Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Indonesia Dalam Keadaan Bahaya Akibat Demokrasi Ala Taman Kanak-KanakTaman Kanak-Kanak!

Rusman

Rusman·21 Juni 2024·4 menit baca

Bagikan
Indonesia Dalam Keadaan Bahaya Akibat Demokrasi Ala Taman Kanak-Kanak!

Kecenderungan nalar pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) alias Playgroup, lebih mengkedepankan kuantitas daripada kualitas. Pun demikian logika Taman Kanak-Kanak alias ‘Anak TK’. Keduanya, entah anak PAUD ataupun anak TK — jika disuruh memilih dua hal antara selembar uang seratus ribu rupiah (Rp 100 ribu) dengan sepuluh lembar uang ribuan alias sepuluh ribu (Rp 10 ribu), maka ia cenderung memilih lembaran yang banyak (kuantitas) yang hanya senilai Rp 10 ribu daripada selembar (kualitas) Rp 100 ribu. “Demikian itu logika anak TK”. Berbeda dengan logika orang dewasa. Atas dua pilihan tadi, orang dewasa pasti memilih kualitas ketimbang kuantitas. Sedikit jumlah, tapi nominalnya lebih banyak. Inilah prolog, analogi, sekaligus asumsi dalam tulisan ini.

Katakanlah, sejak UUD 1945 karya agung the Founding Fathers diamandemen empat kali kurun 1999-2002 —UUD Produk Amandemen kerap disebut UUD2002 oleh pegiat konstitusi— maka sejak itulah mekanisme dalam demokrasi di republik ini, khususnya model pemilihan presiden (Pilpres) memakai logika anak TK atau Taman Kanak-Kanak, apa ujudnya? Yaitu banyak-banyakan suara!

Dengan kata lain, dinamika Pilpres condong memakai parameter kuantitas alias banyak-banyakan suara ketimbang menggunakan variabel kualitas seperti integritas, misalnya, atau kompetensi, intelektual, moral, latarbelakang dll, atau istilah Jawanya bobot, bibit dan bebet.

Pada Sidang Paripurna DPD RI, 14 Juli 2023 lalu, terdapat pointers bahwa UUD Baru yaitu UUD2002, selain telah mengubah wajah konstitusi menjadi individualis, liberal lagi kapitalistik, juga praktik operasional berbangsa dan bernegara sudah meninggalkan Pancasila sebagai Norma Hukum Tertinggi di republik ini. Nah, catatan ini membahas narasi yang terakhir: pengabaian Pancasila!

Contohnya bagaimana?

Terkait demokrasi, contohnya, bahwa model Pilpres Langsung (one man one vote) telah mengubur Sila ke-4 Pancasila yang berbunyi: “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan/Perwakilan”. Ya. Konsekuensi dan implementasi dari Sila ke-4 ini seharusnya Pilpres melalui MPR selaku penjelmaan rakyat, sebagai Lembaga Tertinggi Negara (pola kualitas). Namun, sejak UUD diamandemen dan pada 2004-an silam, kali pertama Pilpres digelar secara langsung maka mekanisme Pilpres tidak lagi melalui forum musyawarah mufakat via MPR, tetapi Pilpres digelar secara langsung atas nama one man one vote. Satu orang satu suara, alias suara seorang profesor sama dengan suara mahasiswa, atau suara tokoh masyarakat disamakan dengan suara (maaf) tukang becak, dan lain-lain.

Apa hendak dikata. Diturunkannya satus MPR dari Lembaga Tertinggi Negara menjadi Lembaga Tinggi Negara, sekali lagi, mengubah tata cara Pilpres dari pola kualitas —musyawarah mufakat— menjadi pola kuantitas yakni one man one vote alias banyak-banyakan suara. Siapa menang 50% + 1, dialah pemenangnya.

Lantas, bagaimana dampak atas praktik sila-sila lainnya terutama sila yang menggapit Sila ke-4 Pancasila yaitu Sila ke-3 dan Sila ke-5?

Dampak pada Sila ke-3: “Persatuan Indonesia”. Implikasi pada Sila ke-3 misalnya, hampir jarang ditemui keguyuban berbasis kesatuan dan persatuan bangsa. Setiap kali digelar hajatan pemilu, terutama saat Pilkada dan Pilpres, seketika rakyat langsung terbelah. Pro ini, pro itu. Dan dirasakan kini merambah pula ke kelompok paguyuban karena beda pilihan. Ada kegaduhan relatif lestari, karena usai Pilpres pun, kelompok dan golongan yang bergaduh dalam politik praktis cenderung dilembagakan. Ada kampret, cebong, atau buzzer ini, pendukung itu dan lain-lain.

Apalagi pada pola kuantitas alias banyak-banyakan suara lebih menonjolkan pencitraan dalam ‘menjual citra’ si kandidat melalui pemasangan banner, selebaran, dan/atau alat peraga kampanye lainnya terutama dominannya money politics. Bahwa sejahat-jahatnya kejahatan ialah money politic, karena secara riil mampu mengubah kemenangan menjadi kekalahan, ataupun sebaliknya. Mengalahkan kebenaran dengan tata cara biadab.

Alangkah mahalnya pola kuantitas dibanding dengan pola kualitas melalui MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara. Singkat kata, bahwa pola kuantitas —cara demokrasi anak TK— cenderung transaksional lagi mahal diongkos, penuh kegaduhan, serta membelah bangsa. Inilah yang kini berlangsung secara sistematis dan masif di republik tercinta ini, namun banyak para elit dan sebagian anak bangsa ini abai bahkan menganggapnya biasa-biasa saja.

Terkait dampak pada Sila ke-5: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, ada dua pertanyaan filosofi muncul di permukaan:

1. Bagaimana akan lahir pimpinan yang akan bersikap adil dan bijaksana, sedang biaya untuk menjadi pemimpin nasional sangat mahal;

2. Bagaimana akan terbidani sosok negarawan jika sistem yang digunakan sangat transaksional?

Dari dua pertanyaan mendasar di atas, penulis berani mengajukan asumsi bahwa model Pilpres secara langsung hanya akan membidani sosok politisi, bukan negarawan.

Apa perbedaan keduanya?

Sangat beda sekali. Singkat narasi misalnya, bila politisi hanya berpikir next election, bagaimana berkuasa dan mempertahankan kekuasaan dan seterusnya, sedangkan negarawan berpikir next generation, bagaimana mencerdaskan bangsa dan mensejahterakan rakyat dan lain-lain. Ya. Antara politisi dan negarawan sangat berbeda baik orientasi maupun tujuan.

Sesuai judul tulisan ini, sesungguhya Indonesia tengah dalam keadaan bahaya (vivere pericoloso) apabila terus melanjutkan Pilpres ala anak TK, sedangkan konstitusi sebelumnya (UUD 1945 Naskah Asli) karya agung the Founding Fathers telah menyiapkan model pemilihan pimpinan nasional yang cerdas, bermoral dan beradab!

Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara repumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMembaca Stigma Skor 78 Bagi Rata-Rata IQ Bangsa IndonesiaSelanjutnyaThe Golden Rule dalam SDA Kita

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents