Inggris, AS, Jerman, Kanada, dan lain-lain bila ia hanya penghasil gaplek atau singkong. Tema di Mali adalah pemberontakan Islam radikal yang dicap sebagai teroris, sebagaimana tema yang dimainkan oleh Barat di berbagai negara kaya SDA lainnya. Skema kolonial di Mali telah jelas yaitu what lies beneath the surface (apa yang terkandung di bawah permukaan).

Ia merupakan negara produksi emas terbesar ketiga di Afrika. Emasnya sudah terkenal sejak zaman kekaisaran Mali Besar dan pernah di zaman Kaisar Kankou Moussa tahun 1324 dibawa ke Mekah sejumlah 8 ton. Mali saat ini memiliki tujuh tambang emas yang sudah beroperasi di Kalana dan Morila di Southern Mali, Yatela, Sadiola dan Loulo di Western Mali, dan tambang yang baru-baru ini memulai kembali produksi terutama Syama dan Tabakoto. Proyek emas maju eksplorasi meliputi: Kofi, Kodieran, Gounkoto, Komana, Banankoro, Kobada dan Nampala.

Saat ini, eksplorasi uranium pun sedang dilakukan beberapa perusahaan global dimana mapping potensi dan deposito tersebar di Falea, Proyek Kidal, bagian timur utara Mali. Mali juga memiliki potensi diamond (berlian) di wilayah Kayes, Sikasso, dan lain-lain. Belum lagi bahan mineral strategis lainnya seperti iron ore, bauksit dan mangan, tembaga, marmer, gypsun, kaolin, fosfat, dan lain-lain.  Potensi minyak Mali sudah mampu menarik bunga yang signifikan dari para investor, karena telah didokumentasikan sejak tahun 1970-an. Ia juga bisa memberikan rute transportasi strategis (ekspor minyak dan gas) untuk Sub-Sahara melalui dunia Barat dan ada kemungkinan menghubungkan cekungan Taoudeni ke pasar Eropa melalui Aljazair.

Sekali lagi, uraian singkat di atas merupakan ujud kesamaan pola dan karakter kolonialisme di muka bumi baik yang sifatnya simetris (menggunakan kekuatan militer) maupun asimetris (non milter). Seperti berbeda tetapi sesungguhnya sama, atau serupa tapi tak sama. Sedangkan benang merah pola yang bisa ditarik terutama pasca input intelijen (research atau penelitian), niscaya akan muncul  isu (bombardier), tema (kavaleri) dan skema (infanteri/pendudukan).

Terimakasih.

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com