AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Bagikan artikel ini

6 tahun sudah tentara AS hadir di Afghanistan. Namun konflik sosial antar faksi justru semakin meningkat. Afghanistan nampaknya telah dijadikan ajang ujung coba persenjataan baru, aneka jenis bom baru, serta metode dan aneka jenis operasi tempur. Inilah tujuan sesungguhnya AS melestarikan situasi perang berkepanjangan di Afghanistan.

Perang yang berlangsung di Afghanistan sejak 2003 merupakan perang terlama di dunia. 16 tahun sudah ketika tentara Amerika Serikat menginvasi Afghanistan menyusul tudingan Presiden George W Bush bahwa Taliban berada di balik serangan bom di Gedung World Trade Center dan Pentagon pada September 2001.

Setelah 16 pendudukan tentara AS di negeri para mullah tersebut, ternyata eskalasi konflik bersenjata bukannya makin meredup, malah justru semakin memanas. Beberapa waktu lalu, setelah Donald J Trump menjabat presiden, Menteri Pertahanan James Matis dan Penasehat Keamanan Nasional HR McMaster segera mencangkan strategi perang yang lebih agresif di Afghanistan.

Sialnya, selain tercaat sebagai perang terlama di dunia, perang Afghanistan dipandang sebagai perang yang terlupakan alias forgotten war. Padahal perang ini telah memakan korban ribuan nyawa baik dari tentara AS maupun rakyat Afghanistan. Jauh lebih tragis dibandingkan perang vietnam dan perang Korea.

Lebih gilanya lagi, baik Donald Trump maupun Hillary Clinton dalama kampanye Pilpres sebagai calon presiden AS, sama sekali tidak menyebut-myebut sepak-terjang AS di Afghanistan. Atau setidak-tidaknya menaruh keprihatinan terhadap dampak dan korban perang di Afghanistan yang telah menelan ratusan ribu korban jiwa.

Memang Trump masih sempat mengecam campur-tangan AS di Afghanistan ihwal besarnya korban jiwa yang dialami tentara AS, namun sama sekali tidak menyesalkan korban jiwa yang menimpa rakyat Afghanistan. Sepertinya Trump hanya mengangkat isu Afghanistan sekilas hanya untuk menyerang kinerja pemerintahan  Presiden Barrack Obama ketimbang secara tulus mengecam kolonisasi AS warisan pemerintahan George W Bush.

Saat ini tentara AS yang digelar di Afghanistan sekitar 8500 personel. Sepertinya, kalau merujuk pada strategi perang yang diumumkan pemerintahan Trump Juli lalu, nampaknya akan segera ditingkatkan pada kisaran 10 sampai 20 ribu.

Pertanyaannya sekarang, apa tujuans sesungguhnya dari pemerintah AS sehingga bermaksud meningkatkan eskalasi prang di Afghanistan pada tingkatan untuk menambah pasukannya antara 10 sampai 20 ribu personel?

Sebab dengan berlangsungnya perang di Afghanistan, kehadiran tentara AS ternyata sama sekali tidak menghentikan konflik internal berbagai kelompok Islam seperti Sunni, Syiah dan suku Kurdi.

Beberapa analisis geopolitik yang dilansir beberapa media seperti Boston Globe, Afghanistan hanya dijadikan ajang uji coba persenjataan baru, aneka jenis bom, metode-metode baru peperangan, serta beberapa prosedur dan takti pertempuran baru.

Jika benar analisis atau sinyalemen ini, betapa tragisnya Afghanistan. Alhasil, Afghanistan ibarat sebuah panggung teater atau laboratorium untuk melayani kepentingan-kepentingan komplek industri militer atau Military Industrial Complex.

Dengan begitu, terjawablah sudah motivasi sesungguhnya pemerintah AS untuk memperpanjang eskalasi konflik bersenajta di Afghanistan.

Maka tak heran ketika tentara AS bercokol di Afghanistan, malah seperti melakukan cipta kondisi mendorong para war lords gila perang untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk timbulnya konflik bersenjata antar kelompok-kelompok milisia di Afghanistan.

Tentara AS di Afghanistan malah mengobarkan terjadinya kekacauan, kekerasan dan penindasan terhadap masyarakat sipil di Afghanistan. Gembong-gembong dari milisi tersebut melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan perampokan, namun mereka kebal hukum. ‘

Dalam konteks yang demikian, kemunculan Taliban di tengah-tengah teraniayanya penduduk sipil, tentu saja bisa dimengerti. Dan itulah yang terjadi pada 1994. Taliban hadir sebagai respons terhadap kebrutalan para warlords tersebut. Menghadapi milisi milisi para warlords binaan AS sejak mereka ini dimanfaatkan AS untuk melawan pendudukan tentara Uni Soviet di Afghanistan.

Akibat dari kebrutalan milisi-miisi para warlords binaan AS seperti yang disebut Aliansi Utara, Taliban saat ini mendapat dukungan dan simpati yang cukup mengakar di beberapa provinsi di Afghanistan. Menurut informasi, Taliban berhasil menguasai 40 persen wilayah wilayah strategis di Afghanistan.

Hal ini mengingatkan kita pada pasukan Vietkong yang berada di Vietnam Selatan, ketika terjadi perang antara Vietnam Selatan yang didukung AS versus Vietnam Utara didukung Uni Soviet dan Cina. Disebabkan kebrulan dan kekejaman pasukan Vietnam Selatan dan dibiarkan oleh tentara AS, maka muncullah suatu kelompok perlawanan dari dalam Vietnam Selatan itu sendiri. Sehingga memudahkan Vietnam Utara untuk menaklukan pasukan AS dan Vietnam Selatan.

Agaknya, itulah sebab Taliban hingga saat ini masih tetap eksis. Bukan karena sulit ditaklukkan secara militer, namun Taliban menyatu dengan dukungan dan simpati mayoritas penduduk Afghanistan.

Ya, Afghanistan saat ini memang beada di jalan buntu.

Penulis: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com