Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Kejahatan Yang Tak Mudah Direhabilitasi. Bagaimana Sikap The Strawbeery GenerationThe Strawbeery Generation?

Rusman

Rusman·24 Mei 2025·2 menit baca

Bagikan
Kejahatan Yang Tak Mudah Direhabilitasi. Bagaimana Sikap The Strawbeery Generation?

Setiba di Jakarta, Sabtu, seminggu lalu, langsung ke acara bedah buku di Bona Indah Plaza, atas ajakan Wulansary Mumun. Di sana ketemu banyak kawula muda, usia millenial, dari lapisan terbaru disebut Gen-Z. Saya manula satu-satunya yang menyelinap.

Karena lapar, belum sarapan, sebelum ke acara kami mampir lebih dulu ke Rawon Nguling. Pepakannya (kelengkapannya) oke. Ada kecambah pendek, sambal terasi, krupuk udang dan telor asin. Sayangnya, dari sisi rasa masih kurang pas. Tak apa. Setidaknya bisa mengobati kangen kampung halaman: ‘Rawon Agamaku’, seloroh kami, masyarakat Kediri – Malangan.

Alhasil kami datang agak terlambat. Ruang pertemuan di Kafe Literasi (lupa namanya) sesak oleh remaja segaya – sepenampilan, berasal dari kampus-kampus berbeda. Ada yang dari UI, UIN, UNJ dan Paramadina. Tak terkecuali, semua khusuk menyimak percakapan berdua, antara narasumber dan moderator. Topik bahasan, sesuai muatan buku yang di-launching: perubahan iklim.

Diam-diam saya membatin, “Aiiih, hebat nian teman-teman muda ini”. Dan hapuslah seketika bayangan-bayangan tentang cap ‘strawberry generation‘ yang kerap dilekatkan di jidat serta bahu-bahu mereka. Setidaknya, di ruang itu, saya tidak mandapati gambaran tentang anak muda yang lembek, kurang kemauan dan tanpa harapan. Justru sebaliknya, mereka cukup cerdas, tangkas dan bersemangat.

Lalu dari mana muasal stigma-stigma seperti itu? Sebelum ketemu jawabnya, saya jadi ingat pada masa lalu, ketika Pemerintah Orde Baru, 1972 / 1973-an, menyebut kami-kami (sekarang usia 60 – 80), sebagai generasi MADESU: Masa Depan Suram. Jinguk, mudah sekali mereka, para orang tua, itu membuat sebutan-sebutan tidak senonoh begitu? Bukankah ini kepicikan sekaligus kepongahan mereka dalam menyikapi fenomena perkembangan zaman, atau malah semacam cara melempar tanggungjawab atas kegagalan mengasuh anak-anak?

Sepanjang waktu diskusi sampai selesai acara, justru kecamuk itu yang menguasai pikiran. Republik ini nyata-nyata gagal dalam melakukan pengasuhan-pengasuhan bangsanya. Sejak 1967, berlanjut ke 1978, berlanjut sampai kini, banyak hal ingin diubah melalui penjungkurbalikan paradigma. Kita mengalami gagal paham dalam berbagai paradigma. Mudah melempar tanggungjawab kepada pihak lain. Ini masalah besarnya.

“Kita duduk bersama, sejajar, sederajat, senasib-sepenangungan, disni Dik”, ujar saya membuka percakapan di luar ruang diskusi. Di atara rintik hujan yang tidak seberapa, obrolan saya lanjutkan: “Kita disatukan oleh stigma-stigma. Hanya beda kemasan bahasa. Dulu Madesu, kini Generasi Strawberry”. Untuk memulai ulang, bagaimana menumbuhkan kesadaran-kesadaran baru tentang hal-hal yang ideal, rasanya semakin jauh panggang dari api.

“Kecuali kita mulai dari cara-cara sederhana yang kita bisa”, simpul saya ke arah Wulansari. “Melalui cara pengepungan ide-ide, inspirasi yang disediakan di ruang-ruang dan segala tempat”, tambah saya lagi. Entah bentuknya apa, realisasinya bagaimana, tidak tahu. 7 sampai 8 teman yang nimbrung semeja tampak manggut-manggut. Semoga menjadi PR yang perlu diselesaikan bersama, kapan-kapan.

Mengaku salah dan keberanian untuk mengambil tanggungjawab terhadap kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan, ini kelemahan kolektif sebagai Bangsa (Indonesia). Alih-alih ingin mengkompensasi pendidikan melalui jalur persekolahan – termasuk pesantren – secara penuh, itu pun tidak baik. Hasilnya seperti saat ini. Stigma-stigma buruk yang diproduksi sejak jaman Orba sampai Millenium, ini saya sebut sebagai kejahatan yang tidak mudah direhabilitasi dalam waktu pendek.

Joko Koentono, budayawan asal Kediri. Tinggal di Yogyakarta

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSetelah Ken Dedes Pulang Dari LeidenSelanjutnyaMengulas Buku Antologi Puisi Filsafat Imajinasi

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents