Masalah Besar, Jika KAA Bertentangan Dengan Dasa Sila Bandung 1955

Bagikan artikel ini

Giat Wahyudi, Ketua Dewan Pakar Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pegiat Sosial Budaya di Yayasan Pendidikan Soekarno dan Periset Arsip KAA

Jika pemerintah Jokowi sungguh akan melaksanakan TRISAKTI sebagaimana digariskan Bung Karno, maka 60 tahun Dasasila Bandung menjadi strategis untuk menggalang kekuatan dan kebersamaan negara-negara berkembang seantero Asia-Afrika, yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia memadai. Hal ini penting sekali, mengingat dewasa ini dibeberapa negara Asia dan Afrika tengah terjadi perubahan politik kekuasaan dengan cara kekerasan bersenjata yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Bandung.

Perkaranya terhadap peristiwa peringatan  60 tahun Dasasila Bandung, publik sama sekali tidak tahu, apakah perhelatan yang tengah disiapkan pemerintah via panitia yang diketuai Luhut Binsar Panjaitan sekadar peringatan saja, atawa sekaligus sebagai ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara-Negara Asia-Afrika?

Bila yang akan ditempuh adalah peringatan sekaligus konferensi, berarti kita melakukan Konferensi Asia-Afrika (KA-A) ketiga. Pernyataan ini perlu diketahui publik, sebab KTT Negara-Negara Asia-Afrika yang diselenggarakan sekarang tidak boleh terputus dengan KA-A pertama di Bandung dan KA-A kedua yang akan dilaksanakan di Aljajair tahun 1965, tetapi tidak terselenggara karena terjadi kudeta di sana, kemudian dipindah ke Kairo-Mesir. Hal lain yang perlu dikritisi pada peringatan KA-A kali ini, terpampangnya poster Nelson Mandela di Sentero Bandung, padahal Nelson Mandela bukan peserta KA-A 1955.

Kalau KTT Negara-Negara Asia-Afrika yang kini tengah disiapkan tidak dinyatakan sebagai KA-A ketiga, berarti ada upaya terorganisir melalui institusi pemerintah untuk memanipulasi dan menggelapkan visi-misi dan sejarah Dasasila Bandung. Akan hal itu Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia perlu membuat pernyataan resmi agar khalayak menjadi mafhum.

Sebagaimana dinyatakan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kepada wartawan beberapa waktu lalu, bahwa ada tiga agenda yang akan dibahas dalam KTT-Asia-Afrika di Bandung pada 18 – 24 April 2015 mendatang, yaitu: 1. Perumusan misi Bandung, 2. Perumusan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya, 3. Kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara Asia-Afrika.

Pernyataannya, poin-poin apa saja yang telah disiapkan untuk diajukan dan dirumuskan pada KTT Asia-Afrika 18 – 24 April 2015 di Bandung mendatang, sehubungan dengan tiga agenda yang telah disiarkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Menjadi masalah besar bila kesempatakan yang dirumuskan bertentangan dengan Dasasila Bandung. Apalagi jika Misi Bandung dirumuskan untuk mengganti kedudukan Dasasila Bandung yang mungkin  dianggap kedaluarsa.  Hal ini perlu dicermati, pada 8 – 9 April 2015 Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membuka seminar di Universitas Gajah Mada-Yogyakarta, bertajuk: Bandung Conference and Beyond 2015 yang tertutup untuk wartawan. Bukan mustahil hasil seminar ini menjadi rujukan Misi Bandung? Jika hal ini terjadi, anekdot aktivis Bandung bahwa Dasasila Bandung akan diubah menjadi “Dasasila Yogya” dalam rupa Misi Bandung, bukan isapan jempol!

Sebaliknya menjadi sangat strategis bila yang dirumuskan merupakan implementasi dari Dasasila Bandung sebagai upaya merespon perkembangan geo-politik, geo-ekonomi,  dan geo-strategis dalam peta hubungan internasional dewasa ini. Di sini kita tidak boleh lengah, meski Blok Timur bangkrut, namun neo-kolonialisme-neo-imperialisme belum gulung tikar, sebaliknya semakin merajalela.

Berbanding lurus dengan hal itu, yakni munculnya perubahan politik kekuasaan di Irak, Tunisia, Mesir, Libya, Suriah, Yaman – yang bersimbah darah sarat kekerasan bersenjata; peseteruan di Afganistan, pemberontakan Macan dan Elang Tamil yang terus menghantui Srilanka, dan ketegangan antara Piliphina dan Malaysia, sudah saatnya dibahas dalam 60 tahun KA-A.  Maka layak dibentuk Komisi Perdamaian, Komisi Kemanusiaan dan Komisi Anti Teroris dan Narkoba untuk menangkal gerakan terorisme sebagai ISIS dan kejatahan Trans-Internasional mafia Narkoba.

Demikian KA-A dengan Dasasila Bandung harus implementatif, transformatif, dan inkuslif –agar mampu menyelesaikan perkara politik, ekonomi, keamanan, sosial budaya yang membelit seantero negara-negara Asia-Afrika dengan berpokok pada kedaulatan, keberagaman, kebersamaan dan perdamaian dunia.[]

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com