Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Afrika

Penambahan Jumlah Anggota Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-BangsaPerserikatan Bangsa-Bangsa Masih Kontroversial Hingga Kini

Hendrajit

Hendrajit·21 Februari 2025·4 menit baca

Bagikan
Penambahan Jumlah Anggota Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Masih Kontroversial Hingga Kini

Dewan Keamanan (Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB) atau United Nations Security Council merupakan organ internasional yang punya tanggungjawab utama untuk memelihara perdamaian dan ketertitan dunia. Pada awal pembentukannya, Dewan Keamanan PBB beranggotan 5 negara anggota tetap, dan 6 negara anggota tidak tetap.

Pada 1963, Piagam PBB telah diamandamen sehingga memungkinkan bertambahnya negara-negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, sehingga bisa bertambah dari 6 negara menjadi 10 negara anggota tidak tetap. Inilah untuk kali pertama Dewan Keamanan PBB mereformasi keanggotaan Dewan Keamanan PBB.

Saat ini, Dewan Keamanan PBB mempunyai 5 negara anggota tetap (Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Rusia, dan Cina. Dan 10 negara anggota tidak tetap. Adapun 10 negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dipilih oleh Majelis Umum PBB. 10 negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB tersebut dipilih dua tahun sekali.

Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 19 September 2024.

SUMBER: AFP/MICHAEL M. SANTIAGOAda masalah krusial yang saat ini dalam Dewan Keamanan PBB. Yaitu perlunya reformasi di dalam tubuh PBB. Apakah struktur dan keanggotaan tetap Dewan Keamanan PBB saat ini masih layak untuk dipertahankan? Di tengah-tengah semakin gencarnya pertanyaan tersebut, India, bersama Brazil, Jerman, dan Jepang, telah membentuk Kelompok G4. Adapun yang mendasari terbentuknya G4 itu adalah, bahwa perekonomian negara-negara anggota kelompok tersebut saat ini setara dengan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, sehingga keempat negara tersebut juga merasa berhak mendapatkan status anggota tetap di Dewan Keamanan PBB.

Baca: Menlu India yakini negaranya segera jadi anggota tetap DK PBB

Keempat negara tersebut mengusulkan dalam forum Majelis Umum PBB agar keanggotaan Dewan Keamanan PBB ditambah dari 15 negara saat ini, menjadi 25 negara. Yaitu  menjadi 6 negara anggota tetap (berarti ada penambah 1 negara anggota tetap selain 5 negara yang sudah ada), dan 19 negara anggota tidak tetap. Yang mana anggota tetap memasukkan India, Jerman, Jepang, dan Brazil, dan dua negara dari kawasan Afrika. Serta penambahan 4 negara terpilih sebagai anggota tidak tetap.

Namun, usulan tersebut masih sangat sulit diwujudkan saat ini, mengingat konstelasi politik di dalam tubuh PBB masih menerapkan hak veto terhadap 5 negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Selain daripada itu, Jerman dan Jepang yang sejak dulu secara gigih berupaya menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, nampaknya menghadapi penolakan mengingat sejarah masa lalunya sebagai negara yang menganut fasisme dan militerisme semasa Perang Dunia II.

Meski kedua negara tersebut saat ini merupakan sekutu strategis AS dan blok Barat, namun resistensi terhadap Jerman dan Jepang masih cukup kuat. Mengingat potensinya untuk bangkit kembali sebagai kekuatan fasisme maupun kekuatan militer.

Adapun Brazil dan India, yang saat ini merupakan motor penggerak blok ekonomi-perdagangan alternatif, yaitu BRICS (Brazil, India, Rusia, Cina dan Afrika Selatan), nampaknya secara obyektif sudah cukup pantas memperoleh status anggota tetap Dewan Keamanan PBB mengingat reputasinya sebagai negara berkembang sudah cukup bagus. India, selain Cina, saat ini merupakan negara di kawasan Asia yang sedang bangkit menjadi kekuatan besar di bidang ekonomi dan teknologi.

Untuk itu, beberapa langkah kompromi coba untuk diupayakan. Salah satunya dari yang disebut The Group of Uniting for Consensus.  Yang diprakarsai oleh Italia, Argentina, Pakistan, dan Meksiko. Keempat negara tersebut mendukung penambahan keanggotaan Dewan Keamanan PBB menjadi 25 negara. Yang mana negara-negara anggota tidak tetap jumlahnya ditambah. Selain itu, mengusulkan adanya kategori baru keanggotaan. Yaitu semi anggota anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selain itu ada African Union (Ezulwini Consensus), mendukung penambahan keanggotaan Dewan Keamanan PBB menjadi 26 negara. Yang mana Afrika menuntut adanya 2 negara yang duduk sebagai anggota tetap, yang mana juga mendapatkan hak veto. Juga menuntut adanya dua negara dari Afrika duduk sebagai anggota tidak tetap.

Terakhir adalah ACT yang mewakili negara-negara lintas-kawasan yang terdiri dari 21 negara, yang secara gigih mempromosikan betapa pentingnya mengkaji ulang mekanisme kerja dari Dewan Keamanan PBB. Sehingga setiap anggota Dewan Keamanan PBB mempunyai tanggungjawab yang sama dihadapan forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sekaligus terciptanya sistem yang transparan (terbuka).

Kontroversi yang saat ini masih tetap berlangsung, nampaknya berpusat pada berapa jumlah total negara yang perlu ditambah dalam kerangka Reformasi PBB. Dan juga negara-negara mana yang layak masuk kategori negara-negara anggota tetap DK PBB dan mana yang masuk kategori negara-negara tidak tetap.

Dengan demikian, perdebatan di forum PBB nampaknya berpusat pada 5 komponen: kategori negara-negara yang layak masuk kategori anggota tetap DK PBB, mengenai hak veto, pada tingkatan/level mana perlunya perluasan keanggotaan DK-PBB, mekanisme kerja di dalam tubuh Dewan Keamanan PBB, dan yang juga tak kalah penting, hubungan yang dipandang ideal antara DK-PBB dengan Majelis Umum PBB.

Indonesia, sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, pemrakarsa Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955, yang berhasil mengantarkan beberapa negara Afrika memperoleh kemerdekaan nasionalnya, pelopor Gerakan Non-blok Beograd 1961 yang notabene merupakan negara-negara berkembang (yang saat ini populer dengan sebutan Global South), kiranya juga sudah cukup pantas untuk mengajukan diri sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Tapi, mengapa sepertinya para diplomat kementerian luar negeri RI terkesan pasif dan tidak pro aktif seperti halnya India dan Brazil?

Keikutsertaan Indonesia dalam forum BRICS, kiranya akan semakin memperkuat posisi tawar dan reputasi Indonesia di forum dunia internasional. Termasuk di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaIndia Mulai Menyadari Bahayanya Bersekutu Dengan ASSelanjutnyaWaspadai Agenda AS dan Uni Eropa Promosikan LGBT di Indonesia Dengan Dalih Hak-Hak Asasi Manusia

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
Internasional

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents