Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Kegagalan Swasembada Pangan Berpotensi Mengganggu Stabilitas Politik IranPolitik Iran

Hendrajit

Hendrajit·7 Januari 2026·4 menit baca

Bagikan
Kegagalan Swasembada Pangan Berpotensi Mengganggu Stabilitas Politik Iran

Oleh: Ade Maulana Yusuf, Direktur Riset dan Advokasi Ekologi Sosial Institute Indonesia (ESII) 

Iran saat ini dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Bukan lantaran timbul gejolak politik atau pergantian kekuasaan. Namun masalah rawan berlangsung di ranah pertanian.

Gagalnya Swasembada Pangan di Iran. Sekadar info, nilai tukar Rial yang anjlok ke angka 1,4 juta per dolar AS sebagai buntut dari krisis sumber daya air di wilayahnya. Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup krusial bagi Teheran di bawah pimpinan Masoud Pezeshkian.

Narasi kedigdayaan yang selama puluhan tahun digaungkan oleh Negeri Para Mullah terhadap sanksi Barat jika melihat situasi dalam negeri saat ini rentan menjadi untuk jadi obyek studi yang tidak menyenangkan dari negara yang selama ini termasuk yang tidak sehaluan dengan haluan politik Iran,  apalagi  yang secara secara benderang memandang Iran sebagai negara musuh seperti AS dan beberapa negara Eropa Barat.

Banyak pekerjaan rumah seperti kebijakan swasembada pangan yang dilakukan secara prematur di wilayah semiarid telah menguras cadangan air strategis negara.  Kebijakan tersebut mengakibatkan terciptanya guncangan ekonomi, yang pada perkembangannya bisa berpotensi mengguncang stabilitas politik Teheran, dan Iran pada umumnya.

Obsesi Swasembada dan Eksploitasi Akuifer

Akar dari guncangan ekonomi Iran bermula didorong oleh ambisi para perancang kebijakan bidang pertanian untuk mewujudkan  kedaulatan pangan secara cepat dan tergesa-gesa guna membendung arus deras tekanan dunia internasional.

Pemerintah mendorong petani untuk menanam komoditas—boros air seperti gandum dan jagung di daerah-daerah yang secara ekologis tidak mendukung bagi perkembangan komoditas tersebut.

Untuk mempertahankan produksi, pemerintah memberikan subsidi listrik yang besar bagi pompa air tanah, yang kemudian memicu ledakan sumur bor dengan jumlah melebihi satu juta unit.

Analisis dari SpecialEurasia (November 2025) menunjukkan bahwa Iran telah mengonsumsi lebih dari 80% sumber daya air terbarukan, jauh melampaui ambang batas aman global sebesar 40%.

Eksploitasi ini mengakibatkan pengeringan akuifer permanen. Kemudian, hilangnya air tanah juga memicu land subsidence (penurunan muka tanah) yang mencapai 25–30 cm per tahun di wilayah lumbung pangan dan pinggiran Iran.

Krisis Pangan, Energi, dan Hiperinflasi

Membaca stabilitas nasional di Iran memang terjadi karena krisis pangan dan air yang pada gilirannya berhubungan erat secara langsung dengan kelumpuhan ekonomi nasional Iran.

Jatuhnya nilai Rial membuat impor teknologi irigasi modern menjadi mustahil bagi sektor swasta yang kini mulai gulung tikar. Di sisi lain, mengeringnya bendungan akibat kegagalan tata kelola air mengakibatkan produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) merosot tajam.

Kekurangan energi ini memaksa pemerintah mengambil langkah radikal dengan membakar Mazut (bahan bakar bermutu rendah) untuk mencegah pemadaman listrik total.

Langkah ini, mengutip dari berbagai laporan media internasional (Desember 2025), telah meningkatkan polusi udara ke level mematikan (AQI >200).

Rakyat Iran kini terhimpit dalam dilema, terlebih saat menghadapi lonjakan harga pangan akibat kegagalan panen dan hiperinflasi, atau menghirup udara beracun akibat krisis energi.

Ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan kebutuhan dasar—air, pangan murah, dan udara bersih—menjadi pemantik utama demonstrasi besar-besaran yang melanda Grand Bazaar hingga kota-kota lainnya.

Migrasi dan Krisis Kepercayaan

Kegagalan swasembada pangan juga memicu pergeseran demografis yang berbahaya bagi stabilitas Iran.Jutaan petani di Iran tengah terpaksa meninggalkan lahan mereka yang kini menjadi cracked desert, bermigrasi ke kota-kota pinggiran.

Para pengungsi dari dampak ekologis ini menambah beban ekonomi perkotaan dan menjadi kelompok paling vokal dalam menuntut perubahan politik.

Mengutip data dari Groundwater for Sustainable Development (Agustus 2025), kebijakan pemerintah untuk menutup sumur ilegal di tengah krisis justru dianggap sebagai tindakan represif oleh petani, bukan sebagai langkah konservasi.

Hal ini menunjukkan adanya defisit kepercayaan yang mendalam. Demonstrasi di akhir tahun 2025 bukan lagi protes tentang anjloknya ekonomi, aksi tersebut menandai akumulasi geramnya atas kegagalan pemerintah dalam mengelola sumber daya air.

Krisis yang mengguncang Iran pada tahun 2025 adalah bukti nyata bahwa kedaulatan bangsa tidak bisa dibangun di atas pengorbanan alam.

Petani Indonesia menanam padi

SUMBER: EPAKegagalan swasembada pangan telah mengubah air menjadi instrumen konflik dan mengubah tanah menjadi liabilitas infrastruktur. Stabilitas politik Iran tidak akan bisa dipulihkan hanya dengan intervensi pasar uang atau represi keamanan.

Tanpa adanya reformasi hidrologis yang radikal dan de-eskalasi geopolitik untuk mengakhiri isolasi teknologi, Iran akan terus berada dalam siklus turbulensi yang pada akhirnya akan memaksa terjadinya redefinisi total atas kontrak sosial antara rakyat dan negara.

 Rujukan Pustaka

  • Jurnal: SpecialEurasia (November 2025), “Water Scarcity in Iran: Strategic and Geopolitical Consequences.”
  • Jurnal: Groundwater for Sustainable Development (Agustus 2025), “The Failure of Groundwater Governance in Central Iran.”
  • Laporan: Organisasi Geologi Iran (Januari 2025), “National Report on Land Subsidence and Infrastructure Risks.”
  • Media: CNBC Indonesia (Desember 2025), “Mata Uang Terpuruk, Negara Arab Kaya Minyak Dihantam Demo Besar.”
  • Media: Al Jazeera (Oktober 2025), “The Mazut Crisis: Energy Desperation in an Isolated Iran.”

 

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaBankir Van Hall Dalam Perlawanan Bawah Tanah Terhadap Kolonialisme Nazi Jerman di BelandaSelanjutnyaKetahuilah: Kearifan Lokal dan Masyarakat Adat Adalah DNA dan Benteng Pertahanan Bangsa

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents