About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Society

Bilamana HabbemaHabbema jadi Menteri P & K

Rusman

Rusman·15 February 2026·4 min read

Share
Bilamana Habbema jadi Menteri P & K

Oleh: Mahbub Djunaidi

Tahun 1904 J. Habbema punya pikiran yang tidak kelewat jelek mengenai “bagaimana mendidik pribumi supaya sejalan dengan kepentingan politik dan ekonomi penguasa kolonial”.

Bilamana orang ini masih ada umur dan diangkat jadi Menteri P&K, beberapa kesulitan teknis akan segera timbul. Pertama, kita masih punya Menteri P&K karena itu sulit dibayangkan satu negeri punya dua menteri dengan urusan serupa. Lain hal kalau departemennya dipenggal dua, ada Menteri Tua dan ada Menteri Muda. Kedua, dia bukan orang Pekalongan atau Soreang melainkan dari dekat-dekat Scheveningen sana di mana tiap orang yang mau menikmati pemandangan laut lepas mesti naik tangga karena negerinya terhampar di bawah permukaan laut.

Tapi karena sekarang ini semuanya bisa diatur, kemudahan pun tersedia baginya. Pertama, kalau di tahun 1904 dia menggunakan istilah pribumi, selang 76 tahun kemudian sebutan itu masih tetap berlaku tanpa perlu merasa kikuk sedikit pun. Kedua, masalah pendidikan dari hampir semua aspek belum selesai benar, baik kesulitan mau masuk sekolah, kesulitan selama masa sekolah, dan kesulitan sesudah tamat sekolah. Seakan-akan – mudah-mudahan dugaan ini meleset – kemudaratan itu sudah tertempel di dahi dan tak terhapuskan sampai planit-planit terlempar ke luar garis edarnya. Ketiga, dia tidak usah was-was kena copot karena apa pun langkahnya Menteri P&K itu bagai paku yang habis terhunjam ke dalam sepotong balok hingga tidak sembarang tangan bisa membedolnya ke luar.

Sesudah duduk di kantor Jalan Sudirman, langkah utama yang dilakukannya adalah berdasar garis pikiran yang pernah dicetuskannya di tahun 1904. Dia maklum semaklum-maklumnya keadaan sudah banyak berubah. Kantornya saja waktu itu masih penuh pohon manggis dan jengkol, bajing berlompatan kian ke mari dan kampret bergelantungan di hampir setiap daun seakan tetumbuhan itu milik tantenya sendiri. Dan waktu itu sama sekali belum ada ramalan cuaca yang diteriakkan persis di lubang telinga tiap malam sehingga orang tidak peduli apakah esok hari angin bertiup pelan, sedang atau antara sedang dan cepat. Lebih-lebih belum ada Paket Buku yang mengangkat departemennya jadi produser buku terbesar di seluruh negeri sehingga separuh waktu habis tersita untuk berbincang sepelan mungkin dengan para pencetak. Oleh karena pragmatisme harus dianut dan disembah, segala perubahan besar itu tidaklah menjadi halangan besar baginya.

Habbema langsung menoleh ke desa tanpa bersingsut dari kursi putarnya. Segala ilmu harus disebarluaskan ke sana. Anak-anak tani toh tidak kudu meniarap di punggung kerbau sampai binatang yang begitu dungu itu pun mampu merasa jemu. Mereka harus digiring masuk sekolah. Dengan kepandaian bertambah, otak berputar, tak gampang lagi mereka terpedaya oleh lintah darat, tukang ijon, bisikan kaum fanatik, rentenir, takhayul, gendruwo, kuntilanak, dukun tiup atau dukun usap, dan kaum penghasut yang membikin penguasa tidak bisa tidur lelap di peraduannya. Dengan kepandaian bertambah dan otak berputar, mereka setidaknya bisa meningkat jadi mandor, jadi carik desa, jadi jurutulis kantor. jadi karyawan pos, jadi kondektur kereta api.

Berbarengan dengan itu Habbema juga maklum, penyebarluasan pendidikan sekaligus mesti diimbangi dengan perluasan lapangan kerja. Makin pandai mereka, makin besar tuntutan. Jika imbangan ini tidak serasi, bahaya besar akan timbul, lebih mengerikan dari sebuah gempa baik gempa tektonis atau akibat meletusnya gunung Merapi. Bahaya itu adalah membiaknya “kaum intelektual proletar”, kepala penuh tapi kantung kempes, seliweran bagai raron di sekitar lampu pi- jar. Salah-salah buatan mereka bisa kesetanan, menubruk kita hingga jatuh terjengkang sesudah lebih dulu menggigit bibir dan pantat. Jalan lolos satu-satunya adalah: politik ekonomi non feodal, non kolonial, yang demokratis, persis berdiri di belakang punggung kebijaksanaan pendidikan yang tepat.

Sampai di sini Habbema tercenung. Ada beberapa pikiran tahun 1904-nya yang janggal diterapkan sekarang, sumbang dan mudah membuat tersinggung. Selang waktu 76 tahun bukanlah barang sebentar. Pohon sengon yang dulu ditanam sekarang pucuknya sudah menyentuh awan. Gedung Komidi yang agung di Pasar Baru sudah berubah jadi bioskop film picisan. Rumah Bola Harmoni yang hanya bisa disentuh kaki berkasut sekarang tak seorang pun tahu apa isinya. Misalnya, janggal mengajar murid supaya taat dan patuh karena hal ini hanya akan memancing perdebatan riuh, taat macam apa dan patuh kepada model bagaimana. Perdebatan itu tidak akan berhenti kalau saja bel tidak berbunyi. Misalnya, janggal mengajar murid supaya necis karena mata pelajaran itu sudah diperolehnya langsung dari pesawat televisi siaran resmi pemerintah.

Soal NKK? Habbema terbahak-bahak begitu kerasnya sehingga semua perabot yang ada di kamarnya, terlebih-lebih asbak, terguncang karenanya. Cukup berbisik kepada sopir, pergi melancong dari satu kampus ke kampus lain, tatap muka yang bersangkutan, kalau perlu ikut main volley bersama-sama ala kadarnya, gampang saja pikirnya. Asal anak-anak muda yang seperti burung beranjangan itu dibiarkan urus kepentingannya tanpa digondeli tali kolomnya dan dikeker-keker lewat mikroskop seakan sperma makhluk angkasa, semuanya beres.

Sumber: TEMPO, No. 50, Th. IX, 9 Februari 1980

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousTidak Mungkin Memisahkan Olahraga dan PolitikNextBuku Lawas, Energi Baru

More in Society

View all
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Society

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 July 2026 · 5 min read

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitics

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 July 2026 · 7 min read

Most Read

  1. 01Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
  2. 02Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  3. 03Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  4. 04Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  5. 05Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents