Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Antara Tiga Periode, Desa Mengepung KotaDesa Mengepung Kota, dan Deadlock

Rusman

Rusman·23 Januari 2023·3 menit baca

Bagikan
Antara Tiga Periode, Desa Mengepung Kota, dan Deadlock
Memilah Lautan Asumsi
Pada gilirannya terbaca —meski samar— bahwa aksi damai ribuan kepala desa (kades) di depan DPR RI (17/1/2023) dengan tuntutan mengubah masa jabatan kades dari enam menjadi sembilan tahun merupakan praktik ‘desa mengepung kota’ ala Mao Zedong dalam kemasan lain. Mari breakdown kata per/kata siasat Mao di atas.
Bila tuntutan penambahan masa jabatan kades itu ibarat ‘DESA’, maka ‘KOTA’-nya adalah perubahan tiga periode masa jabatan presiden. Sudah barang tentu, hal ini masih asumsi. Sekadar ‘kompas’ tulisan ini agar tidak meluas kemana-mana. Mari kita uji lebih lanjut asumsi dimaksud.
Secara filosofi, aksi damai para kades merupakan modus ‘PENGEPUNGAN KOTA’ oleh para (kepala) desa dan tergolong sukses. Gilang-gemilang. Kenapa? Sebab, baru diorasikan pagi hari dalam aksi di depan di DPR RI, sorenya Presiden Jokowi pun langsung menyetujui melalui (corong) Budiman Sujatmiko, kader PDI-P yang kini duduk di Komisaris PTPN. Hasilnya bagaimana? Akan ada revisi UU No 6 Th 2014 tentang Desa, khususnya masa jabatan kades akan diubah menjadi sembilan tahun sesuai tuntutan para kades. Luar biasa.
Sungguh mengejutkan, salah satu materi dalam orasi para kades ini cukup berani, bahwa para kades akan menghabisi suara partai (dalam Pemilu 2024) yang tak mendukung perubahan UU Desa tersebut. Ngeri.
Kemungkinan juga, hal ini bisa dikatakan sebagai ‘serangan’ balik Pak Jokowi kepada Bu Mega, karena pada acara HUT PDI-P ke-50 (10/1/2023), beliau diplonco habis-habisan oleh Bu Mega, “Kalau gak ada PDI-P, Pak Jokowi kasihan dech!” Katanya disambut gelak applause hadirin yang hadir.
Lagi-lagi, ini juga asumsi bahwa situasi dan kondisi negara akan tergantung situasi provinsi, kondisi provinsi tergantung situasi kota/kabupaten (kokab), kokab tergantung kecamatan, dan kecamatan tergantung desa. Dan situasi dan kondisi di desa akan diwarnai serta berada di genggam elit desa dalam hal ini adalah kades. Demikian asumsi berkembang.
Jadi, secara hakiki — kurang lebihnya, negara itu tergantung apa kata desa. Jika desa-desa serentak mengatakan A maka kemungkinan A pula di pusat (‘negara’). Dan fenomena tersebut terbukti pada demonstrasi para kades di DPR RI kemarin. Aspirasi diorasikan pada pagi hari, di sore harinya tuntutan para kades disetujui oleh Jokowi (secara lisan via Budiman Sujatmiko).
Pertanyaannya, “Apakah persetujuan Jokowi atas perubahan jabatan kades menjadi 9 tahun itu gratis?” Tentu tidak. No free lunch. Tak ada makan siang gratis dalam politik praktis. Niscaya ada timbal balik.
Flashback sejenak. Ketika secara top down (sebelumnya), wacana perubahan masa jabatan presiden tiga periode pernah ditolak berbagai kalangan terutama para ketua partai politik, namun usai aksi damai para kades —bottom up— isu tiga periode dipastikan akan kembali bergulir melalui para elit desa atas nama aspirasi rakyat. Istilahnya, desa mawa cara, negara mawa tata. Pemerintah desa punya aspirasi, pemerintah pusat nanti yang melembagakan. Begitu ‘tiktok politik’-nya.
Pertanyaan lanjutannya, “Bagaimana skenario guna mengubah masa jabatan presiden menjadi tiga periode?”
Ada beberapa prakiraan (asumsi) skenario beredar, antara lain ialah:
1) diperlukan amandemen ke-5 UUD 1945 untuk mengubah masa jabatan presiden menjadi tiga periode. Tetapi, cara ini akan mengalami deadlock, karena MPR RI bukan lagi lembaga tertinggi. Ia tak berwenang lagi mengeluarkan Ketetapan/Tap yang bersifat mengatur (regeling). Asumsi ini kemungkinan batal;
2) menerbitkan Perppu tentang Penundaan Pemilu dengan pertimbangan kegentingan memaksa sebagaimana modus Perppu Ciptaker. Secara asymmetric war, Perppu Ciptaker memang sebatas cek ombak. Sejauh mana reaksi di publik? Ketika di lapangan, ternyata cuma gaduh di level aktifis dan akademis. Hanya elitis. Maka Perppu Ciptaker pun lanjut. Tidak dicabut. Demikian kelak Perppu Penundaan Pemilu. Jika kegaduhan bersifat elitis. Hanya berputar-putar di kalangan akademisi, Perppu Penundaan Pemilu niscaya akan ‘langkah tegap’;
3) step berikutnya ialah terbitnya Perppu tentang Perpanjangan Waktu Jabatan Presiden (extanding extra time), bukan Dekrit Presiden. Dekrit hanyalah preseden (hukum) konstitusi di era Sukarno, bukan hierarki per-UU-an. Lagi-lagi, skenario ini juga lanjutan asumsi atas dua skenario yang diprakirakan muncul di atas.
Dan syarat pokok diterbitkannya instrumen hukum untuk mendasari tiga skenario di atas ialah ‘kegentingan memaksa’. Nah, agaknya winter is coming mulai ditebar ke publik oleh beberapa publik figur di lingkar kekuasaan, bahwa dinamika geopolitik 2023 baik global, regional maupun lokal penuh ketidakpastian.
Ya, winter is coming! Welcome to kegentingan memaksa!
Serpong, 22 Jan 2023
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKekhawatiran Beroperasinya Kembali Laboratorium Biologi Militer Berkedok Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Cukup BeralasanSelanjutnyaAda Indikasi Mengkhawatirkan di Balik Skema Kerjasama Kesehatan RI-Australia

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents