Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

Bagaimana Hario KecikHario Kecik Membungkam Intel Inggris Hanya dengan Mesin Ketik

Rusman

Rusman·26 Desember 2025·2 menit baca

Bagikan
Bagaimana Hario Kecik Membungkam Intel Inggris Hanya dengan Mesin Ketik

Di balik gemuruh revolusi dan intrik politik pasca-kemerdekaan Indonesia, tersimpan satu kisah kontra-intelijen yang nyaris terlupakan namun sangat mematikan. Jenderal (Purn) Soehario Padmodiwirio, yang lebih dikenal dengan nama Hario Kecik, berhasil merobek topeng spionase Inggris bukan dengan peluru, melainkan melalui ketelitian tajam pada sebuah mesin ketik.

Kecurigaan Sang Panglima

Hario Kecik, mantan Panglima Kodam IX/Mulawarman dan tokoh kunci kepolisian militer, mencium adanya kebocoran informasi strategis di lingkungan Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Ia meyakini bahwa jaringan intelijen asing telah menyusup jauh ke dalam jantung komando militer Indonesia, bukan hanya di sektor pertahanan, tetapi juga birokrasi sipil.

Ketajaman instingnya membawa Hario pada sebuah temuan mengejutkan: laporan-laporan rahasia yang mengalir ke pihak Inggris ternyata memiliki karakteristik fisik yang identik dengan dokumen internal militer Indonesia.

Senjata Rahasia: Forensik Mesin Ketik

Dalam dunia intelijen klasik, setiap mesin ketik memiliki “sidik jari” berupa cacat mikroskopis pada huruf-hurufnya. Hario Kecik secara telaten mengumpulkan berbagai salinan naskah dan membandingkan bentuk huruf, kemiringan, hingga tekanan tinta yang dihasilkan oleh mesin-mesin ketik di kantor pemerintahan.

Hasilnya mencengangkan. Hario menemukan bahwa laporan spionase yang dikirim ke intelijen Inggris diketik menggunakan mesin yang sama dengan salah satu mesin ketik yang berada di kantor resmi pemerintah Indonesia. Bukti ini tak terbantahkan: sang pengkhianat atau agen ganda bekerja tepat di bawah hidung para petinggi negara.

Pengakuan Pak Nas

Kisah ini dikuatkan oleh kesaksian Jenderal A.H. Nasution. Dalam catatan sejarah, “Pak Nas” mengakui bahwa Hario Kecik adalah orang pertama yang melaporkan adanya infiltrasi agen Inggris di SUAD. Meski awalnya terdengar seperti paranoia perang, ketelitian Hario membuktikan bahwa musuh tidak selalu berada di balik garis depan, melainkan bisa saja duduk di meja sebelah sambil mengetik laporan harian.

Insiden ini tetap menjadi salah satu pelajaran penting dalam sejarah intelijen Indonesia, menunjukkan bahwa dedikasi dan kecermatan terhadap detail kecil dapat meruntuhkan skema besar imperialisme yang mencoba menguji kedaulatan Bung Karno dan Republik.

Sumber Referensi:

  1. Hario Kecik, Membongkar Intel Inggris dengan Mesin Ketik – Koran Sulindo
  2. Pemikiran Militer 2 Sepanjang Masa Bangsa Indonesia oleh Hario Kecik – Internet Archive
  3. PRRI/Permesta Cara Imperialis Menguji Bung Karno – Koran Sulindo

 

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaAkal Sehat menurut Antonio GramsciSelanjutnyaSebuah Pesan Dari Gen Z (Bagian II)

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents