Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Ilusi Dominasi AmerikaDominasi Amerika di Teluk Persia: Perang Kata-Kata

Rusman

Rusman·30 Januari 2026·3 menit baca

Bagikan
Ilusi Dominasi Amerika di Teluk Persia: Perang Kata-Kata

Ngobrol soal Ketegangan Geopolitik di Teluk Persia dengan Ichsanuddin Noorsy di Tebb-Six Coffee, Jak-Sel

Merapatnya hampir seluruh Armada Amerika (AS) yang dimotori Armada V CENTCOM ke Teluk Persia, bukan sekadar langkah strategis biasa. Dari perspektif geopolitik, itu adalah pamer kekuatan, shock and awe. Suatu penampilan yang lebih mirip gertak sambal secara fisik daripada ancaman nyata. Armada tempur, kapal induk, kapal perusak, dan jet tempur bersiaga. Realitasnya tidak begitu. Sejarah dan kekuatan pihak lawan (Iran) menunjukkan bahwa situasi jauh lebih kompleks. Yuk kita lihat:

Pelajaran dari Sejarah

AS pernah menghadapi Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003. Di Afghan, Taliban yang serba terbatas baik personel maupun persenjataan melawan total, meski AS bersama koalisi NATO dan ISAF didukung mesin perang canggih. Hasilnya? Dua dekade konflik yang melelahkan, biaya triliunan dolar. Untuk memerangi Irak — Stiglitz menulis sebagai perang USD 3 triliun. Sementara Taliban tetap bertahan serta menguasai sebagian besar wilayah. Setelah 20 tahun, AS dan sekutu pun angkat kaki. Media Barat pun kemudian menebar berita buruk pemerintahan Taliban.

Dalam konteks itu, pertanyaannya jelas. Apakah AS akan lebih mudah menghadapi Iran — sendirian, tanpa NATO, tanpa ISAF?

Jawaban berbasis sejarah, kemungkinan besar: TIDAK. Iran bukan Taliban. Mereka memiliki struktur militer terorganisasi, persenjata modern dan canggih, dan jaringan pertahanan yang teruji dalam peperangan.

Kekuatan Iran

Secara historis dan kronologis, Iran adalah penerus imperium Persia yang berabad-abad menjadi kekuatan regional. Saat ini, Iran memiliki:

  • Angkatan darat dan laut modern, termasuk rudal balistik presisi dan sistem pertahanan pantai yang kuat.
  • Program rudal strategis yang mampu menembus wilayah regional, antarbenua, dan sangat mudah menjangkau pangkalan militer AS di Teluk.
  • Ia juga punya pasukan proksi milisi bersenjata di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman yang bisa meluncurkan serangan baik simetris maupun asimetris.
  • Sumber daya energi berupa cadangan minyak terbesar ke-4 di dunia, gas terbesar ke-2, yang memberi leverage geopolitik.

Hal ini, membuat Iran jauh lebih sulit dihadapi secara frontal dibanding Taliban yang konvensional, atau Saddam Hussein yang relatif terisolasi.

Realitas Geopolitik

Teluk Persia adalah arteri energi global. Hampir sepertiga minyak dunia melewati perairan tersebut (Selat Hormuz punya Iran). Serangan terbuka terhadap Iran akan mengguncang pasar energi global, memicu inflasi berantai, instabilitas global dan niscaya melibatkan negara-negara regional seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki — yang mungkin ikut memihak, wait and see, atau memanfaatkan situasi.

Dalam logika geopolitik, langkah AS harus mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dan politik global, bukan hanya superioritas militer nominal.

Gertak vs Realitas

Langkah mengerahkan seluruh Armada V ke Teluk Persia sejatinya hanya simbol kekuatan, bukan indikator kesiapan menyerang. Ini adalah cara AS menunjukkan dominasi serta menekan Iran secara diplomatik, tanpa benar-benar mengambil risiko perang secara penuh. Dengan kata lain, itu strategi psikologis, bukan operasional. Menguji batas kesabaran Iran. Mengirim sinyal ke sekutu regional. Menegaskan posisi global AS di mata dunia.

Namun, jika dihitung secara objektif, kemungkinan keberhasilan serangan konvensional terhadap Iran secara unilateral sangat rendah, sementara konsekuensi eskalasi regional dan global sangat tinggi.

Simpulan

Apa yang terlihat di Teluk Persia hari-hari ini, bukanlah kesiapan perang mutlak, melainkan ilusi dominasi Amerika di Persia. Sejarah dan fakta geopolitik mengingatkan bahwa kekuatan militer hanyalah satu sisi dari pertarungan global. Iran memiliki keunggulan strategis, teknologi rudal, jaringan proksi, dan leverage energi yang membuat mereka bukan sekadar “target” yang mudah.

Gertak AS adalah nyata. Tapi, mengintip dari kacamata geopolitik — ini lebih mirip teater kekuatan daripada perang yang nyata. Apalagi Inggris Raya sudah merapat ke Cina menjalin kerjasama plus hubungan AS dengan NATO yang kian retak.

Teluk Persia hari ini adalah panggung politik, bukan medan pertempuran konvensional. Dan bangsa-bangsa yang menonton, termasuk Indonesia atau negara lain yang bergantung pada stabilitas energi global, harus membaca pertunjukan ini dengan mata terbuka. Dan agaknya, AS sedang menyuguhkan ketegangan belaka, bukan upaya kemenangan. Bahkan, sekadar untuk mengendalikan Iran pun tampak jauh panggang dari api.

Kalau dalam bahasa sastra, apa yang kini tengah berlangsung di Teluk Persia kini adalah “perang kata-kata”. Tak lebih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKerja Sama Nuklir AS-Korea Selatan, Berpotensi Memicu Proliferasi Senjata Nuklir di Asia PasifikSelanjutnyaKe Mana Arah Indonesia di Tengah Pancaroba Geopolitik Global?

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents