Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Bedah Buku

Kebijakan Imigrasi TrumpKebijakan Imigrasi Trump, Kapitalisme Global, dan Nasionalisme Rasialis

Hendrajit

Hendrajit·7 Februari 2026·5 menit baca

Bagikan
Kebijakan Imigrasi Trump, Kapitalisme Global, dan Nasionalisme Rasialis
Harsha Walia. _Border and Rule: Global Migration, Capitalism, and the Rise of Racist Nationalism. Chicago: Haymarket Books, 2021.
Tindakan kekerasan petugas ICE (U.S. Immigration and Customs Enforcement) pemerintahan Trump terhadap warga sipil dan imigran membangkitkan kemarahan dan perlawanan publik, khususnya di Amerika sendiri. Tindakan ekstrem petugas ICE hingga saat ini setidaknya telah menyebabkan dua warga AS terbunuh.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: Apa yang sebenarnya sedang terjadi di AS? Mengapa perlakuan terhadap imigran oleh pemerintah Trump begitu keras, bahkan bisa dianggap melanggar HAM? Buku karya Harsha Walia tampaknya bisa memberi kejelasan. Walia adalah salah satu pemikir dan aktivis hak-hak imigran terkemuka di Amerika Utara.
Border and Rule bukan sekadar buku tentang imigrasi—ia adalah analisis luas tentang hubungan antara negara, kapitalisme global, dan nasionalisme rasialis, yang dibentuk melalui sejarah perbatasan, kekuasaan, dan penguasaan wilayah.
Dalam buku ini, Harsha Walia membuka cara pandang baru tentang apa itu perbatasan dan mengapa deportasi, penahanan, dan pengusiran imigran bukan fenomena terpisah, tetapi bagian dari logika terintegrasi kekuasaan global, yang berakar dalam imperialisme, akumulasi modal, dan diskriminasi rasial.
Dia menolak narasi konvensional yang melihat “krisis migrasi” sebagai sekadar kegagalan manajemen. Sebaliknya, Walia menjelaskan bahwa migrasi adalah hasil yang tak terpisahkan dari sejarah penaklukan wilayah, perampasan tanah, kolonialisme, dan kapitalisme yang terus menciptakan ketidaksetaraan dan krisis ekonomi di seluruh dunia.
Ini bukan hanya soal orang pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah tentang bagaimana negara-negara kuat membangun struktur besar yang mengeluarkan jutaan orang dari tanah air mereka, lalu menolak mereka masuk ke negara kaya, dengan alasan keamanan atau identitas nasional.
Walia menjelaskan border atau perbatasan sebagai sesuatu yang jauh lebih dari sekadar garis di peta. Perbatasan adalah mekanisme kontrol sosial dan ekonomi yang memisahkan warga negara dari yang tidak diinginkan, dan yang sering kali memperkuat hierarki rasial serta eksploitasi tenaga kerja murah.
Kebijakan visa khusus, pekerja temporer, deportasi, sistem penahanan, dan bahkan kriminalisasi imigran menjadi bagian dari satu ekosistem global, yang memproduksi imigran stateless (tanpa kewarganegaraan), pekerja rentan, dan kelas sosial terpinggirkan.
Dalam konteks Amerika Serikat, Walia juga menelusuri sejarah panjang kebijakan perbatasan yang sarat dengan kekerasan: dari ekspansi wilayah melalui penaklukan dan peminggiran penduduk asli (Indian), hingga pembuatan kebijakan yang memperlakukan imigran sebagai ancaman, dan bukan manusia yang berpindah karena desakan kondisi struktural.
Ia berargumen bahwa diskriminasi dan penindasan imigran bukan sekadar gejala kebijakan diskriminatif, tetapi bagian dari strategi modern negara dalam mempertahankan kekuasaan ekonomi, sosial, dan rasial.
Kebijakan Trump dan Kontroversi ICE
Di buku ini, Walia secara eksplisit mengkritik pendekatan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump—termasuk rencana pembangunan tembok perbatasan dan tindakan keras terhadap imigran—sebagai bagian dari pola yang lebih besar dari penegakan negara yang memprioritaskan kontrol, kekerasan, dan peminggiran, yang secara historis telah melekat dalam pembentukan negara modern.
Selama pemerintahan Trump, U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) diberi mandat lebih besar untuk menindak imigran tanpa dokumen, termasuk penangkapan massal, deportasi, dan operasi di dalam negeri.
Kebijakan ini menimbulkan kritik luas karena: pendekatan yang agresif dan kerap bertabrakan dengan hukum negara bagian atau lokal, tindakan yang terkadang melibatkan kekerasan terhadap imigran, dan perilaku aparat penegak yang dinilai melanggar HAM atau praktik etika pemerintah.
Pendekatan ini konsisten dengan apa yang dibahas Walia sebagai border rule—yakni penggunaan instrumen negara untuk menegakkan hierarki antara warga dan bukan warga secara sistemik, dan seringkali dengan legitimasi hukum yang dipaksakan.
Kekerasan dan Kriminalisasi
Walia menggarisbawahi bagaimana perbatasan internal (seperti penangkapan oleh ICE jauh dari batas geografis negara) atau eksternal sama-sama berfungsi untuk membentuk rakyat kewarganegaraan ganda: warga yang dilindungi dan non-warga yang direntankan.
Ini relevan ketika kebijakan pemerintah Trump memperluas peran aparat federal di luar perbatasan fisik AS—misalnya, penangkapan di gedung apartemen, kampus, atau lokasi komunitas; serta penahanan massal di fasilitas yang dikritik karena kondisi tidak manusiawi.
Selain itu, Walia mengaitkan kebijakan ini dengan apa yang ia sebut kebijakan rasialis nasionalis: mendeskripsikan imigran sebagai ancaman bukan hanya politik, tetapi identitas bangsa yang “tidak diketahui”.
Dalam narasi publik dan kebijakan Trump, muncul bahasa yang menekankan “penegakan hukum ekstrem” atau “melindungi warga dari yang ilegal”—yang menurut Walia merupakan manifestasi dari logika eksklusi yang diwariskan dari sejarah penaklukan, kolonialisme, dan supremasi kulit putih.
Kebijakan Ini Bukan Anomali, Tetapi Produk Struktur
Salah satu poin penting Walia adalah bahwa kebijakan seperti itu bukan hanya sekadar ulah satu pemimpin, tetapi bagian dari paradigma global yang lebih besar di mana negara menggunakan perbatasan, hukum, dan aparat penegak untuk mendukung kepentingan kapital dan politik dominan—sementara memarginalkan mereka yang secara ekonomi dan sosial tidak menguntungkan.
Pandangannya menunjukkan bahwa praktik seperti kekerasan aparat terhadap imigran atau penggunaan otoritas federal untuk menangani isu imigrasi tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang negara yang memproduksi eksklusi dan eksploitasi.
Dalam Border and Rule, Harsha Walia menyusun peta besar tentang bagaimana perbatasan bukan garis geografis saja, tetapi teknologi kekuasaan yang menyusun ulang siapa yang layak hidup, bekerja, dan dimiliki perlindungan hukum—dan siapa yang tidak.
Dengan kemampuannya yang tajam untuk menghubungkan, Walia menunjukkan bagaimana perbatasan memecah kelas pekerja internasional dan mengkonsolidasikan kekuasaan imperial, kapitalis, kelas penguasa, dan nasionalis rasis. Ada hubungan yang menguntungkan antara kekerasan negara, kapitalisme, dan nasionalisme sayap kanan di seluruh dunia.
Kebijakan pemerintahan Trump, termasuk operasi ICE yang keras dan kontroversial, bisa dilihat bukan hanya sebagai respon politik terhadap isu imigrasi, tetapi sebagai manifestasi dari struktur geopolitik dan ekonomi yang jauh lebih tua, di mana migran diposisikan sebagai “yang lain” yang harus diatur, dikendalikan, atau dikeluarkan demi menjaga status quo kekuasaan negara.
Dengan menjelaskan mekanisme brutal pembentukan negara, Walia mengekspos kebijakan perbatasan AS sebagai produk dari perluasan wilayah yang disertai kekerasan, kolonialisme pemukim, perbudakan, dan pengucilan ras berdasarkan gender.
Buku Walia ini menawarkan lensa kritis untuk memahami bukan hanya apa kebijakan imigrasi yang dilakukan, tetapi mengapa ia dilakukan dalam cara yang sering bertentangan dengan martabat manusia—masalah yang terus muncul dalam kontroversi kebijakan imigrasi AS saat ini. #
Satrio Arismunandar, Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council)
Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaBedah Buku “Politik Kesetaraan” Karya Heiner BielefeldtSelanjutnyaGelombang Akhir Nasionalisme

Lainnya di Bedah Buku

Lihat semua
Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
Bedah Buku

Ketika Artificial IntelligenceArtificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

16 Agustus 2026 · 12 menit baca

Membaca “Defensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia
Bedah Buku

Membaca “Defensive NationalismDefensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia

12 Agustus 2026 · 8 menit baca

Mengapa Presiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?
Bedah Buku

Mengapa Presiden IndonesiaPresiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?

7 Agustus 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents