Ketika Sahabat Kecilku Mulai Beraksi

Bagikan artikel ini

Bunga Ramadani, Alumni Jurusan Ilmu HI FISIPOL Universitas Gajah Mada

“Pinang pinang pinang…..”
“Ikang ikang ikang….”

Suara anak-anak yang berkeliling desa menjajakan ikan dan pinang, adalah hal yang sangat jamak ditemui di sini. Kadang aku tidak habis pikir. Di siang bolong seperti ini, selepas jam sekolah, dengan matahari tepat berada di ubun-ubun, di saat itulah hampir semua warga desa memilih untuk tidur siang. Tapi hal ini tidak berlaku bagi sebagian besar anak-anak Adaut.

“Ibu, sebentar sore katong belajar ka seng ?”. Pertanyaan ini hampir selalu keluar dari mulut anak-anak, ketika kami berjalan pulang bersama-sama dari sekolah.

“Iyo. Os pi sudah, baganti, makan siang, tidor siang, la pi ke ibu pung rumah”.

Entah. Apa karena anak-anak memang tidak pernah mengenal lelah, di saat matahari masih begitu terik, mereka sudah datang ke rumah. Sementara aku baru saja menyelesaikan makan siang.

Anak-anak : “Ibu Bungaaaaa….ibu Bungaaaaa” *melongok di pagar depan rumah. Ada yang sudah gendong tas lagi. Ada yang masih memikul ikan untuk dijual*

*HENING*. Ibu guru sedang beribadah dan berniat untuk istirahat sejenak.

Anak-anak : “Selamat siang Ibuuuuuuuuuu…..” *teriakan bertambah keras, mulai sorong2 pagar*.

Mama : *keluar rumah, kasih marah par anak-anak*. “Heh, selamat siang nenek moyang ! Ibu guru baru sampe rumah, oz su sampe lai. Terlalu baribut ! Pi sudah !”.

Kalau Mama sudah kasih marah, biasanya anak-anak berhenti berteriak (meskipun dalam hati mereka pasti menggerutu). Sebagai gantinya, mereka akan bermain volly di rumah sebelah. Tentunya lengkap dengan suara mereka yang sangat ricuh.

Sekitar jam setengah empat sore biasanya aku sudah bersiap kembali. Belajar sore adalah belajar di alam terbuka. Belajar di tempat dimana mereka biasa bermain. Pantai pasir putih, lautan biru dengan air yang sangat jernih, kebun-kebun, dan juga hutan bakau, adalah kelas mereka. Gurunya ? Tentu saja bukan lagi aku. Anak-anak ini, mereka akan berguru pada alam.

Berdasarkan hasil observasiku selama dua bulan pertama di sini, anak-anak Adaut (most of them) adalah anak-anak dengan kecerdasan naturalis dan kinestetis yang sangat tinggi. That’s why, duduk diam di kelas berukuran kecil, lalu belajar dengan metode konvensional adalah hal yang tidak sinkron dengan kecenderungan mereka yang memang senang dengan aktivitas di luar ruangan yang melibatkan banyak gerak tubuh.

“Soreeee…..su siap belajar dan bermain lai ? Katong jalan sudah !”, dengan semangat aku mengajak mereka bergegas.

“Pi mana ya ibu ?”, salah seorang anak bertanya.

“Katong ke pantai tunggu tunggu meti, angkat bia, sambil belajar tho”, jawabku.

“Yeeeee…..” anak-anak pun bersorak.

Sore itu pasukan kecilku cukup banyak. Kebanyakan dari mereka berjalan saja tanpa alas kaki. Banyak dari mereka yang memang tidak memiliki sandal. Satu-satunya alas kaki yang dipunya hanyalah sepasang sepatu sekolah bantuan dari PNPM. Tidak heran, sandal adalah barang yang sangat disayang oleh anak-anak, dan berada pada urutan teratas di daftar barang-barang yang paling sering raib di desa.

Berjalan sore hari dengan anak-anak adalah saatnya untuk mengenal masyarakat desa lebih dekat. Sambil berjalan ke pantai, biasanya kami singgah-singgah sejenak di rumah warga. Kadang waktu-waktu ini juga aku gunakan untuk dialog dengan orang tua murid, ataupun menjenguk siswa yang sakit. Sejujurnya, kesehatan anak adalah masalah tersendiri yang juga menjadi PR besar di sini. Panjang lebarnya akan aku ceritakan di tulisanku yang lain.

Oke. Lanjut.

Sepanjang perjalanan anak-anak akan mengoceh panjang lebar, dan menanyakan bahasa Inggris dari benda-benda apapun yang mereka temui. Antusiasme mereka harus aku beri apresiasi yang sangat tinggi. Namun, beberapa anak laki-laki yang teramat sangat bertingkah, biasanya hanya mendengarkan saja sambil berusaha mencari perhatianku. Ada yang tiba-tiba melompat dan tiduran di rumput-rumput, lalu ada yang memanjat pohon kelapa. Mencuri kelapa milik warga.

Sesampainya di pantai, air masih pasang. Aku minta anak-anak untuk mengumpulkan kulit-kulit bia untuk disusun menjadi kata-kata.

Permainan susun kata cukup membantu mereka dalam belajar bahasa. Perlu untuk diketahui. Tingkat literasi anak-anak di sini masih sangat rendah. Aku yang cukup sering mengajar kelas rangkap 4, 5, 6, merasakan betul hal ini. Jangan heran kalau anak-anak kelas besar saja masih mengeja, bahkan beberapa terindikasi disleksia. Dengan keseharian mereka yang lebih sering mendengar dan mengucapkan bahasa Indonesia dalam logat dan aksen Ambon, bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah sesuatu yang mereka pelajari setengah mati.

Tidak perlu banyak ba-bi-bu, anak-anak langsung semangat mengumpulkan kulit-kulit bia. Beberapa dari mereka aku minta menulis di pasir. Dan jadilah tulisan ini.

Setelah kulit bia terkumpul, anak-anak sibuk merangkainya di atas tulisan yang sudah mereka buat. It really takes time. But they enjoy these whole activities.

Sedikit catatan. Banyak dari mereka belum bisa menulis nama negaranya sendiri dengan benar. Meskipun anak-anak ini tinggal di salah satu pulau terluar di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Australia, anak-anak ini tetaplah generasi penerus bangsa. Merekalah yang kelak akan menjadi orang-orang yang berdiri mengibarkan merah putih di beranda depan Negara ini. Itu pasti. Itulah mengapa, nasionalisme adalah hal yang selalu berusaha aku sisipkan dalam interaksi keseharianku dengan anak-anak di Pulau Selaru ini.

Sebagaimana yang sudah-sudah. Pantai-pantai di sini membuatku selalu malas untuk beranjak pergi. Tapi seiring dengan matahari yang sudah terbenam (anywaysunsetdi sini bagus banget  ), aku dan sahabat-sahabat kecilku pun bergegas pulang.

Aku berharap ada sesuatu yang mereka dapatkan sore itu. Karena aku pun juga belajar banyak dari sahabat-sahabat kecilku.

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com