Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Kurator-Kuratoran

Rusman

Rusman·11 Mei 2025·4 menit baca

Bagikan
Kurator-Kuratoran

Ada dua predikat yang ketika dilekatkan pada nama saya selalu membuat kikuk. Pertama: budayawan dan, kedua: kurator seni rupa. Saya merasa bukan keduanya. Kurang layak dan sepantasnya. Namun kali ini, ketika di dalam perhelatan KEKAINAN di Galeri + Kafe Hybridium, Bandung disebut sebagai kurator, harus diam. Karena membantah atau mengiyakan justru sama-sama akan menjadi genit dan kenes.

Sejak 2 bulan lalu, sambil terus bekerja mempersiapkan ini dan itu, suka bertanya-tanya: siapa aku, di mana aku, pantaskah disebut ‘kurator’ dan seterusnya. Sebagai orang yang mendapat didikan sesuai lingkungan budaya Jawa sudah terbiasa menghayati sebaik-baiknya suatu semboyan hidup disebut ‘empan-papan‘.

Bahwa kesadaran dasar terpenting bagi ‘orang Jawa’: bagaimana memahami kekuatan personal berikut kelemahan, peluang-peluang serta ancamannya. Mirip metode quadrant (quadrant theory) atau prinsip papatan (berpikir 4 arah/mandala pat) dan analisa SWOT. Dengan begitu, tebal atau tipis, sejak usia remaja, sudah mulai terbiasa melakukan pemetaan pribadi. Mudah paham dalam membaca bagaimana posisi (position) sekaligus mengambil posisi – menempatkan diri (positioning) di tengah percaturan apapun dan di manapun.

1995, ketika istilah kurator seni rupa belum banyak dipahami peran serta wilayah-wilayah kerjanya, saya mencetak kartu nama untuk NIMAS TERRASHOP dengan credit title: Kurator Kriya. Ini artinya, secara sadar, saya tahu diri. Paham posisi – dan tahu bagaimana harus memposisikan diri: bukan sebagai kurator seni rupa wacana (mainstream), melainkan terapan (kriya).

Di situ jelas. Sebagai kurator membutuhkan modal besar berupa pemahaman, penuh, tentang seluk beluk produk, produksi sampai pemasaran barang: berbagai bentuk serta jenis-jenis kriya. Di wilayah ini saya 1001% mantab dan yakin. Tidak demikian dengan Kurator Seni Rupa Wacana yang, meskipun memahami sisi-sisi permukaannya, yang kasat mata, tetap sadar punya banyak sisi lemah dalam mengikuti pewacanaan-pewacanaannya yang terus berkembang.

Alih-alih menghindari kegenitan dan kekenesan berlarut seperti yang saya sebut sebelumya, pilihan sikap yang saya ambil ketika Ibu Aan Andonowati, selama ini dikenal luas sebagai owner LawangWangi Creative Space dan ArtSociate, mencantumkan nama saya sebagai kurator – pada perhelatan KEKAINAN, 8 – 30 Mei 2025, boyongan 80% BENDERA – Tanpa Batas, berusaha tidak membantah.

Setidaknya begitu yang saya rasionalisasi kemudian, bahwa dari 4 cakupan kerja-kerja kuratorial, sebagaimana yang mampu saya petakan selama ini: Concept, Selection, Development dan Exhibition/Presentation, saya pilih 2 wilayah tanggungjawab (yang lebih terkuasai): yaitu aspek seleksi (selection) dan presentasi (pameran/memamerkan). Abstraksi ini pula yang pada kesempatan memberi pengantar lisan pada pameran KEKAINAN di Hybridium, Bandung, 8 Mei 2025, lebih saya tekankan.

Ya, saya memahami konsep apa yang melatari eksposisi BENDERA – Tampa Batas. Saya pula yang memilih siapa-siapa partisipan dan lain-lainnya bahkan, dalam pendekatan-pendekatan khusus, turut melakukan pengembangan ide/gagasan bersama seniman peserta. Meskipun begitu, secara pribadi, tetap lebih suka memposisi dan menyebut diri sebagai inisiator dibanding kurator. Jadi, pada kesempatan BENDERA BOYONG – telah diubah angle kuratorialnya menjadi KEKAIANAN, itu banyak hal harus saya pertimbangan. Butuh penyikapan ulang yang lebih matang. Tidak lagi sama artikulasi antara mana BENDERA dan mana KEKAINAN.

Kesepakatan dibuat. Manajemen penyelenggara menunjuk 2 Kurator. Saya bertanggungjawab menjelaskan latar konsepsi Bendera (sebagai yang lampau/dulu) dan Ganjar Gumilang meletakkan rasionalitas kuratorial KEKAINAN (pengkinian sesuai perkembangan terbarunya).

Selama ini, sebagai inisiator perhelatan, apapun aganda serta perwujudan yang kerap diupayakan lebih mengedepankan hal-hal yang berangkat dari semangat umum (common), cair, melibatkan banyak pihak kolaboratif – bukan kolektif), merangkum keberagaman, menghimpum kebersamaan dan kemeriahan pesta (festival – public affair). Kesan dan impak itu pula lah yang ingin dihadirkan, baik melalui tema Bendera di TITIKTEMU dan KEKAINAN di Hybridium, Bandung.

Mudah dimengerti mengapa dalam membuat acuan bagaimana memilih/menentukan seleksi pada prinsip kuratorial, misalnya, saya lebih nyaman untuk tidak membagi-bagi kecenderungan gaya atau cara ungkap, apalagi kelas pengalaman serta rekognisi masing-masing partisipan.

Jadilah di sini gado-gado tanpa batas – baca juga sebagai bentuk ‘ketidakteraturan’ yang coba dihimpun-satukan – dibanding presentasi umum yang serba homogen, tertib, mapan, terstandar dan serba terukur. Setidaknya, demikian melalui pilihan tema Bendera maupun KEKAINAN, kami sama-sama coba ingin melihat kemungkinan beda (ingin menemukan sisi-sisi unik karya rupa) dengan cara mengurangi peran kanvas. Selanjutnya, melalui perhelatan ini, kami ingin memberi kemungkinan lebih leluasa kepada media kain (fabric) agar lantang bicara.

…………..

He he mana ada kurator seni rupa, saat ini, yang masih kerja serabutan mulai angkat-angkat barang, membungkus karya, membawa ke paket pengiriman, melakukan instalasi karya, mengorganisasi keberangkatan sampai kepulangan partisipan, dan lain-lain?

Tidak apa. Saya suka melakukan semua hal sebagaimana seorang amatir. Bekerja penuh, in time, dengan lebih mengedepankan passion dan kecintaan dibanding sekedar ‘orang bayaran’ – maupun ‘membayar’. Dalam praktik how to-nya sering mengambil alih pekerjaan produser dalam semangat Ibu Rumah Tangga (analogi): Datang paling awal, pulang paling akhir. Sedia menjadi Tukang Cuci (membersihkan apapun yang tertinggal), Tukang Seterika (melurus – rapikan hal-hal yang kusut) dan Tukang Jahit sekaligus (penyatukan kembali yang ndredet/robek).

…………….

Djoko Kuntono, Budayawan

(Foto: Adhi Kusumo)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMengulas Buku Antologi Puisi Filsafat ImajinasiSelanjutnya(Buku) Sejarah dan Kekuasaan

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents