About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Sinta Obong dan Ruptura PactadaRuptura Pactada

Rusman

Rusman·28 April 2023·4 min read

Share
Sinta Obong dan Ruptura Pactada
Tafsir dan Analogi Geopolitik Dalam kisah Ramayana, babak ‘Sinto Obong’ tayang setelah episode Anoman Obong dan Sinta Boyong tutup layar. **Baca: Filosofi Anoman Obong dan Sinta Boyong-(1); dan Abstraksi Sinta Boyong-(2) di www.theglobal-review.com. Kilas balik sejenak kedua episode di atas. Anoman Obong misalnya, di tingkat global adalah ‘kebakaran’ di Dunia Barat yang disebabkan justru oleh Barat sendiri. Rezim Barat dalam hal ini ialah Amerika Serikat (AS), Inggris, dan jajaran Uni Eropa (UE) yang melakukan blunder policy dengan memblokade (sanksi) terhadap impor Rusia, sedang mereka tergantung minyak, gas, dan biji-bijian dari Negeri Beruang Putih. Geblek. Kebijakan ceroboh tersebut akhirnya malah menjerumuskan ekonominya menuju kolaps. Keputusan bumerang. Sedangkan abstraksi Anoman Obong di tingkat lokal adalah terkuaknya berbagai perilaku koruptif di daerah serta beberapa institusi negara dan/atau pemerintah yang dipicu oleh hal-hal remeh seperti flexing, misalnya, atau konflik internal dalam lembaga, kasus penganiayaan di jalan, dan lain-lain. Siapa mengira, konflik internal di KPK dapat menguak kasus lain yang lebih besar; siapa sangka, penganiayaan Mario terhadap David mampu menyingkap money laundering ratusan triliun rupiah di Kemenkeu; dan banyak lagi aib besar lain terbuka akibat hal-hal kecil. Konon diyakini bahwa Kedaulatan Tuhan tengah bekerja melalui caranya sendiri secara senyap. Adapun abstraksi Sinto Boyong di level global ialah ‘digugat’-nya sistem unipolar yang selama ini dinikmati oleh Barat, namun kini mulai bergeser pelan ke sistem multipolar. Terjadi geopolitical shift dari Barat ke Timur, ada pergeseran lanskap geopolitik dari Atlantik ke Asia Pasifik. Inilah yang tengah berlangsung melalui lapangan tempur (hybrid war) di Ukraina dengan lakon Putin beserta BRICS-nya. Sedang ujud Sinta Boyong di level lokal adalah menebalnya isu hulu yakni kembali ke UUD 1945 Naskah Asli, hasil karya the Founding Fathers. Kenapa? Bahwa UUD hasil amandemen empat kali (1999, 2000, 2001 dan 2002) ternyata malah menciptakan kebuntuan-kebuntuan dalam bernegara terutama ketika bangsa ini hendak menyikapi fluktuatif lingkungan (strategis) yang berubah. Inilah rezim deadlock. Sekarang masuk ke abstraksi Sinta Obong. Singkat cerita, sebelum Sinta diboyong kembali ke Ayodhya, menyeruak keragu-raguan pada diri Rama. Apakah Sinta masih suci setelah bertahun-tahun disekap oleh Rahwana? Jegleer! Para dewa di Kahyangan pun geger serta rakyat Ayodhya menangis mendengar praduga tersebut. Apa hendak dikata. Keraguan Rama atas kesucian Sinta adalah logis, maka perlu pembuktian guna meyakinkan Rama dan publik. Sinta Obong (Sinta membakar dirinya) ialah proses dan ritual pembuktian atas kesucian dirinya serta mesti dijalani. Ringkas episode, Sinta pun menyeburkan diri ke lautan api yang berkobar-kobar. Itulah ilustrasi pembersihan diri sekaligus pembuktian atas segala persepsi, syak-wasangka dan keraguan Rama terhadap Sinta. Publik berharap cemas atas hasil ritual, apakah Sinta menjadi abu dilahap api karena sudah ‘kotor’ dijamah Rahwana, atau ia tetap hidup, utuh dan keluar dari kobaran api dengan wajah berseri-seri karena (masih) suci? Alhasil, selain Sinta tetap hidup dalam kobaran api, ia juga keluar dari jilatan api dengan wajah bersinar. Rama takjub. Dan ia pun berlari memeluk Sinta erat-erat seperti tak mau lepas lagi. Itulah sekilas episode Sinta Obong dalam kisah Ramayana. Pertanyaan filosofi pun muncul, “Bagaimana abstraksi Sinta Obong dalam tafsir geopolitik baik di level lokal/nasional maupun pada skala global?” Kelak, apabila tegak berdiri sistem dan aturan (rezim) baru yang terbidani atas perjuangan kembali ke UUD 1945 Naskah Asli, maka ia —rezim dimaksud— harus terbebas dari anasir – anasir lama (unsur dari rezim UUD hasil amandemen). Ya. Siapapun, apapun, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, jika dulunya bagian dari sistem masa lalu maka ketetapannya adalah “dilarang”, bahkan diharamkan untuk berada pada (rezim) kekuasaan baru. Istilahnya Ruptura Pactada, rezim baru mutlak harus terbebas dari anasir lama alias bersih dari unsur-unsur rezim masa lalu. Demikian juga di level global, sistem multipolar kelak harus clean and clear dari tatanan unipolar. Tatkala rezim lama diikutsertakan meski unsur terkecil sekalipun, maka praduga dan syak-wasangka Rama terhadap Sinta niscaya muncul kembali. Dan hal tersebut, mampu membuat geger Kahyangan dan rakyat. Sebab, bila anasir masa lalu diikutsertakan maka jalannya rezim baru pasti terhuyung-huyung alias tidak optimal. Demikian episode Sinta Obong diabstraksikan secara ringkas dalam tafsir dan analogi geopolitik baik lokal maupun global. Tak ada maksud menggurui siapapun, apalagi para pihak yang berkompeten. Tidak sama sekali. Hanya sekadar sharing terkait tafsir geopolitik berbasis analogi Ramayana. Tak lebih. Catatan khusus pada analogi Sinta Obong di tingkat lokal ialah, bahwa rezim baru kelak terbidani oleh sistem UUD 1945 Naskah Asli, bukan lahir dari rahim UUD NRI 1945 hasil empat kali amandemen. Demikian adanya, demikianlah sebaiknya. Tamat M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousUpaya AS dan Inggris Mendorong Persekutuan Militer di Asia Pasifik Akan Memicu Militerisasi dan Perlombaan SenjataNextUpaya AS-NATO Meningkatkan Bantuan Militer dan Tehnologi ke Ukraina, Kontraproduktif

More in Analysis

View all
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Most Read

  1. 01Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
  2. 02Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  3. 03Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  4. 04Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  5. 05Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents