About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Culture

Kekejaman Sejarah Dalam Bingkai Simbolisme GeografisSimbolisme Geografis

Rusman

Rusman·18 September 2024·2 min read

Share
Kekejaman Sejarah Dalam Bingkai Simbolisme Geografis

“HAMPIR setiap kekejaman sejarah,” demikian tulis jurnalis Alexandra Fuller, “memuat simbolisme geografis”.

“Tempat yang namanya mengingatkan kita pada trauma suatu kaum,” tambah Fuller.

Dia lalu menyebut beberapa tempat di dunia yang disebutnya sebagai simbol kekejaman sejarah.

Ini diungkap kembali oleh Alexandra Fuller ketika melakukan liputan jurnalistik tentang tragedi kekerasan yang menimpa suku Lakota Oglala di Amerika Serikat (AS) pada 15 Desember 1890.

Setidaknya 145 orang Oglala terbunuh ditembak tentara AS — termasuk 18 anak-anak.

Dia kemudian mendatangi situs kekerasan itu dan memotret bagaimana generasi sekarang suku tersebut berjuang hidup dalam bingkai kekerasan di masa lalu itu.

Laporan jurnalistik Fuller ini membayangiku dalam meliput tragedi kekerasan 1965 di Bali, pekan pertama September 2024 lalu.

Salah-satu simbol geografi kekejaman sejarah — jika Anda setuju dengan istilah ini — yang kudatangi adalah ‘Taman 65’ . Letaknya di sudut Kota Denpasar, Bali.

Agung Alit dan kakaknya Mayun (“panggil saya Ibu Mayun saja, itu sudah lengkap,” ujarnya, tegas) membangun taman itu, antara lain, agar masyarakat (dan negara) tidak melupakan tragedi pembunuhan massal pasca 1 Oktober 1965.

Sebagian sejarawan memperkirakan 80.000 orang yang dianggap anggota atau simpatisan PKI dibunuh di Bali. Di Indonesia diperkirakan antara 500.000 hingga satu juta orang dibantai antara 1965 dan 1966.

Taman 65 didirikan Agung Alit di bekas kamar ayahnya. Sang bapak hilang dan kemungkinan besar dibunuh pada tahun-tahun itu.

Kami juga mendatangi kuburan massal di sudut Denpasar. Agung Alit mengantar kami ke sana. Diduga ayahnya dikubur di tempat yang kini di atasnya dibangun kantor pemerintah dan pasar.

Selama sepekan, kami juga mendatangi situs-situs lokasi kuburan massal tragedi 1965 di sejumlah tempat di Bali. Kami menemui saksi mata, keluarga korban dan orang-orang yang dipersepsikan sebagai pelaku.

Laporan lengkapnya akan dimuat di BBC Indonesia menjelang akhir September nanti.*

(Foto: Taman 65, Denpasar, Bali, 3 September 2024, bersama Ibu Mayun, Gung Alit dan videografer Oki Budhi).

Heyder Affan, Wartawan Senior

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousSejarah SotoNextBelajar Dari Cina dan India Memanfaatkan Senjata Nonmiliter Menghadapi Perang Nirmiliter Asing

More in Culture

View all
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Culture

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 August 2026 · 9 min read

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Society

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 July 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents