Isu Coronavirus: Dari Rekayasa Agen Biologi Menuju Pengendalian Ruang Hidup (Bagian I)

Bagikan artikel ini

Hasil penelitian dari ilmuwan India yang dipublikasikan mengungkap bahwa coronavirus Wuhan adalah rekayasa biologi dimana virus flu disisipi virus mirip HIV atau Ebola.

Penemuan ilmuwan India yang tadinya disepelekan oleh komunitas ilmiah, beberapa waktu terakhir ini malah dibenarkan juga oleh Universitas Nankai, Tianjin Cina sendiri dengan penelitian mengungkap hal yang sama.

Hasil dua penelitian terpisah satu sama lain ini menurutku mengembalikan pemikiran pada kemungkinan kebenaran adanya konspirasi yang dilakukan PKC Cina kepada rakyatnya dan negara dunia.

Teori bahwa rekayasa biologi virus ini pertama kali diungkap oleh laporan Dany Shoham, peneliti yang juga mantan intelejen Israel tentang corona virus sebagai senjata biologi Cina.

Laporan ini telah ditentang mati matian oleh Otoritas Cina dengan mengerahkan kekuatan media bayaran dan semua buzzer pendukungnya. Padahal laporan ini menunjuk jelas dan detail fasilitas dan sistem Cina yang terkait dengan perang biologi termasuk kemungkinan untuk memproduksi agen biologi untuk kepentingan agresi kepada negara dunia oleh Cina.

Disamping laporan Shoham, ada studi lain yang dilakukan oleh Monica Chansoria dari Japan Institute of International Affairs, penulis buku dan seorang peneliti senior di bidang modernisasi dan strategi militer termasuk senjata nuklir.

Chansoria meneliti kebangkitan Cina di Asia dan implikasi geo-strategis dari ini, termasuk di dalamnya program biologi yang tengah dibangun Cina. Chansoria secara tidak langsung juga menunjukan hal yang sama bahwa Coronavirus adalah agen biologi aktif yang disiapkan Cina.

Dua studi ini sebenarnya ingin mengungkap sesuatu yang masih belum banyak disadari publik saat ini, yaitu ambisi dan langkah besar Cina meniru Jerman di masa lalu, khususnya mengunggulkan ras Cina yang dimaksudkan untuk mendominasi dunia dan dicoba diwujudkan melalui program biologinya.

Program biologi yang dikembangkan Cina ini merupakan fusi sipil militer baik dalam bentuk pasif – kesiapan pertahanan maupun aktif berupa agresi – perang biologi bagi yang menentang Cina dimana perlu.

Bila Jerman di masa lalu berusaha menguasai dunia dengan ungkapan Deutchland ist ubber aless, melalui cara perang langsung dengan senjata konvensional dan juga genocide, maka Cina memulainya dengan cara tanpa senjata konvensional, yaitu agen biologi.

Apakah ini sekedar tuduhan anti Cina belaka? Menurutku tidak! Mengapa?

Hal ini sebenarnya bisa ditelusuri dari rencana resmi pemerintah Cina, program resmi, fasilitas yang ada dan memungkinkan untuk itu juga perkataan maupun tulisan pejabat berpengaruh di Cina yang bila dibingkai akan menjadi gambaran besar tentang maksud dan tujuan Cina sebenarnya untuk kuasai dunia.

Betul, pada awalnya program biologi Cina adalah bagian dari mekanisme pertahanan, namun tidak lagi terutama sejak satu dekade terakhir. Bukti yang paling jelas terakhir adalah pada pada isu Coronavirus,

Merujuk laporan investigasi media independen Caixin, berbasis di Beijing, mengungkap detail bagaimana pejabat kesehatan regional kota Wuhan sebagai pusat pandemik memerintahkan penghentian pengujian dan menghancurkan sampel laboratorium yang tidak dapat dijelaskan. Sample ini yang kemudian dikenal dengan COVID-19.

Cina pun tidak mengakui adanya kemungkinan perpindahan virus dari manusia ke manusia lain sampai kira-kira tiga minggu kemudian, ketika makin banyak jatuh korban.

Wisthleblowernya pun Dr. Li Wenliang dihukum sebelum kemudian “tertular” coronavirus dan meninggal lima minggu kemudian. Alangkah anehnya perintah pejabat otorita kesehatan ini.

Secara normal, bila ada penyakit baru yang muncul maka respon awal dunia kesehatan adalah mengambil sampel, melacak, meneliti melakukan pengujian dan kemudian memberikan rekomendasi peringatan kepada otoritas setempat. Otoritas setempat kemudian mengeluarkan perintah yang diperlukan secara cepat untuk memperkirakan potensi dan meminimalisir sekuat mungkin agar tidak menjadi wabah yang meluas. Namun respon otoritas malah terbalik. Respon yang tidak biasa ini menimbulkan pertanyaan besar. Atas alasan apa perintah penghentian pengujian dan penghancuran sampel awal itu?

Apakah penghancuran sampel ini sekedar menjaga nama baik PKC dan menentramkan masyarakat?

Bila diharapkan untuk tidak menakutkan masyarakat, bukankah kedua tindakan ini adalah tindakan laboratorium dan belum diumumkan secara luas, sehingga tak satupun masyarakat yang tahu dan berdampak menimbulkan kepanikan?

Perintah ini menimbulkan dugaan keras bahwa otoritas kesehatan Cina sebenarnya sudah tahu wabah ini akan terjadi pada akhirnya dan bisa jadi merupakan tindakan diam-diam penyebaran virus yang disengaja.

Lebih jauh apakah ini bukan malah suatu bagian awal operasi intelijen berbasis biologi yang lebih besar dan berdampak luas, mengingat beberapa kondisi yang harus diatasi untuk melancarkan tujuan Cina yang lebih besar? Dan bukan sekedar bisnis vaksin tentunya.

Melihat kebiasaan pejabat Cina yang percaya teori penipuan dan kamuflase ala Sun Tzu, ditambah pendapat bahwa dunia terlalu lugu untuk ditipu, maka bisa dibuat sebuah pendapat awal bahwa Cina sengaja menggunakan strategi perang tidak biasa alias mau keluar dari pakem perang pada umumnya. Yaitu dengan menciptakan dan sekaligus berusaha mengendalikan wilayah perangnya sendiri yang memungkinkan dimenangkannya dengan memperhitungkan kekuatan dan kelemahan Cina secara global.

Pada ruang yang terbatas ini sedikit banyak akan diungkap hal-hal yang mendukung argumentasi di atas dengan tulisan selanjutnya yang dibagi menjadi beberapa bagian:

Bagian pertama merujuk perubahan dasar pemikiran strategis militer di bidang bioteknologi selama dua dekade terakhir di Cina.

Bagian kedua merujuk pada kepatuhan Cina pada konvensi senjata biologis dan fakta maupun potensi pengembangan laboratorium biologisnya.

Bagian ketiga merujuk pada perkembangan Bioteknologi, Pengumpulan DNA, Pengeditan Gen dan Artificial Intelegence untuk mencipta dan kembangkan ras unggul Cina sipil dan militer.

Bagian keempat merujuk pada upaya Cina melakukan pengendalian ruang hidup (lebensraum) masyarakat dunia.

Adi Ketu, Pengiat Sosial Media dan Peminat Isu Internasional 

Bersambung ..

Sumber:

Mengapa Coronavirus Wuhan bisa menulari manusia? hasil penelitian ilmiah ini menjawab tuntas..
https://web.facebook.com/adi.ketu.3/posts/10213868167572898

Indian Scientists Discover Coronavirus Engineered With HIV (AIDS) Like Insertions

Uncanny similarity of unique inserts in the 2019-nCoV spike protein to HIV-1 gp120 and Gag

Coronavirus far more likely than Sars to bond to human cells due to HIV-like mutation, scientists say

Penelitian Koronavirus Terbaru Mengungkap Bahwa Virus Telah Mutasi Gen Mirip Dengan HIV dan 1.000 Kali Lebih Ampuh

Lihat juga hasil penelitiannya Situs Pembelahan Covid-19 Furin
Http://www.chinaxiv.org/abs/202002.00082
http://www.chinaxiv.org/abs/202002.00062

Bagaimana tanda-tanda awal coronavirus ditemukan, menyebar, dan mencekik di Cina
https://www.caixinglobal.com/…/in-depth-how-early-signs-of-…

Laporan Dany Shoham
Program Perang Biologis Tiongkok: Studi Integratif dengan Referensi Khusus untuk Kemampuan Senjata Biologis
https://idsa.in/j…/9_2_2015_ChinasBiologicalWarfareProgramme

Senjata Biologis Fokus Penelitian Militer Tiongkok dalam 20 Tahun Terakhir
https://japan-forward.com/biological-weapons-the-focus-of-…/

Apa Tujuan Cina “Menyebarkan” Virus Corona Wuhan dari sudut Geopolitik dan Geoekonomi?
https://theglobal-review.com/apa-tujuan-cina-menyebarkan-vi…/

Analisa Strategi Playing Victim Cina pada Virus Corona Wuhan Mulai Terbukti
https://theglobal-review.com/analisa-strategi-playing-victi…/

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com