Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Bedah Buku

Gelombang Akhir NasionalismeNasionalisme

Rusman

Rusman·31 Desember 2025·4 menit baca

Bagikan
Gelombang Akhir Nasionalisme

Resensi oleh: Taufik Abdullah
(TEMPO, No. 44, Thn. XIII, 31 Desember 1983)

Judul buku: IMAGINED COMMUNITIES: REFLECTION ON THE ORIGIN AND SPREAD OF NATIONALISME
Pengarang: Benedict Anderson
Penerbit: Verso, London, 1983
Tebal: 160 halaman

Buku ini bertolak dari ketidakpuasan atas teori yang ada untuk menerangkan gejala historis yang sangat dominan sejak awal abad XIX, yaitu nasionalisme. Baik teori yang bertolak dari kecenderungan liberal ataupun Marxis, kata pengarangnya, kini memerlukan suatu reorientasi – tak ubahnya dengan teori Ptolemeus memerlukan semangat Copernicus. Sebab itu, ia mulai dari dasar tolak awal dengan mengambil sikap bahwa sifat kebangsaan (nationality) dan nasionalisme adalah perwujudan “kebudayaan khusus”. Untuk dapat memahami fenomena ini dengan baik, faktor yang menyebabkannya muncul di pentas sejarah, serta perubahan sifat dan maknanya dalam peredaran zaman, haruslah dikaji. Tak kurang pentingnya ialah pertanyaan mengapa nasionalisme dan kebangsaan tetap memmberikan dorongan emosional yang kuat sampai sekarang.

Anderson bertolak dari suatu definisi kerja bahwa bangsa adalah suatu komunitas yang dibayangkan (bukan komunitas khayalan) yang ada batas-batasnya dan juga berdaulat. Tentang sifat berdaulat ini, setiap orang yang kenal dengan Hans Kohn dan penganut teori historis lainnya tentang nasionalisme dan bangsa tentu menyadari bahwa hal ini bukanlah sekadar “keadaan”, juga “proses” dan “cita-cita”. Soal adanya batas tentu tak perlu dijelaskan lagi. Tetapi konsep komunitas yang dibayangkan (imagined community) memang perlu dijelaskan.

Yang pasti ialah betapa pun kecilnya suatu bangsa tak semua mereka yang berada dalam ikatan ini saling mengenal. Tapi, mengapa mereka merasa seakan-akan dalam suatu suasana pergaulan? Mereka “membayangkan” berada dalam suatu komunitas bersifat kerekanan yang horisontal. Lebih penting lagi, imagined community memberikan kerangka yang telah “nyata pada dirinya” – suatu kemungkin yang jelas telah tersedia untuk mengerti lingkungan.

Komunitas seperti ini telah ada sejak dulu. Tapi “yang dibayangkan” itu bukanlah “bangsa”. Maka, disinilah Anderson memperlihatkan interpretasi sejarahnya. “Bangsa” dalam pengertian yang simbolis ini, sebenarnya muncul setelah “kebangkrutan” dari “komunitas agama” dan “daerah dinasti”. Kemungkinan validitas dan keabsahan komunitas agama ditentukan oleh ajaran yang diberikan oleh kitab suci. Sedangkan “daerah dinasti” secara kultural beranggapan bahwa pusat adalah sumber dari segala ukuran. Kedua komunitas itu menisbikan, bahkan menafikan, keberlakuan ukuran “bangsa” (sebagaimana kemudian dikenal). Jika agama bertolak dari bahasa para pendeta, maka dinasti lebih ditentukan oleh ikatan genealogi.

Tentu saja, kata Anderson, “bangsa” tak bisa lahir hanya dari kabangkrutan kedua corak komunita itu. Terjadinya perubahan dalam cara memahami dunia, khususnya dalam konsep waktu, juga sangat menentukan. Kesadaran aakan “suasana serentak”—terjadinya berbagai hal dalam dimensi waktu yang sama—telah mulai menjalar. “Waktu” tak lagi harus dilihat hanya dalam kaitan “dahulu” dan “kemudian”, tapi bisa pula dalam “keseketikaan”. Kalau telah begini, tentu saja “komunitas yang dibayangkan” itu lebih riil dalam kesadaran.

Perubahan ini terutama disebabkan oleh berkembangnya “kapitalisme cetak-mencetak”. Penyebaran informasi menjadi luas dan terjadi dalam waktu yang dekat. Hal ini menyebabkan makin menyebar dan mendalamnya hasrat memakai bahasa sendiri. Bahasa dan hasil cetak ini bukan saja menggerogoti dengan keras dua corak komunitas di atas, melainkan juga merupakan dasar kesadaran nasional. Sebabnya: pertama, keduanya menciptakan forum pertukaran informasi dan komunikasi; kedua, mematrikan suatu keterikatan pada bahasa, yang kemudian akan menjadi bagian paling sentral dari dasar subyektif bangsa; dan ketiga, menciptakan bahasa – kekuasaan yang lain dari bahasa administratif lama.

Inilah tahap bahasa daerah (nasional) dari nasionalisme – ketika semangat liberal masih dominan. Tapi kemudian nasionalisme juga dijadikan ideologi penguasa. Dengan begini, cara komunitas ini harus “dibayangkan” berubah pula. Konsep tentang kesatuan dan persatuan ditentukan oleh pusat kekuasaan. Maka, di samping terjadi pelebaran kekusaan ke daerah-daerah baru, kita menemukan pula usaha uniformitas kultural pada penduduk yang berada di bawah kekuasaan itu. Jika Rusia melakukan “Rusifikasi”, tentu juga Jepang menjalankan “Japanifikasi” terhadap Korea dan Taiwan; dan seterusnya. Dengan menyebarnya corak nasionalisme “resmi” yang bersifat imperial ini, kabur pula batas antara nasionalisme dan rasialisme. Apalagi, rasialisme tidaklah bertolak dari kesadaran genetik, melainkan kepentingan ekonomis.

Imperialisme dan kapitalisme, yang diampingi kemajuan teknologi dan sebagainya, mendorong naiknya frekuensi mobilitas fisik – orang makin banyak bepergian – dan menyebarnya pendidikan modern. Dalam suasama inilah muncul pejabat-pejabat “creole” alis “indo” (secara kultural). Maka, “kesenjangan kolonial” pun terjadi. Kisah lama tentang frustasi para terdidik tentu bisa pula diulang.

Setelah kemerdekaan tercapai, mengapa semangat nasionalisme, yang kadang-kadang mengambil bentuk agak keras dan (bahkan irasional) masih tampak? Kecenderungan inilah yang disebut Anderson “gelombang akhir”. Asal-usul “gelombang akhir nasionalisme ini,” katanya “ialah sebagai jawaban terhadap gaya imperialisme global yang baru, yang terjadinya dimungkinkan oleh keberhasilan kapitalisme industri”.

Buku yang tak mudah ini, dan ditulis dengan kemampuan retorika yang tinggi, menantang asumsi lama tentang bangsa dan nasionalime serta memancing dialog yang lebih jauh. Karena itu, buku yang memakai pendekatan sejarah – komparatif dan bersifat interdisiplier – ini sangat penting bagi mereka yang mempelajari ilmu politik dan sejarah modern.

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKebijakan Imigrasi Trump, Kapitalisme Global, dan Nasionalisme RasialisSelanjutnyaMenyingkap Opsi Samson, Doktrin Israel Untuk Mati Bersama Musuh

Lainnya di Bedah Buku

Lihat semua
Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
Bedah Buku

Ketika Artificial IntelligenceArtificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

16 Agustus 2026 · 12 menit baca

Membaca “Defensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia
Bedah Buku

Membaca “Defensive NationalismDefensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia

12 Agustus 2026 · 8 menit baca

Mengapa Presiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?
Bedah Buku

Mengapa Presiden IndonesiaPresiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?

7 Agustus 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents