Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

IndiaIndia Mulai Menyadari Bahayanya Bersekutu Dengan AS

Hendrajit

Hendrajit·21 Februari 2025·4 menit baca

Bagikan
India Mulai Menyadari Bahayanya Bersekutu Dengan AS

Sejak mantan Presiden AS Barrack Obama meluncurkan Strategi “Pivot to Asia,” dalam persepsi politik dan keamanan Cina, AS berupaya dengan segala cara untuk membendung pengaruh Cina di kawasan Asia. Salah satu yang mengganggu pihak Cina, upaya AS untuk membujuk India untuk bersekutu dengan India. Apalagi ketika AS berhasil mengajak India bersama-sama menandatangani Kemitraan Strategis, sehingga AS berhasil merangkul India bukan saja sebagai mitra, melainkan juga sebagai sekutunya di Asia Selatan.

Lantas, apakah Cina dengan itu lalu tinggal diam saja? Di sinilah kecerdikan India memainkan peran politik luar negeri non-blok alias bebas-aktif. Begitu Cina meradang oleh sebab kerja sama AS-India, maka Presiden Narendra Modi mengutus menteri luar negerinya,  Subrahmanyam Jaishankar, berkunjung ke Beijing, untuk meredakan kemarahan Presiden Xi Jinping.

Alhasil, India bukan saja berhasil meredakan kegusaran Xi Jinping. Bahkan berhasil mengadakan pertemuan tingkat tinggi kedua negara secara informal, di Wuhan, pada 27-28 April 2018. Namun India kemudian menjalin kerja sama dengan AS dengan menandatangani memorandum of agreement di bidang keamanan informasi dan komunikasi atau  the Communications and Information Security Memorandum of Agreement (CISMOA). Tepatnya pada 6 September 2018.

Baca:

Why Modi’s shifting India away from US toward China

Pada Oktober 2019 sebenarnya pernah juga diadakan pertemuan informal yang kedua antara Modi dan Jinping, di  Mahabalipuram, Tamil Nadu. Sayangnya pertemuan tingkat tinggi tersebut gagal mencapai kesepakatan. Sebabnya, lantaran Modi sepertinya lebih condong bersekutu dengan AS. Bahkan pada 2020, India-AS menandatangani kesepkatan  the Basic Exchange and Cooperation Agreement for Geospatial Intelligence (BECA). Sehingga kerja sama AS-India semakin solid.

Bahkan semakin solid dengan penandatangan MOU, the General Security of Military Information Agreement (GSOMIA). Dengan mengabaikan keberatan Cina. Namun anehnya, adanya serangkaian penandatanganan kesepakatan AS-India tersebut, ternyata tidak menjadi kenyataan. Investasi AS di India tetap saja sangat minim. Malah perdagangan India dan Cina semakin meningkat secara signifikan.

Sekarang India nampaknya mulai menyadari bahwa AS dalam kebijakan luar negerinya kepada India, masih dalam kerangka neokolonialisme. Dalam menjalin hubungannya dengan India, AS memandang India bukan sebagai mitra setara. Melainkan memandang India sekadar sebagai sekutu bawahan/ subordinate ally. Hal ini mulai nampak jelas ketika AS melancarkan Operasi militer a Freedom of Navigation Operation (FONOPS) di Samudra Hindia pada 7 April 2021. Selain AS dituding telah memicu sentimen anti-India terhadap negara-negara tetangganya. Pada saat yang sama AS melancarkan operasi terselubung aksi penggulingan kekuasaan terhadap pemerintahan pro India di Sri Lanka, Nepal dan Maldives.

Tentu saja lambat-laun India mulai menyadari bahwa tujuan utama AS lewat skema persekutuannya dengan India, adalah untuk melumpuhkan otonomi strategis India sebagai kekuatan besar di Asia Selatan. Apalagi ketika Presiden Modi mengklaim kawasan Asia Selatan sebagai sphere  of influence atau ruang pengaruh India, AS merasa tidak senang. Dengan kata lain, AS akan terus melancarkan tekanan politik kepada India di pelbagai forum internasional.

Sebaliknya, dengan Cina, India merasa kerja samanya di bidang ekonomi, malah semakin meningkat dan bermanfaat bagi Pembangunan Ekonomi India. Bahkan oleh sebab semakin meningkatnya kerja sama India-Cina dalam bidang ekonomi, ketegangan politik di wilayah perbatasan India-Cina pun semakin mereda. Oleh sebab Cina menahan diri untuk ikut campur dalam konflik perbatasan. Padahal, konflik perbatasan India-Cina di perbatasan yang dipisahkan oleh pegunungan Himalaya, sempat berlangsung sengit. Ketergantungan perdagangan Cina kepada India dan prospek investasi Cina di India, pada perkembangannya menciptakan titik balik dalam hubungan bilateral India-Cina. Yang semula renggang dan berpotensi saling bermusuhan, sekarang semakin erat dan solid.

Tidak mengherankan jika AS dan Kanada, belakangan semakin gencar menekan India agar tidak menjalin hubungan yang semakin solid dengan Cina. Ketegangan Kanada-India semakin parah ketika Kanada mengusir diplomat India dari Kanada menyusul terbunuhnya pemimpin separatis Sikh Hardeep Singh Nijjar. Kondisi semakin memanas ketika kementerian hukum AS mengadakan penyelidikan aparat pemerintah India terkait percobaan pembunuhan terhadap sosok separatis Sikh Gurpatwant Singh Pannun.

Singkat cerita, Presiden Modi sekarang menyadari bahwa persekutuannya yang terjalin dengan Cina, semakin penting saat ini untuk Pembangunan Ekonomi India. Sebaliknya, persekutuan yang terjalin dengan AS semakin terlihat tidak efektif untuk digunakan membendung Cina.

Presiden Modi juga menyadari bahwa AS tidak pernah secara serius membukakan akses pasar, investasi maupun teknologi yang menguntungkan buat India.Apalagi di era kepresidenan Donald Trump yang menganut kebijakan proteksionis di bidang industri maupun kebijakan perdagangan internasional. Yang mana kebijakan Presiden Trump membawa konsekwensi perusahaan-perusahaan manufacturing kembali beroperasi di dalam negeri AS alih-alih beroperasi di luar negeri.

Namun menariknya, kebijakan proteksionis AS di era Trump tersebut justru malah membuka kerja sama yang semakin era tantara India dan Cina. Dengan terbukanya peluang pasar, teknologi dan investasi dari Cina.

Pemerintahan Modi sepertinya mulai menyadari betapa berbahayanya India bersekutu dengan AS. Sehingga keputusan untuk bersekutu dengan Cina, semakin selaras dengan kepentingan nasional India. Adapun bersekutu dengan AS, semakin mengalihkan perhatian India dari prioritas kepentingan nasionalnya di bidang Pembangunan Ekonomi.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaRencana Donald Trump Merelokasi Warga Palestina di Gaza, Menyingkap Konspirasi Global AS-Israel di Timur-Tengah Sejak 1948SelanjutnyaPenambahan Jumlah Anggota Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Masih Kontroversial Hingga Kini

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents