Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Ada Indikasi Mengkhawatirkan di Balik Skema Kerjasama KesehatanSkema Kerjasama Kesehatan RI-Australia

Hendrajit

Hendrajit·21 Januari 2023·5 menit baca

Bagikan
Ada Indikasi Mengkhawatirkan di Balik Skema Kerjasama Kesehatan RI-Australia

Pada 15 November 2022 lalu ada sebuah peristiwa yang luar biasa bagi Universitas Pertahanan RI dan Kementerian Pertahanan RI. Yaitu penandatanganan kerja sama berupa Memorandum of Understanding (MOU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan World Health Organization (WHO) perihal Berdirinya dan Pengoperasian A Multy-Country Hub Health for Emergenccy Operational Readiness termasuk Emergency Medical Teams (EMT) Training Hub di Universitas Pertahanan RI.

Sampai di sini tidak yang ada yang cukup mengkhawatirkan. Karena sesuai dengan kesepakatan yang termaktub, Indonesia dan WHO bersepakat akan berkolaborasi mendirikan Pusat Pelatihan Health Emergency Operational Readiness termasuk Pelatihan Emergency Medical Teams sebagai Pusat Pelatihan Kesiapan Darurat Kesehatan berskala nasional, regional kawasan, hingga  pada taraf internasional.

Namun ada satu masalah krusial kalau kita menelisik ke belakang, ketika Menteri Pertahanan RI dan WHO menjajagi kerja sama kolaborasi  pada November 2021 lalu yang kemudian ditindaklanjuti melalui pertemuan berikutnya pada Juni 2022, ketika Menteri Pertahanan RI mengusulkan Universitas Pertahanan RI sebagai Center of Excellence  dalam membangun pusat pelatihan peningkatan kapasitas kesiapan darurat, khususnya di bidang Bio-Security danBio-Defense.

Nah, adanya frase kata Bio-Security dan Bio-Defense ini sepertinya cukup mengkhawatirkan mengingat pengalaman traumatik Indonesia terkait beroperasinya aktivitas laboratorium NAMRU-2 AS yang mana pada 2009 lalu terungkap bahwa sejatinya NAMRU-AS itu  merupakan laboratorium bertujuan ganda. Di permukaan merupakan laboratorium penelitian penyakit menular  seperti Malaria dan TBC, namun pada kenyataannya  merupakan laboratorium biolologis-militer yang berada di bawah kendali Angkatan Laut Amerika Serikat.

Dengan demikian, cukup beralasankah  kita untuk menghawatirkan kerja sama kesehatan antara Indonesia dan Australia yang telah ditandatangani pada 15 November 2022 lalu tersebut? Mari kita mulai dengan menelisik peran dari Australian Defense Force Malaria and Infectious Desease Institute (ADF MIDI), yang merupakan mitra kerja sama Kementerian Pertahanan RI dari pihak Australia terkait Skema Kerja Sama Kesehatan RI-Australia.

Di sini ada dua peristiwa kebetulan yang cukup menarik untuk dicermati.  Pada 20 April 2022  lalu Rektor Universitas Pertahanan RI yang diwakili oleh Wakil Rektor I Mayjen TNI Jonni Mahroza menerima kunjungan delegasi dari  ADF MIDI yang dipimpin oleh Prof Dennis Shanks, Direktur ADF MIDI, selaku Ketua Delegasi.

Adapun ADF MIDI itu sendiri sebagai badan pusat penelitian penyakit menular sepertinya memang tidak beralasan bagi kita untuk khawatir.   Namun ada dua indikasi yang cukup mengkhawatirkan. Pertama, ADF MIDI itu sendiri ada kesamaan model dengan NAMRU-AS yang pernah beroperasi di Indonesia sejak 1970an hingga ditutup atas keputusan Ibu Siti Fadilah Supari pada 2009.

Kedua, reputasi Prof Dennis Shanks sebagai Direktur ADF MIDI yang pernah menjadi salah satu ahli yang bergabung di AFRIMS, The Armed Forces Research Institute of Medical Services, rasa-rasanya kita cukup beralassan untuk bersikap hati-hati dan penuh kewaspadaan. Sebab sejak 2017 AFRIMS disinyalir merupakan proyek yang sama persis atau bisa dianggap sebagai kelanjutan dari NAMRI-2 AS yang pernah beroperasi di Indonesia sejak awal 1970-an hingga ditutup atas perintah Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari pada 2009 lalu, atas sebab misi terselubungnya sebagai sarang intelijen Angkatan Laut di Indonesia. Dan  Prof  Dennis Shanks ini, selain pernah aktif di AFRIMS yang bermarkas di Thailand, juga pernah aktif di NAMRU-2 AS Indonesia.

Reputasi Prof Dennis Shanks yang erat kaitannya  dengan AFRIMS di Thailand dan NAMRU-2 di Indonesia, kiranya para stakeholders kesehatan maupun pertahanan RI sudah cukup punya alasan kuat untuk  waspada dan hati-hati, seraya mengkaji berbagai kemungkinan yang mengindikasikan adanya agenda-agenda tersembunyi ADF MIDI di balik Skema Kerja Sama Kesehatan RI-Australia.

Baca:

Unhan RI Terima Kunjungan Australian Defence Force Malaria and infectious Diseases Institute (ADF-MIDI)

Apalagi peran dan kiprah AFRIMS berdasarkan penelisikan tim riset Global Future Institute (GFI) pada 2017 lalu, ternyata sudah menyebar ke beberapa negara di kawasan Asia Tennggara seperti Vietnam, Laos, Singapura, Thailand dan Filipina.

Baca:

Waspadai AFRIMS, NAMRU-2 AS Gaya Baru di Asia Tenggara

Selain indikasi yang mengkhawatirkan terkait reputasi Prof Dennis Shanks, Direktur ADF MIDI terkait Kerja Sama Kesehatan Indonesia-Australia, ada satu lagi peristiwa terpisah yang  kiranya cukup beralasan bagi kita untuk menaruh kekhwatiran dan kewaspadaan. Pada 12 Desember 2022, Rektor Universitas Pertahanan RI Laksdya TNI Prof Dr Amarulla Octavian, menerima kunjugan kerja Wakil Sekretaris Jenderal NATO Bidang Kebijakan Politik dan Keamanan, Bettina Cadenbach, beserta rombongan. Menariknya lagi, ikut serta mendampingi dalam kunjungan Wakil Sekjen NATO tersebut, beberapa pejabat Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.

Baca: Rektor Unhan RI Terima Wakil Sekjen NATO

Berdasarkan rangkaian dua peristiwa tersebut di atas, kedatangan Direktur ADF MIDI Prof Dennis Shank maupun Wakil Sekjen NATO Bettina Cadenbach, ke Universitas Pertahanan RI bertemu beberapa pucuk pimpinan universitas tersebut, maka kerjasama Indonesia-Australia terkait dengan berdirinya dan pengoperasian  A Multy-Country Hub Health for Emergency Operational Readiness termasuk Emergency Medical Teams (EMT) Training Hub, perlu dicermati secara lebih hati-hati dan penuh kewaspadaan.

Rektor Unhan RI Terima Wakil Sekjen NATO

Sebab berdasarkan beberapa informasi yang berhasil ditelisik tim riset Global Future Institute (GFI), sejatinya NATO lah yang punya ide dan prakarsa untuk membangun A Multy-Country Hub Health for Emergency Operational Readiness termasuk Emergency Medical Teams, yang nantinya akan diproyeksikan sebagai laboratorium bio-military plus pharmacy yang disamarkan sebagai pusat program penelitian dan pelatihan bersama (Joint Educated and Research Programs, Trainings on the basis of Civilian Peace Keeping Force).

Maka itu, seluruh stakeholders kesehatan dan pertahanan RI baik yang di pemerintahan, DPR, perguruan tinggi, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), maupun Lembaga swadaya masyarakat, sudah seharusnya segera membahas masalah tersebut secara terbuka. Sehingga mampu mencegah masuknya agenda tersembunyi yang disusupkan  melalui Skema Kerja Sama Kesehatan antara RI-Australia maupun nantinya dengan skema yang serupa,  dengan negara-negara mitra Indonesia lainnya.

Kita sebagai elemen-elemen bangsa, kiranya wajib untuk hati-hati dan waspada, mengingat pengalaman buruk kita dengan aktivitas  NAMRU-2 di Indonesia.  Sehingga Kerja Sama Kesehatan Indonesia-Australia maupun nantinya dengan negara-negara lainnya atas dasar skema serupa,  haruslah dibangun atas dasar transparansi, kesetaraan, saling menguntungkan kedua belah pihak. Dan tentu saja saling terbuka satu sama lain. Tidak boleh ada agenda tersembunyi.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaAntara Tiga Periode, Desa Mengepung Kota, dan DeadlockSelanjutnyaKejahatan Perang AS Menghancurkan Warga Sipil dan Infrastruktur Publik Irak

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents