Melacak “The Soeharto – CIA Connection”

Bagikan artikel ini

Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Catatan Penulis: Memperingati 30 September 1965, berikut sebuah artikel yang saya tulis, ketika bersama-sama dengan tim redaksi Tabloid Detak pada 1998 melakukan investigasi mengungkap apa yang terjadi sesungguhnya di balik tragedi yang pada akhirnya bermuara pada kejatuhan Presiden Pertama RI Bung Karno. 

Berikut paparan selengkapnya yang saya tulis pada 29 September 1998 di mingguan Tabloid Detak. Dan atas prakarsa dari AS Laksana, salah seorang tim investigasi Detak, lantas membukukan hasil investigasi tersebut yang bertajuk:“Siapa Sebenarnya Suharto, Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-S PKI”, Eros Djarot, dkk, terbitan Media Kita.”

“Salah satu plan ialah untuk membunuh beberapa pemimpin Indonesia. Sukarno, Yani, Subandrio. Itu yang pertama-tama om zee gebrahct. Harus dibunuh. Malah kalau bisa sebelum konperensi Aljazair. Deze drie beihamer harus dibunuh. Sukarno, Yani, Subandirio. Wij weten het. Kita tahu.”

(Amanat Bung Karno di depan Rapat Panglima TNI AD, 28 Mei 1965).

Siapa sebenarnya Suharto? Pertanyaan semacam itu rasa-rasanya layak untuk diajukan, kalau mau menguak lebih jauh teka-teki peristiwa G-30S 1965. Dari berbagai hipotesis dan analisis, terungkap ada beberapa keanehan. Misalnya, tiga orang penggerak G-30S (Latief, Untung, Soepardjo), oleh banyak kalangan dikenal sebagai orang orang dekat Suharto. Bahkan, dari cerita seputar kedekatan Suharto dengan Untung-Latief-Soepardjo dalam berbagai peristiwa di masa lalu, tergambarkan adanya hubungan yang tidak sebatas atasan dan bawahan saja.

Lebih dari itu, terkesan adanya hubungan “perkoncoan yang terjalin cukup erat”. Tak berlebihan bila kemudian berkembang anggapan, jangan-jangan baik penggerak maupun penumpas G-30 S dimotori oleh orang orang yang sama. The Suharto Connection. Dengan kata lain, baik penggerak G-30 S maupun kontra G-30 S merupakan suatu tatanan tunggal alias subordinasi dua faksi di bawah komando Suharto.

Itu keanehan yang pertama, Keanehan kedua, ternyata satu kompi batalyon 454/Diponegoro, Jawa Tengah dan satu kompi batalyon 530/Brawijaya Jawa Timur, yang secara terselubung digunakan Suharto sebagai penggerak G-30 S, ternyata merupakan pasukan raider elite yang menerima bantuan Amerika sejak 1962.

Lebih dari itu, para penggerak Gestapu itu sendiri ternyata pernah dilatih di AS. Brigjen Soepardjo, misalnya, pernah mengenyam pendidikan di Fort Bragg dan Okinawa, Jepang. Begitu juga dengan Untung dan Latief. Suherman, pemimpin Gestapu di Jawa Tengah, ternyata juga pernah dilatih di Fort Leavenworth dan Okinawa, Jepang.

Ini menarik. Sebab, dalam tradisi yang dikembangkan di Pentagon, setiap orang asing yang mengikuti pelatihan tersebut, merupakan orang orang yang telah melewati seleksi ketat dinas intelijen Amerika. Karenanya cukup mengejutkan bahwa ketiga penggerak utama G-30S itu ternyata kader komunis.

Namun, di mata seorang sumber yang pernah dibina langsung oleh CIA, hal semacam itu bisa saja terjadi. Ada beberapa pola perekrutan yang lazim dilakukan oleh CIA. Pertama, beberapa orang direkrut dan dibina dengan maksud untuk dijadikan bagian langsung dari organ CIA. Kedua, ada orang yang direkrut semata-mata untuk tujuan temporer. Dan ketiga, boleh jadi orang yang direkrut tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan untuk tujuan tujuan dan kepentingan kepentingan tertentu.

Dengan jalan berpikir seperti itu, bukan tidak mungkin Untung-Latief-Soepardjo secara sadar diterima dalam jaringan CIA justru untuk digunakan sebagai penunjang skenario besar CIA menggulingkan Bung Karno, sekaligus menghancurkan PKI.

Soalnya sekarang, jika penggerak dan penumpas G-30 S ternyata merupakan satu tatanan tunggal alias subordinasi dua faksi di bawah komando Suharto, wajar kalau ada pertanyaan seputar seberapa jauh Suharto menjalin kerjasama dengan CIA. Ada beberapa teori yang bisa menjelaskan kemungkinan semacam itu. Peter Dale Scott, misalnya pernah mencoba mengurai benang kusut G-30 S(lihat The US and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967).

Dengan asumsi Suharto adalah dalang G-30 S, Scott mencoba membuktikan keterlibatan Suharto melalui adanya operasi intelijen CIA untuk menggarap para alumnus SESKOAD sejak 1950-an. Menurut teman Scott, para alumnus SESKOAD itu pada perkembangannya telah digunakan oleh CIA untuk menunjang gerakan militer Suharto.

Meski baru sebuah kemungkinan, rasa-rasanya masuk akal juga. Sebelumnya, CIA gagal total mensponsori pemberontakan PRRI/PERMESTA 1958. Setelah itu, Amerika mulai menggalakkan suatu program bantuan militer kepada Indonesia. Kabarnya, sempat mencapai senilai 20 juta dolar Amerika per tahun. Bukan itu saja. Atas biaya CIA, sekelompok kecil peneliti akademisi AS yang dimotori oleh Dr Guy Pauker mulai mengadakan kontak-kontak secara terbuka dengan pihak angkatan darat. Tujuannya, menggalang kekuatan anti komunis di Indonesia. Salah satu kawan dekat Pauker di angkatan darat adalah Wakil Komandan SSKAD (Sekarang SESKOAD), Jendral Suwarto, seorang perwira lulusan AS.

Sementara itu pada 1959, Suharto yang waktu itu masih berpangkat kolonel, mulai masuk SSKAD. Mulanya ini bukan pengalaman yang menyenangkan buat Suharto. Betapa tidak. Antara 1956-59, Suharto menjabat Pangdam Diponegoro. Namun, pada perkembangannya, Nasution melihat adanya indikasi keterlibatan Suharto dalam tindak korupsi dan penyelundupan.

Alhasil Suharto dicopot dari jabatannya. Bahkan, Suharto hampir dipecat sebagai tentara. Untungnya, Jendral Gatot Subroto turun tangan sehingga Suharto selamat dari pemecatan. Sebagai gantinya, dia dikirim ke SESKOAD untuk tugas belajar.

Di situlah kontak intensif Suwarto-Suharto bermula. Maka sejak itu Suwarto mulai membina Suharto secara terus-menerus. Dalam berbagai kesempatan, dilibatkan oleh Suwarto dalam penyusunan Doktrin Perang Wilayah dan Operasi Karya. Operasi Karya yang dapat bantuan penuh dari Amerika melalui suatu program yang disebut MILTAG (Military Training and Advisory Group-Penasehat Latihan Militer).

Operasi Karya, resminya merupakan proyek-proyek sipil memperbaiki saluran, memperbaiki sawah baru, serta membangun jembatan dan jalan. Tapi, operasi ini sebenarnya merupakan operasi terselubung untuk membangun kontak-kontak dengan unsur-unsur anti-komunis dalam angkatan darat beserta organisasi wilayahnya.

Jadi, Suharto memang tidak pernah belajar di Amerika. Namun kedekatannya dengan Suwarto dan para intelektual antikomunis dalam operasi karya, besar kemungkinan telah menempatkan Suharto seirama dengan skenario besar CIA untuk mendongkel Bung Knaro seraya menghancurkan keberadaan PKI.

Kalau begitu, sejak awal G-30 S dan kontra G-30S pada 1 Oktober, sejak awal memang bermaksud memunculkan Suharto. Pertanyaannya, mengapa harus Suharto? Bisa jadi Suharto sudah diamati Amerika dan CIA sejak 1959.

Kembali ke dua batalyon yang saya sebut di atas, terbukti bahwa baik untuk peggerak G-30S maupun penumpasan, Suharto membelah komando jadi dua faksi. Untuk gerakan 30 September, Suharto menggerakkan komandan batalyon. Sedangkan untuk menumpas 30 September, Suharto menggerakkan wakil komandan batalyonnya untuk menumpas atasannya langsung yang telah melakukan gerakan 30 S. Padahal sumber perintah datangnya dari satu orang yang sama: Suharto.

Belakangan, melalui investigasi seputar Surat Perintah 11 Maret 1966, terungkap kesaksian kapten Sukarbi, mantan Wakil Komandan Batalyon 530/Brawijaya Jawa Timur, bahwa Suharto selaku Pangkostrad waktu itu, mengeluarkan SK perintah untuk mengambil oper komando Mayor Bambang Supeno sebagai Komandan Batalyon dengan dalih telah terlibat dalam gerakan 30 September.

Beberapa indikasi lain juga memperkuat sinyalemen tersebut. Beberpaa bulan menjelang meletusnya gerkaan 30 September, beberapa veteran PRRI/PERMESTA di bawah pimpinan Yan Walandouw berkunjung ke Washington untuk meminta dukungan Amerika agar Suharto bisa jadi presiden, menggantikakan Bung Karno.Yan Walandouw, Willy Pesik, serta Daan Mogot punya kontak khusus dengan Ali Murtopo, orang dekat Suharto di Kostrad. Dan bahkan jangan lupa, dengan Ekonom Sumitro Djojohadikusumo, yang kelak sejak 1967, berperan penting dalam konferensi ekonomi di Swiss, yang digelar oleh David Rockefeller. Yang kemudian memberi jalan bagi PT Freeport McMoran untuk kembali menanamkan pengaruhnya di Indonesia, menyusul kebijakan nasionalisasi perusahaan asing oleh Bung Karno. Konferensi Swiss yang dari Indonesia dimotori oleh Soemitro dan Ibnu Sutowo, akhirnya keluarlah Undang-Undang Penanaman Modal Asing sebagai payung bagi invasi perusahaan-perusahaan asing di ranah ekonomi Indonesia.

Dengan demikian, Gerakan 30 September 1965 sejatinya adalah gerakan menyingkirkan Jenderal Ahmad Yani, dan para pendukungnya di angkatan darat,yang dianggap setia kepada Bung Karno. Sehingga membuka pintu masuk bagi Suharto untuk merebut kekuasaan secara bertahap (Creeping Coup).

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com