Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Timur Tengah

Dilema Zionis: Menjaga Rahasia Atau Melancarkan SeranganMelancarkan Serangan Prematur?

Rusman

Rusman·30 Juni 2025·4 menit baca

Bagikan
Dilema Zionis: Menjaga Rahasia Atau Melancarkan Serangan Prematur?

Setelah 12 hari aksi serang terbuka antara Israel vs Iran, banyak asumsi yang berkembang tentang motif dari serangan Israel ke Iran, diantaranya adalah:
1. Serangan tersebut merupakan akumulasi dari kemarahan Israel atas Iran karena selama ini telah memberikan bantuan kepada proksi-proksinya di Kawasan terutama Hizbullah di Lebanon, Ansharullah Houthi di Yaman, dan Hamas di Gaza.
2. Penyerangan Israel terhadap Iran adalah upaya untuk menggulingkan rezim, seperti yang dilakukan di Suriah pada penghujung 2024 dengan mengaktifkan proksinya sebagai aktor lapangan.
3. Tindakan Israel terhadap Iran merupakan balasan atas 2 serangan Iran sebelumnya yang bersandikan True Promise.
4. Serangan Israel terhadap Iran adalah upaya Netanyahu untuk menghindari masalah dalam negeri yang sedang dihadapi, terutama masalah korupsi yang menjeratnya. Dan begitu juga dengan asumsi-asumsi lainnya seputar keterlibatan Iran di kawasan yang menciptakan ketidaknyamanan terhadap pemerintah Zionis.

Jawaban atas asumsi-asumsi tersebut adalah benar. Namun, terdapat satu sisi yang tidak terlalu diperhatikan.

Lantas, Sisi Mana Yang Lalai Dalam Pengamatan?

Sebelum masuk pada jawaban atas pertanyaan di atas, perlu ditegaskan lagi bahwa asumsi-asumsi yang selama ini beredar tentang motif serangan Israel terhadap Iran adalah benar secara nyata. Namun, asumsi-asumsi tersebut jika ditilik bukanlah alasan prioritas Israel dalam membuka front baru.

Kenapa demikian?

Pertama, sudah menjadi konsumsi masyarakat internasional bahwa konflik antara Israel dan Iran terjadi ketika meletusnya revolusi 1979 yang meruntuhkan singgasana Pahlevi. Ditambah lagi umur Revolusi yang jika di istilahkan masih “bau kencur”, Imam Khomeini yang saat itu merupakan pemimpin tertinggi Revolusi menyatakan anti Zionis dan tidak mengakui adanya entitas Israel.

Pernyataan Imam Khomeini bukanlah retorika kosong. Pernyataan tersebut bersenyawa dengan tindakan yang terimplementasikan melalui fatwa peringatan Quds Day di jumat akhir bulan Ramadhan. Yang jika diartikan, maka fatwa Quds Day adalah rudal pertama yang dilepaskan oleh Republik Islam Iran terhadap Israel.

Kedua, jika mengacu kepada asumsi penggulingan rezim atau balasan atas serangan True Promise 1 dan 2, termasuk asumsi mencegah Iran dalam memperoleh senjata Nuklir, bisa saja Israel telah melancarkan serangan terbuka jauh hari sebelumnya, bukan menanti tanggal 13 Juni sebagai hari penghakiman terhadap Iran, ditengah kesibukan Israel dalam menghadapi front Houthi dan Hamas.

Ketiga, apakah kejahatan Israel di kawasan berawal dari kepemimpinan Netanyahu? Apakah pemimpin-pemimpin Israel sebelumnya tidak melakukan kejahatan yang sama? Bahkan jika ditelisik, kejahatan Israel di Timur Tengah (khususnya terhadap Palestina) telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin Israel sebelumnya, baik yang secara konvensional maupun dalam Grey Zone Area.

Motif Serangan Israel Terhadap Iran Pada Tanggal 13 Juni

Jika menyimak dinamika Timur Tengah (khususnya Iran vs Israel), sebelum Israel menabuh genderang perang terbuka dengan Iran di tanggal 13 Juni, militer Israel mengumumkan penangkapan terhadap intelijen Iran yang beroperasi di wilayahnya.

Namun beberapa hari sebelumnya, Garda Revolusi Iran atau yang dikenal dengan IRGC mempublikasikan data rahasia Intelijen Israel jilid 1. Dimana dalam dokumen tersebut mengkonfirmasikan keterlibatan Kepala IAEA atau Lembaga Atom Internasional, Grossi yang terus berkoordinasi dan menjalankan perintah Israel. Tindakan IRGC inilah yang dalam kacamata psywar memicu reaksi Israel.

Sederhananya, jika jilid 1 adalah menyingkap wajah asli dari IAEA, maka tidak menutup kemungkinan, jilid berikutnya adalah penyingkapan wajah-wajah yang lain, bahkan bisa saja identitas agen-agen Israel yang sedang beroperasi didalam Iran pun akan terekspos, termasuk strategi dan taktik yang telah dibangun selama ini yang orientasinya adalah penaklukkan negeri para Mullah.

Jika kondisi demikian adanya, maka Israel hanya memiliki dua opsi, yakni menyelamatkan aset-asetnya baik dalam maupun luar negeri serta strategi yang telah dirancang selama ini, ataukah membiarkan Iran menghancurkan satu per satu ekspektasinya yang sudah hampir rampung.

Oleh karena itu, walaupun Israel sangat paham dengan kekuatan militer Iran, terutama kualitas dan kuantitas kekuatan dirgantara IRGC (dengan bercermin pada 2 serangan Iran sebelumnya), namun demi menyelamatkan aset dan strateginya, maka Israel perlu mengambil langkah awal melancarkan serangan terhadap Iran dengan harapan menciptakan kondisi ketidak amanan terhadap rakyatnya, dimana tujuan akhirnya adalah selain menyelamatkan aset-asetnya, dan juga memicu gelombang protes rakyat Iran kepada pemerintah (menggulingkan rezim yang berkuasa).

Hal ini mudah untuk dianalisis. Karena sebagaimana yang telah diketahui dunia bahwa Israel adalah negara yang memiliki sumberdaya militer dan intelijen terbaik di Kawasan. Sudah barang tentu jika Israel berniat untuk melakukan serangan secara konvensional terhadap Iran, maka yang ada dalam pikiran mereka adalah melakukan serangan yang mematikan sehingga Iran tidak dapat melakukan balasan. Maka otomatis, target dari serangan 13 Juni adalah bukan hanya sebatas melumpukan, tetapi juga menghancurkan agar musuh tidak dapat bangkit kembali.

Namun realitas yang terjadi justru terbalik, sebelum melewati 24 jam, Iran telah melakukan serangan balasan, yang bahkan target sasarannya adalah jantung pertahanan Israel. Kondisi ini dapat mengkonfirmasikan bahwa serangan Israel terkesan tanpa perencanaan yang matang karena ”mungkin saja” terpicu oleh bocornya data intelijen.

Husni Mubarak Raharusun, alumni Universitas Pertahanan

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaTiga Fenomena di Afghanistan Terulang Lagi Pada Pertempuran 12 Hari dan Kalkulasi Gencatan Senjata Antara Iran-IsraelSelanjutnyaRibuan Massa Free Palestine Network Tumpah Ruah di Majene Sulbar

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
Internasional

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents