Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Ke Mana Arah Indonesia di Tengah Pancaroba GeopolitikTengah Pancaroba Geopolitik Global?

Rusman

Rusman·30 Januari 2026·4 menit baca

Bagikan
Ke Mana Arah Indonesia di Tengah Pancaroba Geopolitik Global?

Ngobrol Filsafat-Geopolitik Bersama Ichsanuddin Noorsy di Tebb-Six Coffee, Jak-Sel

Menulis filsafat-geopolitik Indonesia, menuntut ketelanjangan yang lebih radikal. Sebab Indonesia bukan sekadar negara, ia adalah ruang pertemuan kepentingan global. Artinya, terlalu cepat berpihak —entah ke Timur, Barat, Selatan, atau jargon nonblok— kerap kali justru menutup kenyataan paling faktual: Indonesia itu hidup di atas panggung geopolitik global, bukan di pinggiran, apalagi di gorong-gorong

Secara geopolitik, Indonesia adalah takdir geografis. Ia tidak memilih menjadi negara kepulauan terbesar, tak memilih berada di antara dua samudra dan dua benua, tak pula memilih menjadi jalur lintas energi, perdagangan, dan militer global. Semua itu adalah given. “Takdir geopolitik”. Dan dalam filsafat, apa yang menjadi given tidak bisa dinegosiasikan — hanya bisa disadari, diurus, dan dikelola dengan baik, benar, berani, dan bertanggung jawab. Tentu saja dilarang bodoh, bebal, budeg, boros, dan bertikai secara internal.

Letak geografis contohnya, menjadikan Indonesia bukan hanya aktor, tetapi juga arena. Jika salah kelola, hanya sekadar jadi papan catur (proxy war). Pihak lain menikmati, Indonesia merugi. Eksternal mengeksploitasi, internal tercemeti. Inilah sumber paradoks utama geopolitik Indonesia. Berdaulat secara konstitusional, tapi rentan secara sistemik struktural. Keterbukaan geografisnya mengundang eksternal menginvasi dan mengintervensi. Itu juga karena elit internal suka berperilaku munafik dan miskin martabat diri.

Lalu, bagaimana membaca posisi geopolitik – geostrategi – geoekonomi Indonesia?

Pertama, Geopolitik Indonesia: Ruang Tanpa Opsi Menghindar

Geopolitik Indonesia ditentukan oleh tiga fakta besar, yaitu: (1) Choke points strategis meliputi Selat Malaka, Sunda, Lombok, Makassar dan Sealane of Communicatios atau SLoC; (2) Kekayaan sumber daya alam terdiri atas energi, mineral, biodiversitas; pangan; (3) Posisi silang peradaban dan kekuatan global. Artinya, Indonesia tidak punya pilihan untuk bersikap naif. Setiap dinamika global seperti ketegangan AS vs Tiongkok, misalnya, atau konflik Laut Cina Selatan, krisis energi, perubahan iklim — selalu punya implikasi langsung ke ruang hidup Indonesia.

Dalam perspektif filsafat politik, Indonesia berada pada kondisi tragic choice, apa itu?
Tidak berpihak tetap terdampak, berpihak pun berisiko. Posisi ini membutuhkan pemimpin berwawasan, cerdas, tangguh, teguh, teduh, bebas dari kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok sendiri kecuali kepentingan bangsa. Sang pemimpin pun mutlak menyadari, kekuasaannya adalah amanah dan bersumber dari kekuasaan ilahiah.

Maka geopolitik Indonesia seharusnya tidak dibaca sebagai “politik luar negeri”, melainkan sebagai kesadaran eksistensial nasional. Kesadaran tentang martabat orang Indonesia.

Kedua, Geostrategi Indonesia: Di Antara Moral dan Kepentingan

Secara normatif, Indonesia menganut prinsip bebas aktif. Namun secara praktis, kebebasan itu selalu diuji oleh kebutuhan (geo) ekonomi. Inilah jarak antara gagas dan realita, antara nilai dan fakta yang sering dihindari dalam wacana publik. Geostrategi Indonesia kerap tampil dalam bentuk diplomasi normatif (perdamaian, ASEAN, solidaritas Selatan); kebijakan moderat (tak frontal, tidak ekstrem).

Persoalannya bukan di niat, melainkan pada kedalaman strategi dan kejernihan motivasi. Tanpa fondasi geoekonomi yang kuat, geostrategi mudah berubah menjadi sekadar retorika moral. Dalam bahasa filsafat — etik tanpa daya adalah doa; daya tanpa etik adalah tirani.

Indonesia harus menjawab pertanyaan mendasar, “Apakah kebijakan luar negeri kita benar-benar diturunkan dari bacaan geopolitik, atau hanya reaksi terhadap tekanan sesaat?”

Ketiga, Geoekonomi Indonesia: Kaya Tapi Rentan

Secara geoekonomi, Indonesia adalah paradoks klasik. Kaya sumber daya, miskin kontrol. Water, food, and energy tersedia melimpah, tetapi penguasaannya terfragmentasi oleh pasar global, modal asing, dan ketergantungan teknologi.

Nikel, misalnya, menjadi simbol baru geoekonomi Indonesia. Namun tanpa penguasaan pasar, tanpa kendali rantai nilai — nikel hanya berpindah dari tanah Indonesia ke kemakmuran negara lain. Hal ini bukan tentang nasionalisme sempit, melainkan tentang posisi struktural dalam sistem global. Dalam filsafat keadilan, ini disebut ketimpangan relasional. Bukan karena malas, sebab struktur dunia memang tidak netral. Indonesia memang negara rentan kedaulatan.

Ketika pangan masih rentan impor, energi bergantung pasar global, dan air bersih terancam krisis ekologis, maka keamanan nasional Indonesia sesungguhnya belum menyentuh lapisan terdalam.

Keempat, Pancasila sebagai Filsafat Geopolitik (Yang Terlupakan)

Pancasila sering diposisikan sebagai ideologi moral, padahal ia juga dapat dibaca sebagai filsafat Geopolitik Nusantara. Dan lebih jauh lagi — sebagai Philosophische Grondslag.

Sila Ketuhanan misalnya, itu sumber etika kekuasaan; atau Sila Kemanusiaan menjadi batas penggunaan kekuatan; Sila Persatuan adalah syarat geopolitik negeri kepulauan; lalu Sila Kerakyatan dan Musyawarah ialah legitimasi kebijakan strategis berbasis nilai-nilai lokal; dan Sila Keadilan sosial adalah tujuan akhir geoekonomi.

Tanpa pembacaan ini, Pancasila terjebak menjadi slogan domestik, padahal ia mampu menjadi worldview dalam menghadapi dunia yang semakin brutal dan binal secara geopolitik.

Kelima, Kontemplasi Akhir: Indonesia dan Jalan Sunyi

Indonesia tidak ditakdirkan menjadi imperium. Tetapi juga tidak ditakdirkan menjadi satelit. Jalan Indonesia adalah jalan sunyi yaitu menjaga keseimbangan di tengah dunia yang tak seimbang. Dalam filsafat Jawa, ini disebut Mercusuar Dunia, jalan penerang untuk peradaban yang adil dan beradab. Dalam ujaran leluhur disebut “eling lan waspada.” Dan pada geopolitik modern, ini berarti strategic consciousness.

Menulis filsafat geopolitik Indonesia bukan untuk memuaskan hasrat benar, melainkan untuk melatih kewaspadaan kolektif. Agar bangsa ini tidak hanya sibuk reaktif, tetapi mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum terlambat.

Karena pada akhirnya, bangsa yang gagal memahami geopolitiknya, akan menjalani sejarahnya bukan sebagai subjek — melainkan sekadar objek.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaIlusi Dominasi Amerika di Teluk Persia: Perang Kata-KataSelanjutnyaASEAN Harus Menjadi Kekuatan Nonblok Yang Bebas Dari Pengaruh AS dan Tiongkok

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents